DPR merupakan singkatan dari Dewan Perwakilan Rakyat. DPR memegang peranan penting dalam kehidupan politik. DPR memiliki tiga fungsi, yaitu fungsi legislasi, fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan. Di dalam tiga fungsi tersebut, DPR lebih cenderung memiliki wewenang dalam penyusunan Undang Undang.

DPR lebih dikenal sebagai penyalur aspirasi masyarakat. DPR berjumlah 560 orang. Dengan jumlah yang sebanyak ini, tentu masyarakat Indonesia berharap segala aspirasi dan keluhan keluhan yang dilontarkan dapat diterima baik oleh DPR dan disalurkan ke pihak yang lebih berwenang.

Tidak hanya tugas dan wewenang yang membengkak, ternyata rekening para anggota DPR juga ikut membengkak. Mengapa demikian? Karena pendapatan anggota DPR  yang cukup tinggi. Hal inilah yang menjadi pertimbangan banyak orang untuk duduk di kursi DPR.

Orang yang tidak mengenal politik pun memiliki keinginan yang besar agar bisa duduk di kursi hangat yang hanya boleh ditempati oleh orang orang yang telah sah menjadi anggota DPR. Lalu timbul pertanyaan, apakah orang orang yang memiliki tekad yang kuat ini benar benar ingin mengemban tugas untuk rakyat?

Semakin banyak pula jawaban dan pendapat pendapat yang beredar. Sebagian orang mengatakan bahwa orang-orang yang berusaha menjadi anggota DPR memang karena berkeinginan untuk menyalurkan setiap aspirasi masyarakat Indonesia. Sebagian orang juga mengatakan bahwa orang-orang yang berkeinginan kuat untuk menjadi anggota DPR hanya karena tergiur akan pundi-pundi rupiah yang dihasilkan hanya dengan duduk manis di kursi DPR.

Dari dua sudut pandang tentang DPR tersebut, tentu kita bisa melihat pendapat mana yang lebih dominan yang terjadi di Indonesia. Tentu pendapat yang kedua, bukan? Jika kita melihat surat kabar ataupun menatap layar kaca di rumah kita, tentu banyak berita tentang kinerja-kinerja para anggota DPR yang semakin menurun.

Sebenarnya bukan menurun, tetapi tekad awal mereka bukanlah untuk menjadi DPR yang sanggup dibebani oleh segudang tugas dan tanggung jawab untuk masyarakat. Jadi setelah mereka berhak duduk di kursi DPR, mereka menjadi enggan untuk dibebani oleh tugas yang mungkin mereka anggap tidak penting.

Mereka berusaha untuk menduduki kekuasaan tersebut. Sehingga dari kekuasaan ini terjadilah stratifikasi sosial yang menyebabkan orang-orang yang duduk di kursi DPR menganggap bahwa dirinya memiliki kekuasaan atas orang orang yang ada di bawahnya.

Kekuasaan yang diembannya menjadi sarana adu gengsi dengan anggota anggota DPR yang lainnya. Lalu mereka lupa dengan fungsi mereka yang duduk di kursi DPR. Jadi, kinerja mereka seolah-olah menurun, padahal boleh dikatakan tidak ada kinerja yang dihasilkan.

Pengeluaran negara semakin meningkat dengan adanya anggota DPR. Negara harus membayar gaji para anggota DPR, belum lagi tunjangan tunjangan yang harus diberikan. Tidak cukup sampai di situ, anggota DPR juga memerlukan fasilitas gedung yang nyaman agar mereka concern untuk melakukan tugasnya.

Jika melihat dari sudut pandang yang satu, mengapa anggota DPR difasilitasi dengan hal hal yang membuat rupiah negara semakin terkuras? Jika melihat dari sudut pandang yang lain, kita bisa menilai bahwa itu adalah hal yang wajar karena tugas mereka juga berat. Jadi tidak masalah mereka mendapat rupiah yang bernilai besar juga.

Bagaimana tanggapan kita sebagai masyarakat Indonesia? Apakah kita melihat kinerja-kinerja para anggota DPR sudah terbukti dan kita rasakan? Atau kita justru melihat kinerja-kinerja para anggota DPR yang semakin menurun atau bahkan tidak terealisasi?

Sebagai masyarakat Indonesia, kita berhak berpendapat mengenai kinerja para anggota DPR karena DPR-lah yang sanggup menyalurkan segala aspirasi kita. Kita harus terus memantau kinerja para anggota DPR, jangan sampai kendor.

Tetapi bagaimana keadaan yang terjadi di Indonesia? Para anggota DPR semakin kaya dan rakyat semakin miskin. Benar, bukan? Banyak anggota DPR yang melakukan korupsi dan mencuri uang rakyat. Dan yang bikin heran adalah mereka bangga melakukannya.

Ketika memakai rompi berwarna orange dan ditemani oleh KPK pun mereka masih percaya diri untuk mengunjuk gigi. Lalu di mana rasa bersalah mereka? Apa mereka masih kurang dengan segala fasilitas dan rekening yang membengkak yang diberikan oleh negara?

Apa mereka tidak malu memakan uang rakyat yang mempercayai mereka untuk menjadi pemimpin yang baik? Bahkan di dalam penjara pun mereka masih bisa hidup enak. Di mana keadilan hukum di Indonesia?

Anggota DPR yang dipilih oleh rakyat dan diharapkan bekerja untuk rakyat, tidak bisa merealisasikan janji janji manis yang telah dikatakannya pada saat kampanye. Kata kata mereka hanya seperti bualan untuk merayu masyarakat agar dapat mendongkrak naik popularitas mereka.

Lantas, jika sudah seperti ini, apakah DPR masih dibutuhkan oleh rakyat? Apakah masih ada anggota DPR yang mampu bekerja tulus untuk rakyat? Apakah ada anggota DPR yang mempunyai rasa malu untuk memakan habis uang rakyat?

Sebagai masyarakat, tentu kita memiliki tanggapan tanggapan yang berbeda-beda mengenai pertanyaan tersebut. Apa pun tanggapan kita, usahakan agar kita mampu menanggapi secara kritis dan tidak berkata semena-mena.

Jika menurut kita DPR masih diperlukan, bagaimana cara agar janji DPR dapat terealisasikan dengan baik? Jika menurut kita DPR tidak dibutuhkan lagi, lalu siapa yang akan menggantikan peran anggota DPR?