Nyaris semua hal di dunia ini adalah misteri, yang sebagian dapat dipecahkan dan sebagian yang lain harus direlakan untuk tetap menjadi misteri. Agar pengetahuan tidak berhenti dan agar Tuhan tetap memiliki para pencari. Sebab, apa asiknya jika misteri jadi begitu mudah ditemukan, dan semua manusia tiba-tiba menjadi satu pandangan?

Tuhan telah benar membuat dunia tidak satu warna. Pun Dia telah benar membuat alam pikiran benar-benar menjadi begitu rahasia.

Alam pikiran itu, adalah alasan yang membuat saya yakin untuk tetap mempercayai adanya Tuhan. Tuhan di sini, Tuhan di sana. Bagi saya, kebenaran mutlak mengenai Tuhan hanya dapat dijawab oleh orang yang telah mati, atau yang telah memiliki pengalaman intuisi.

Alam pikiran yang tak sanggup terbatas itu, jikalau atheis menertawakan theis karenanya, biarlah Tuhan tetap bersemayam di sana. Sebab, dalam konsep keterbatasan maupun ketakterbatasan, logika selalu mampu menghadirkan konsep Tuhan. Ada logika yang tak tertampung oleh banyaknya pertanyaan di dalam pikiran, seandainya Tuhan atau konsep pencipta itu tidak ada. Bukankah sifat kebenaran sains adalah kebenaran yang sementara sampai muncul kebenaran baru yang membuatnya menjadi salah?

Atheis barangkali terburu-buru berhenti menemukan Tuhan, sedang seorang theis yang memilih agama, (seharusnya) terus mencari jawaban dari “hal-hal yang perlu dipertanyakan” dari ajaran agamanya dengan logikanya, bukan terbatas pada sikap menerima. Bukankah yang baik tidak dapat terletak dalam pertanyaannya sendiri, melainkan harus dalam jawaban?

Membuat pertanyaan dan prasangka amatlah mudah, tetapi pembuktian sebagai jawaban memerlukan waktu dan ilmu pengetahuan. Di situlah, theis perlu memiliki logika yang lebih canggih daripada atheis.

Apakah Tuhan itu ada?

Ada satu pertanyaan yang perlu dijawab sebelum menjawab semua pertanyaan mengenai Tuhan, yaitu, dari mana pengetahuan mengenai Tuhan itu berasal?

Jika seorang anak lahir, kemudian besar tanpa mengenal kitab suci atau kisah-kisah mengenai Nabi yang mengatakan adanya Tuhan, dari mana ia mendapatkan pengetahuan tentang Tuhan? Apakah ia, secara naluri, akan mencari bentuk Tuhan? Atau, ia tidak berhasil menciptakan bentuk Tuhan dalam alam pikirannya? Jika ia kemudian bertanya dari mana asalnya sebagai manusia, konsep pencipta yang seperti apa yang berhasil diciptakannya dalam alam pikiran?

Apakah ia memahami Tuhan yang dipahami oleh para theis dengan bantuan konstruk yang telah mapan? Atau justru menemukan Tuhan dalam bentuk baru?

Bagi saya, Tuhan eksis dalam keragaman pikiran milyaran orang. Tuhan eksis dalam filsafat penciptaan, dalam alam semesta yang terkesan tidak ada ujungnya, dalam berbagai hukum alam yang menakjubkan, dalam waktu kreatif, dan dalam makna filosofis yang perlu direnungkan dari masing-masing kitab kepercayaan.

Seorang theis, perlu menemukan Tuhannya dalam perenungannya. Memahami mengapa ia memutuskan mempercayai keberadaan Tuhan, dan mengasah logika untuk dapat menemukan Tuhan melalui akalnya.

Bagi saya, Tuhan dapat dipahami melalui logika filosofis, baru kemudian batin selesai dalam putusan meyakininya. Sebab, saya tak punya pengalaman intuisi untuk langsung sampai ke sana.

Mengenai Akal dan Intuisi

Apakah semua pengetahuan intuisi dapat diterima oleh akal? Terlebih, pengalaman intuisi orang lain, dimana kita tak memiliki pengalaman itu sehingga kita tidak memiliki pengalaman akal untuk menerima pengetahuan intuisi?

Atheis tidak menerima pengetahuan intuisi orang lain sebab akal mereka tidak mengenalinya berdasarkan empirisme sendiri. Ini hal yang wajar, karena mereka memang tidak memiliki pengalaman intuisi. Lalu bagaimana dengan theis yang tidak memiliki pengalaman intuisi? Mengapa mereka pada akhirnya memutuskan untuk menerima pengalaman intuisi orang lain? Padahal, pengetahuan akalnya jelas asing dengan pengalaman intuisi tersebut.

Berkenaan dengan hal ini, saya adalah theis yang menerima pengalaman intuisi orang lain. Bukan tanpa pertimbangan, tetapi dengan menggunakan pendekatan akal, saya selalu dapat menemukan Tuhan. Tuhan yang dimaksud Ibrahim, Tuhan yang dimaksud Musa, Tuhan yang dimaksud Isa, dan Tuhan yang dimaksud Muhammad.

Saya beriman pada Tuhan yang "unik", Tuhan yang tidak bermain dadu, Tuhan yang tidak membuat kebetulan-kebetulan, dan tentu, Tuhan yang menciptakan hukum alam.

Pengetahuan dan Pengalaman

Saya mempercayai bahwa akal dan intusi berasal dari sumber yang sama, tetapi saya memutuskan untuk memisahkan keduanya. Akal berpegang pada kebenaran secara sepotong-sepotong, sementara intuisi cenderung memegang kebenaran secara penuh. Dalam hal ini, saya menyetujui Henri Bergson yang meyakini bahwa intuisi adalah akal yang lebih tinggi.

Akal dikatakan banyak filsuf bersifat terbatas, tetapi yang perlu ditekankan adalah, kita tidak tau sampai mana batas akal itu. Akal pada dasarnya tidak sanggup terbatas dan tidak bisa terkungkung dalam lingkaran sempit dari dirinya sendiri. Jadi menurut saya, satu-satunya batas akal adalah pengalamannya akan pengetahuan.

Sebagai contoh, seseorang yang telah membaca 100 buku memberikan pengalaman kepada akalnya cara berpikir dan pengetahuan dari 100 buku. Sedangkan yang tidak membaca, tentu tak memiliki pengalaman pengetahuan itu.

Hal yang sama terjadi pada pengalaman intuisi. Seseorang tak akan mendapat pengetahuan intuisi seperti orang yang telah mendapatkan pengalaman intuisi. Sayangnya, disiplin ilmu mana yang cukup memadai untuk dapat membuktikan pengalaman intuisi? Intuisi adalah ruang paling halus untuk dapat dihakimi. Dan saya tidak mau terjebak menurunkan agama menjadi suatu sistem pemahaman yang semata-mata masuk akal. Sebab, akal siapa yang bisa saya jadikan pijakan sebagai akal yang paling benar dan akal yang paling berpengalaman?

Kesimpulan…

Apa fungsi dari pengetahuan itu? Bagi saya, pengetahuan mendapatkan eksistensinya ketika ia membawa kebaikan dan kebijakan bagi peradaban. Ibn Rusyd, “Kebenaran tertinggi selalu bersifat filosofis”.

Theis atau atheis, bagi saya itu pilihan masin-masing yang perlu dihormati. Theis harus menghargai pilihan atheis dengan tidak merendahkan moral mereka, dan atheis harus menghargai pilihan theis dengan tidak merendahkan logika dan bagaimana pun cara mereka beribadah.

Untuk apa diskursus yang menganggap yang lain lebih buruk atau lebih bodoh? Yang penting adalah, theis memahami pilihannya menjadi theis, dan atheis memahami pilihannya menjadi atheis.

Agama tidak untuk membatasi pemikiran dan sains, apalagi menghambat peradaban yang tidak mungkin bergerak mundur. Ia berfungsi membedakan kebaikan dengan keburukan, yang tentunya, semua yang beragama perlu untuk tidak asing dengan alasan-alasan kebaikan dan keburukannya.