Media komunikasi dan informasi merupakan bagian penting dari sendi kehidupan manusia. Ia yang menemani tumbuh dan berkembangnya peradaban ini.

Media memiliki kemampuan "subminal" dalam memengaruhi suatu massa yang besar untuk melakukan tindakan yang besar dengan pengaruh yang besar dalam kecepatan suara.

Indonesia telah menjadi saksi betapa besarnya kekuatan dan pengaruh suatu media yang memang terbilang sangat superior dalam perannya di masa-masa awal kemerdekaan. Pada masa itu, stasiun RRI dan dokumentasi dari TVRI-lah yang sangat berjasa hingga informasi kemerdekaan dapat tersebar ke pelosok negeri dan sejarahnya dapat kita saksikan saat ini.

Dari era radio yang menemani kita menikmati musik-musik yang lagi digandrungi anak muda, koran pagi yang menemani secangkir kopi, era televisi yang menjadi hiburan utama di setiap rumah, hingga memasuki era digital yang segala informasi apa pun dapat kita temui.

Semakin modern suatu zaman ditandai dengan semakin mudahnya suatu media untuk diakses. Dan kehadiran sosial media saat ini seakan mengubah semua orang menjadi jurnalis. 

Itu artinya, informasi setidak penting apa pun, setidak jelas apa pun asal-usulnya, dapat menjadi headline dan berita di mana-mana. Dalam hal ini, kita masuk ke ranah berita palsu atau bahasa trendy-nya sekarang, "hoaks".

Untuk media sosial, memang hanya kecerdasaan dan kedewaasaan kita media sosiallah yang menjadi filter informasi-informasi bohong agar tidak tertelan mentah-mentah dan tidak semakin menyebar ke khalayak. Tapi untuk media yang memiliki direksi yang jelas seperti koran, majalah, atau televisi, seharusnya kita tidak perlu ragu untuk mencerna informasi tersebut sebab semestinya sudah ada uji kevalidan informasi yang ingin disajikan sebelum menjadi konsumsi khalayak ramai. 

Selain dari perusahaan media itu sendiri, pemerintah juga memiliki filternya sendiri yang kita kenal sebagai KPI atau dewan pers.

Tebal dan berlapisnya filter ini tentu semestinya membuat kita merasa aman dan tenang dalam mencerna informasi yang media berikan. Tetapi tetap saja kecerdasaan dan kedewaasaan sangat dibutuhkan jika Anda ingin hidup tenang di negeri ini.

Ada istilah yang saya analogikan sebagai "Berita Kilat", yaitu berita mengejutkan, yang secara konten pasti menarik perhatian yang besar dan harus disiarkan secepat mungkin sebelum terlanjur "over-used" oleh media lain. Sebab memang di dalam masyarakat ada stigma bahwa media informasi yang terbaik adalah yang menyampaikan informasi paling cepat. 

Kejar-kejaran title dan rating inilah yang menyebabkan segala bentuk validasi informasi dilewatkan begitu saja. Memang tidak semua media, tetapi kembali lagi kecerdasan dan kedewasaan kita sebagai penikmat kembali diuji.

Kembali topik utama, kemampuan luar biasa dari media ini bahkan membuahkan suatu istilah bahwa "Siapa yang menguasai media , dialah yang berkuasa". Sebab kemampuan suatu media tidak hanya sebatas menyampaikan informasi dan hiburan, namun juga dapat membentuk suatu citra dan sudut pandang seseorang serta menanamkan empati-empati tersendiri kepada penonton.

Tidak perlu tampaknya kita sebutkan media-media tersebut. Saya rasa masyarakat telah hafal dan jengah dengan perilaku media yang tidak berimbang dalam menyampaikan informasi dan hanya menyajikan dalam sudut padang suatu kubu tertentu. 

Memang permainannya begitu cantik dan hati-hati. Namun, jika dengan pola yang sama secara berulang-ulang, masyarakat awam pun pasti paham dan mengubah perspektif yang diharapkan positif menjadi penuh kecurigaan dan pencitraan.

Media terutama televisi jadi terlihat sebagai "alat" elite politik dalam mendulang dukungan dan menjatuhkan lawan main secara indah namun tetap busuk.

Sulit menemui media yang berimbang dan netral, apalagi di detik-detik menuju pesta demokrasi terbesar di negeri ini. Semua berlomba menjadi buzzer-buzzer elite tertentu demi mendapatkan apa yang tidak pasti mereka dapatkan di dunia yang fana ini.

Tidak salah menjadi media sebagai ranah mencari pundi-pundi kekayaan atau tahta. Namun, jika sudah berhubungan dengan proses pemutarbalikkan fakta, pemaksaan untuk menerima suatu opini, serta menghinakan suatu pendapat menjadi yang paling salah.

Kita tahu dari mana inspirasi Indonesia mengadopsi cara kampanye kotor yang sedang menyebar di negeri kita ini. Ya, hak kebebasan berpendapat yang berkembang pesat di Barat. 

Tentu tidak salah mengingat kita adalah negara demokrasi yang menjunjung tinggi pendapat dalam menghalau ketetapan pemimpin yang semena-mena, namun kita punya pembeda yang membuat tidak bisa menelan paham Barat ini mentah-mentah mengingat Indonesia juga menekankan norma-norma dalam sendi-sendi kehidupannya. Norma-norma inilah yang menjadi pembatas dan pemfilter pendapat dan cara pencekokannya di masyarakat.

Pola yang dilakukan media untuk menyeret opini juga beragam dalam usaha memenangkan elite yang telah memberi modal padanya. Jika di awal-awal muncul, media mulai coba-coba dengan black campaign. Black campaign dilarang, sekarang mulai menjalar ke negative campaign. Tidak salah, namun disayangkan untuk dilakukan.

Media pun rasanya terlihat senang sekali dengan drama, mempertemukan kedua belah pihak yang berseberangan; tidak untuk didamaikan, tapi malah diberikan ring untuk saling baku hantam.

Media sering berkilah bahwa semua itu mereka lakukan atas dasar hasrat para penonton kebanyakan. Artinya, permintaan penontonlah yang membentuk wajah media kita.

Tapi bukankah media hanya memilah permintaan yang ingin mereka dengar dan lakukan dan hasilnya tayangan yang tidak hanya menyenangkan orang yang memang menginginkannya tapi juga menghipnotis pandangan orang yang awalnya berseberangan atau tak berpihak sama sekali?