Waktu kecil, saya berlari ke tanah lapang dan meniup-niup pesawat kertas lalu menerbangkannya ke langit. Saya berlari ke sungai untuk kemudian bertepuk tangan melihat perahu kertas buatan saya bergoyang-goyang di arus air. Menyenangkan sekali. Kertas bisa dibentuk menyerupai bintang, mawar, kodok, dan kepiting. Bahkan, Akira Yoshizawa, seorang master origami, sebagaimana dilansir Amusing Planet, mengaku telah menciptakan 50.000 model lipatan kertas. Itu membawa Yoshizawa dianugerahi penghargaan tertinggi dari kaisar Jepang Hiroto pada tahun 1983.

Kertas berperan dalam masa kecil saya yang menyenangkan. Masa sekarang juga demikian. Saya sering membawa dua buku catatan di tas. Satu saya gunakan untuk menulis ide-ide—yang kadang tiba-tiba melintas di pikiran. Satu lagi saya gunakan untuk menulis agenda harian. Karena menggunakan kertas, saya dengan mudah mencoret atau menambahkan cacatan kecil pada catatan yang lain. Saya jadi mudah melipat halaman sebagai penanda bagi catatan-catatan yang harus segera saya selesaikan. Di buku catatan yang lain, kertas jadi seperti langit dalam salah satu puisi Aan Mansyur, lapang dan bisa saya isi dengan segala yang tidak saya punya.

Peran kertas tidak sampai di diri saya sendiri. Setelah disusun sedemikian rupa dan ditumpuk jadi buku, kertas jadi punya peran penting lain. Ia bisa jadi medium pengantar gagasan, dan mampu mengingatkan banyak peristiwa kepada pembaca. Fernando Baez dalam bukunya, Penghancuran Buku dari Masa ke Masa, menyatakan bahwa bukulah yang memberi wadah bagi ingatan manusiaPada halaman lain di buku itu, Baez menegaskan peran kertas dengan menyatakan bahwa sebuah perpustakaan, arsip, atau museum adalah warisan budaya dan semua bangsa memandang itu sebagai kuil-kuil ingatan.

Di Makassar, kota tempat tinggal saya, ada sebuah perpustakaan bernama Katakerja. M. Aan Mansyur, penyair sekaligus pustakawan, menyatakan dalam sebuah wawancara bahwa salah satu fungsi buku di Katakerja adalah sebagai media sosial. Aktivitas utama bukan tentang pinjam meminjam buku seperti perpustakaan umum. Buku dimaksudkan sebagai media untuk bertemu antarindividu atau kelompok.

Buku-buku di Katakerja tidak disusun sesuai kategori. Kadang berdasarkan warna sampul atau disusun secara acak. Ini dimaksudkan agar pustakawan punya alasan untuk memulai percakapan dengan pengunjung karena hanya pustakawan yang tahu letak buku-buku. Beberapa kali, saya mengunjungi Katakerja dan terpaksa harus bertanya untuk tahu letak buku yang saya cari.

Selain tujuan Katakerja di atas, tanpa kertas, tujuan pribadi saya mungkin tidak bisa tercapai. Di awal tahun 2017, saya mencatat resolusi pribadi di buku catatan. Salah satu resolusi saya adalah menjadi emerging writers Makassar International Writers Festival 2017. Dari 14 poin resolusi yang saya tulis di kertas, ada tiga yang tidak mampu saya capai. Saya mencoret resolusi yang tercapai, kemudian menulis resolusi baru untuk tahun 2018. Salah satu yang saya coret adalah resolusi menjadi emerging writers MIWF 2017. Saya dinyatakan lolos seleksi setelah mengetik 35 judul puisi—yang awalnya saya tulis di kertas—dan mengirimnya kepada panitia festival.

Di MIWF 2017, saya bertemu Ria Papermoon, seniman teater boneka. Ria adalah seorang perempuan penggagas Papermoon Puppet Theatre, sebuah format teater yang menggabungkan seni rupa dan seni pertunjukan. Dari bahan kertas, Ria membuat boneka Papermoon menyerupai karakter-karakter tertentu. Boneka itu lalu digerakkan oleh manusia di atas panggung yang telah diatur sedemikian rupa untuk mendukung pementasan. Bersama suaminya, boneka yang terbuat dari kertas itu telah membawa Ria mengunjungi banyak negara.

Selain Ria, saya bertemu Sapardi Djoko Damono, maestro puisi Indonesia, di pameran manuskrip puisinya yang diselenggarakan Rumata’ Artspace dalam rangkaian MIWF 2017. Pameran itu menampilkan manuskrip puisi Sapardi yang ditulis tangan dalam rentang tahun 1958-1969. Dari lebih seratus naskah asli puisi yang dipamerkan, ada banyak puisi kesukaan saya, salah satunya berjudul Tangan Waktu yang ditulis tahun 1959. Puisi yang mungkin juga Anda sukai itu, yang ditulis di atas lembar kertas itu, dipamerkan di dalam kotak kaca.

Kebiasaan mencatat menggunakan pulpen dan kertas juga dilakukan oleh Bill Gates. Sebagaimana dilansir oleh Kompas pada tanggal 21 November 2017, bahwa orang terkaya sekaligus pendiri Microsoft itu rajin membawa buku catatan ke pertemuan-pertemuan formal dan mencatat hal-hal penting di kertas. Kebiasaan Bill Gates juga ditiru oleh pebisnis sukses lain bernama Richard Branson.

Gates dan Branson duduk bersama pada konferensi di London. Waktu itu, Branson mengaku takjub ketika Gates, di akhir pidatonya, mengeluarkan selembar kertas yang terlipat dan tidak beraturan. Sebagaimana dikutip oleh Kompas, Branson mengatakan bahwa Gates bahkan harus memperbaiki lipatan kertas itu agar bisa membaca naskah pidatonya. Branson juga menerapkan kebiasaan mencatat di kertas kepada karyawan-karyawannya di kantor. Menurutnya, ide yang melintas di kepala harus segera dicatat agar tidak terlupa.

Kurang dari dua bulan setelah Kompas melansir berita tentang kebiasaan mencatat Gates dan Branson, Kompas menerbitkan halaman yang kembali menegaskan peran kertas sebagai media penting untuk mencatat. Mengutip Business Insider, Kompas melansir bahwa salah satu dari enam kunci sukses adalah menulis isi pikiran dan isi hati di dalam buku catatan harian. Hal yang sama pernah dilakukan oleh dua orang kaisar, yaitu Markus Aurelius, kaisar Romawi dan Napoleon Bonaparte, kaisar Perancis.

Ketika orang-orang memilih mengetik di tablet atau gawaimengapa Bill Gates dan Richard Branson memilih mencatat menggunakan pulpen dan kertas? Selain sebagai pengingat terhadap ide yang tiba-tiba melintas, hasil penelitian ini mungkin bisa menjawab.

Mueller dan Oppenheimer (2014) melakukan penelitian untuk melihat keuntungan menulis tangan dibandingkan mengetik di laptop. Penelitian ini diikuti oleh 67 mahasiswa dari Universitas Princeton. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mencatat dengan laptop dapat mengganggu hasil belajar karena penggunaannya menghasilkan proses yang dangkal. Dari tiga studi yang dilakukan dalam penelitian, Mueller dan Oppenheimer menemukan bahwa mahasiswa yang mencatat dengan laptop menunjukkan hasil yang buruk dalam ujian dibandingkan mahasiswa yang mencatat dengan menulis tangan.

Mueller dan Oppenheimer menunjukkan bahwa lebih banyak mencatat akan sangat bermanfaat. Namun berbeda dengan mencatat di laptop. Kecenderungan mencatat di laptop—tanpa memproses informasi dan mengurai ceramah dengan kata-kata sendiri—dapat merugikan hasil pembelajaran. Penelitian yang dimuat dalam jurnal Psychological Science ini menunjukkan bahwa mencatat dengan pena di kertas, dibandingkan dengan laptop, menghasilkan proses pembelajaran yang lebih baik.

Klemm (2013), seorang profesor neurosains, dalam Psychology Today menyatakan hal serupa, bahwa pencetakan dan penulisan kursif dapat merangsang otak dan pikiran dengan cara unik. Termasuk koordinasi antara tangan dan mata, disiplin diri, perhatian terhadap detail, gaya, dan kemampuan berpikir secara menyeluruh, bahasa, serta area kerja memori. Proses itu tidak dimiliki jika seseorang mengetik, melainkan terjadi jika menulis di kertas.

Sejak ditemukan pertama kali oleh Cai Lun, kertas telah memberi banyak hal dalam kehidupan. Termasuk dalam hidup saya sendiri, sejak kecil, sekarang dan nanti. Dalam kasus tertentu seperti di atas, kertas bahkan berperan membawa seseorang pada pencapaian tertinggi dalam hidup.

Kertas berperan penting dalam kehidupan sehari-hari, termasuk terhadap lahirnya tulisan ini. Saya menyusun kerangka tulisan ini di buku catatan. Saya menambah, mencoret, memindahkan dan mengolah fragmen-fragmen gagasan saya di atas kertas. Tanpa kertas, saya pikir, tulisan ini tidak akan selesai dan sampai ke hadapan Anda kini.



Referensi:

  • Baez, F. (2013). Penghancuran buku dari masa ke masa (Diterjemahkan oleh Lita Soerjadinata). Tangerang Selatan: Marjin Kiri.
  • Bohang, F. K. (2016). Mencatat Pakai Pulpen dan Kertas, Bill Gates Dikagumi Miliarder. Diakses melalui www.kompas.com.
  • Kaushik. (2012). Akira Yoshizawa: The Master of Origami. Diakses melalui www.amusingplanet.com.
  • Klemm, W. (2013). Biological and Psychology Benefits of Learning Cursive. Diakses melalui www.psychologytoday.com.
  • Mueller, P. A., & Oppenheimer, D. M. (2014). The pen is mightier than the keyboard: Advantages of longhand over laptop note taking. Psychological Science, 1-10. doi: 10.1177/0956797614524581
  • Paguyuban Pamitnya Meeting. (2017). Hal-hal yang Tidak Kamu Ketahui Tentang Aan Mansyur. Diakses melalui www.youtube.com.
  • Setiawan, S. R. D. (2017). Jika Ingin Sukses, Ada Baiknya Anda Mulai Menulis Buku Harian. Diakses melalui www.kompas.com.