Semenjak kasus lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) muncul di Indonesia dalam beberapa waktu belakangan, banyak orang mengambil sikap untuk menolak terhadap kelompok ini, tak terkecuali perawat.

Banyak beberapa kawan saya di media sosial yang berprofesi sebagai perawat, bahkan secara tegas mengutuk kelompok ini, dengan membagi begitu banyak informasi buruk soal LGBT di halaman akunnya.

Ini jelas prilaku yang keliru, sebab sejak awal, perawat dalam memberikan pelayanan telah berkomitmen dan bersumpah untuk menghargai keunikan mendasar dari masing-masing individu.

Hal ini, dipertegas dengan Kode Etik Perawat Internasional (ICN) yang menyatakan bahwa asuhan keperawatan yang diberikan perawat harus dilakukan dengan hormat dan tidak dibatasi oleh pertimbangan usia, warna kulit, keyakinan, budaya, cacat atau penyakit, jenis kelamin, orientasi seksual, kebangsaan, politik, ras atau status sosial.

Secara umum, sikap ini bisa dimaklumi, karena perawat, terutama di Indonesia, masih bekerja dibawah pengaruh pandangan moral individunya juga tekanan dari standar moral masyarakat luas.

Situasi penolakan oleh perawat makin diperburuk dengan kurangnya pemahaman perawat tentang perawatan pasien LGBT, dan sebagai akibatnya, mereka mungkin memiliki sikap negatif, mendukung stereotip, dan/atau merasa tidak nyaman dalam memberikan perawatan (Carabez et al., 2015)

Sikap perawat yang membuat penolakan jelas akan berdampak buruk bagi pelayanan pasien LGBT. Penelitian yang dilakuan oleh Serafin et al. (2012) menunjukan bahwa penolakan oleh tenaga perawat telah membuat pasien LGBT memilih untuk menutup diri dan menghindari pengobatan, sebab, mereka takut akan di tolak atau disakiti oleh perawat. Padahal, sebagai kelompok rentan mengalami penyakit mereka sangat membutuhkan perhatian yang baik.

Kondisi penolakan akibat kurang pengetahuan perawat, salah satu pencetusnya adalah krikulum pendidikan keperawatan di perguruan tinggi dan universitas masih sangat kurang dalam mengakomodir pembelajaran tentang kebutuhan unik dan risiko kesehatan bagi individu yang berada di luar orientasi masyarakat heteroseksual "tradisional".

Namun, ditengah kondisi belum memadainya kurikulum pendidikan, bukan berarti dapat menjadi alasan bagi perawat untuk bersikap buruk terhadap kelompok LGBT

Dengan terus berkembangnya kelompok LGBT, perawat dapat mempersiapkan diri untuk memenuhi kebutuhan individu LGBT dengan tekun membaca, mendengarkan, dan membuat beberapa penyesuaian sederhana dan praktis dalam praktik keperawatan.

Devine (2017) mengajukan 10 hal yang harus dilakukan perawat ketika merawat pasien LGBT tanpa perlu menunggu pendidikan formal dari kampus.

1. Perluas pengetahuan tentang orientasi seksual dan identitas gender.

Untuk memahami kebutuhan pasien LGBT, perawat harus memperluas pengetahuan mereka sendiri tentang orientasi seksual, ketertarikan, dan identitas gender, atau bagaimana seseorang mengidentifikasi dan memahami kecendrungan seksual mereka.

Seksualitas telah lama didefinisikan sebagai heteroseksual oleh masyarakat umum, namun dalam kenyataannya, ia mencakup spektrum kebutuhan, keinginan, dan perilaku yang dapat berubah-ubah seiring waktu.

2. Ketahui definisi kunci LGBT.

Perawat dapat membaca dan mempelajari tentang arti dari aseksual, gay, lesbian, biseksual, dan panseksual secara tekun agar mampu membedakan jenis masalah pasien.

3. Memperdalam pengetahuan tentang LGBT.

Memperdalam basis pengetahuan akan memperkaya pemahaman tentang seksualitas secara umum, dan meningkatkan kecepatan dalam mengidentifikasi potensi risiko kesehatan bagi pasien LGBT yang mencari perawatan.

4. Ciptakan lingkungan yang ramah bagi pasien LGBT.

Individu LGBT memiliki sejarah panjang diskriminasi pada tingkat individu dan kelompok, termasuk sistem perawatan kesehatan. Mereka mungkin "memindai" suatu lingkungan untuk menentukan apakah itu adalah tempat yang aman untuk mengungkapkan informasi pribadi, terutama tentang seksualitas. Perawat harus belajar memagang rahasia dan menunjukan bahwa perawat peduli dengan masalah mereka.

5. Gunakan bahasa inklusif.

Mungkin perlu sedikit latihan, tetapi perawat dapat mengubah kosakata menuju inklusivitas, sehingga dapat membuka pintu diskusi perawatan kesehatan yang lebih terbuka.

6. Gunakan bahasa yang netral gender.

Dekati setiap interaksi dengan pikiran terbuka dan sikap tidak menghakimi. Ingat, pekerjaan perawat sebagai profesional kesehatan adalah membantu pasien untuk memecahkan masalah kesehatan, atau mengurangi risiko masalah kesehatan di masa depan. Jika pasien tidak merasa nyaman berbagi perilaku secara relevan, apa gunanya membangun interaksi?

7. Ajukan pertanyaan terbuka.

Misalnya, bertanya "Apakah ada hal lain yang akan membantu saya memastikan Anda mendapatkan hasil maksimal dari kunjungan ini?". Pertanyaan terbuka dapat membantu pasien berbagi informasi kesehatan yang relevan.

Selain itu, jangan membanjiri pasien dengan pertanyaan yang tidak terkait dengan alasan kunjungan mereka. Fokus pada perilaku yang berdampak pada kesehatan sehingga percakapan dapat secara positif mempengaruhi kondisi kesehatan dan mendorong penerimaan akan kondisinya oleh pasien

8. Gunakan "label" yang tepat.

Hindari menerapkan label seperti "gay." Beberapa orang tidak mengidentifikasi diri dengan label deskriptif tertentu, namun mungkin melakukan hubungan seks dengan mitra lebih dari satu jenis kelamin. Misalnya, pria gay mungkin pernah memiliki pengalaman seksual dengan lawan jenis, individu biseksual, atau mungkin memiliki periode monogami yang panjang. Perlu diingat bahwa seksualitas dapat berevolusi seiring waktu.

9. Investigasi risiko kesehatan mental dan fisik untuk pasien LGBT.

Waspadai tekanan sosial yang unik dan risiko kesehatan pasien LBGT. Fobia sosial, kekerasan, kejahatan, kebencian dan ketakutan mereka, semuanya terlalu nyata bagi orang-orang ini. Seiring dengan potensi dikucilkan dengan keluarga dan kelompok sosial lainnya, hal ini dapat berkontribusi pada kecemasan dan depresi kronis.

10. Sampaikan dengan rasa hormat.

Selalu ingat bahwa pasien LGBT yang dirawat  telah mengambil langkah berani untuk berada di ruang perawatan dan mengungkapkan beberapa informasi paling pribadi tentang kehidupan mereka. Perawat harus mengungkapkan rasa pedulinya untuk mendapatkan informasi tentang kebutuhan khusus mereka. Kualitas interaksi perawat dapat benar-benar menghadirkan perubahan kondisi hidup dan kesehatan seseorang.