Kadang-kadang saya berpikir apa istimewanya drama Korea (drakor)? Ini bertanya-tanya saja tanpa sedikitpun ingin berkenalan dengan yang namanya drakor itu. Jujur, sampai saat ini belum satupun drakor yang saya lihat.  Dan saya mengatakannya dengan sangat bangga. Kalau perlu ini akan saya tulis di curriculum vitae waktu mengisi kelemahan dan kekuatan.

Perkenalan pertama saya dengan drakor adalah saat masuknya drakor  ke dalam banyak perbincangan teman-teman. Menggantikan bahasan tentang resep masakan, tentang tempat makan yang enak, tentang tempat wisata yang view-nya asik untuk selfie, tentang kucing, tentang bunga yang biasanya kami obrolkan.

Kalau ketemu jadinya pertanyaan mereka adalah, “Sudah nonton drakor baru yang judulnya Ngggmm…? Baguussss. Aku sudah episode 537. Ternyata ini suka sama ini, looh.” 

Saya seketika memutar mata. Antara ‘hadeeh’ dengan tidak paham. Dan mereka tahu kalau saya 'tidak nyambung', jadi tidak diajak bicara. 

Perkenalan lebih dekat saat teman kerja yang duduknya tepat di depan saya, saat istirahat siang selalu memonton drakor. Saya curi-curi melihat. Apa ya judulnya dulu itu. Pokoknya Lee Min Ho lagi sekolah, kemudian ada anak pembantunya di sekolah yang sama, dan dia suka.

Lee Min Ho jelas gantengnya luar biasa.Tapi selain dia, saya melihat semua aktor lain wajahnya sama semua. Saya tidak bisa membedakan yang mana bapaknya, yang  mana pamannya, yang mana teman yang musuhnya, yang mana teman yang temannya. 

Dari situ sambil lihat prosesor di kepala saya auto bekerja dua kali lipat mencocokkan adegan. Ini yang mana ya? Yang ini bukan? Eh tapi tadi bajunya merah. Orangnya ganti baju saja saya sudah lupa.

Peristiwa bikin kikuk terjadi juga di suatu pagi. Di toilet saya bertemu dengan teman kerja. Saya sapa dia dan mendapati matanya bengkak dan merah. Saya tepuk-tepuk punggungnya. “Kamu kenapa lagi? Kalau ada apa apa cerita dong. Jangan dipendem sendiri.” 

Dia tersenyum sedih. Lalu bilang kalau dia nggak papa. Cuma semalam habis lihat film Korea. Walah! (note : ternyata orang bermata bengkak kalau senyum selalu terlihat sedih walau tidak sedang sedih).

Pernah juga linimasa isinya drakor semua. Tentang cerita drakor ini selingkuh dengan ini. Semua heboh.  Halo, ini masalahnya siapa kok jadi masalah bersama? 

Belum lagi ada istri yang lantas menyadap HP suaminya, untuk mengecek selingkuh tidak. Belum lagi ada yang curiga dengan teman kerja suaminya yang agak bening sedikit. Jadi terbawa suasana dan takut cerita di layar itu migrasi ke dunia nyatanya.

Kejadian begitu kalau terus-terusan kan pasti akan menghancurkan keharmonisan keluarga (ini memilih kata-katanya sudah yang paling seram, kalau ada pilihan lain waktu dan tempat disilakan).

Saya pernah baca orang yang menghabiskan enam belas episode drakor dalam sehari. Menurut dia menonton drakor adalah salah satu cara jitu mengisi waktu saat PPKM. Tapi kok ada ya orang yang se no-life itu?

Enam belas jam sehari loh. Karyawan saja kalau disuruh kerja 10 jam, sehingga over time 1 jam, sudah pasti minta lembur. Kalau 16 jam sehari bisa-bisa dia minta dipromosikan menjadi direktur utama! 

Ini belum membahas rumah tangga yang akan autopilot kalau emaknya nonton drakor enam belas jam sehari. Siapa yang masak? Eh, mungkn bisa ya masak sambil lihat drakor. Hehe. Mohon pendapatnya apakah hal tersebut memungkinkan.

Ini juga, suami jadi tidak terurus. Perkecualian sih, kalau anaknya dan suaminya nonton drakor juga. Kalau demikian adanya, masalah urus mengurus bisa diselesaikan setelah bertangis-tangisan menonton drakor.

Belum lagi tanaman, hewan peliharaan, debu-debu yang ada di ruang tamu, bekas makan yang berserakan. 

Mengingat orang bisa se'bucin' itu dengan drakor, saya kok jadi takut ya. Jangan-jangan ini seperti opium yang akan menggerogoti sel-sel pikiran kita dengan ketergantungan. Perlu ada survey berapa lama orang akan kecanduan drakor sejak. Apakah setelah melihat dua judul? 

Perlu ada penelitian bagaimana menyembuhkan kecanduan ini. Apakah dengan sedikit sedikit mengurangi. Misalnya treatment pertama cuma boleh nonton 15 episode sehari. Kalau sakau balik lagi ke 16 episode. Kalau lancar diturunkan jadi 14,5 episode. 

Saran saya untuk yang belum terpapar oleh drakor adalah mending hindari! Daripada rindu drakor itu berat, kamu nggak akan kuat. Atau yang sudah terpapar sedikit sedikit, ingatlah kata-kata saya di atas. Yang mana? Yang manalah yang kamu suka.

Atau, melihat pergerakan drakor yang luar biasa, kita harus pikirkan cara juga untuk menghindar dari paparannya. Apa langkah konkrit kita? Bagaimana kalau kita buat AADSSSA. Aliansi Anti Drakor Se Sini Sini Aja. Setuju?

Ya sudah. Mari kita agendakan. Gas!