Pagi yang cerah, mentari menyinar dengan kehangatan. Suasana sangat indah dan damai. Burung – burung berkicau dengan merdu., namun tidak dengan Rizki. Dia harus menghadapi hinaan di hari – harinya di sekolah, dan itu juga yang membuat dia malas kesekolah dan suka menyendiri. Dia merupakan orang yang tidak mampu, ayahnya bekerja sebagai tukang ojek. Sementara ibunya, seorang ibu rumah tangga. 

Di sekolahnya merupakan sekolah yang rata- rata berpenghasilan diatas rata-rata sementara dia hanya orang susah, tetapi dia mendapatkan beasiswa karena siswa berprestasi. Itulah yang membuat Fredi dan teman-temannya sering mengejek dan menghina Rizki.

          Rizki pun bangun pagi-pagi untuk berangkat sekolah. Ia pun mengerjakan shalat subuh lalu sarapan. Setelah itu, ia pun siap untuk berangkat sekolah. Dengan hati yang sangat berat, dia beranjak dari rumah pergi kesekolah menggandeng tasnya. Hatinya berdebar – debar sambil berkata “Apa yang akan terjadi di hari ini ya Allah” gumannya didalam hati. 

Sebelum berangkat kesekolah, ia pun berdoa kepada Allah sang pencipta dirinya dan alam semesta ini. Setelah berdoa, ia pun berangkat kesekolah dengan berjalan kaki. Memang jarak dari rumah ke sekolahnya sangatlah dekat. Sesampai disekolah, ia melihat jam yang menunjukkan pukul 06:30 pagi. Karna hari ini hari kamis, maka dia pun melaksanakan kewajibannya di sekolah yaitu piket kelas. 

Dia pun membersihkan kelasnya. Tiba tiba temannya Dino pun datang dan berkata “Pagi Ki, kenapa wajahmu muram dan sangat gelisah?”. “ee.. ehh.. aku gak apa-apa kok”. Ujar Rizki dengan nada pelan dan gugup. “Yakin? Kamu jangan bohong sama aku, aku ini sahabatmu. Akupun tahu apa yang ada dipikiran mu, pasti kamu mikirin apa yang akan dilakukan Fredi dan teman-temannya yang songong itu kan?” ujar Dino. “eh.. ee.. iya”. Ujar Rizki dengan nada pelan dan gugup. 

Dino pun menasihati Rizki dan berkata “Kamu jangan takut sama mereka, kalau mereka mengejek dan menghina mu lawan aja, jangan takut”. Rizki pun terdiam, lalu Dino pun berkata “Aku ke kamar mandi dulu ya?”. “iya”. Ujar Rizki.

          Waktu pun berlalu, jam menunjukkan pukul 07:20. Teman – teman sekelas Rizki pun banyak yang berdatangan. Lalu datanglah Fredi dengan teman gengnya. Fredi merupakan orang yang suka mengejek dan menghina Rizki. Dengan sombongnya ia pun berkata kepada Rizki “ Eh, culun, anak kampung. Ngapain kau duduk di bangku ku. kau tu pantasnya duduk di lantai atau gak usah sekolah disini. Udah miskin, culun, untuk apa kau disini. Cocoknya kau itu sekolah di tempat pembuangan sampah. 

Bukan disini. Ya gak temaa-teman”. “ Iya”. Ujar teman – teman Fredi sambil tertawa. Lalu Doni pun menjawab “ Iya, benar tu Di. Orang susah kok sekolah disini. Disini tu sekolah orang kaya, keren, bukan orang miskin dan culun seperti dia yang bisanya mengharap beasiswa saja”. Fredi, Doni dan teman temannya pun mentertawakan Rizki. Rizki pun terdiam dan menundukkan kepala. 

Lalu Dino pun datang menghampiri Fredi, Doni, dan Rizki. “Eh kau, jangan sok kau. Mentang-mentang orang kaya, muka ganteng, banyak fansnya, seenaknya saja kau menghina dia. Dia itu manusia yang punya perasaan. Coba kau ada diposisi dia, pasti kau pun marah. Jangan kau anggarkan orangtua kau yang pejabat itu. Orang menilai seseorang dari ilmunya bukan dari kekayaannya. Jangan sombong deh kau. Roda ini berputar bisa saja hari ini kau kaya, ganteng tapi hari hari selanjutnya kau jatuh miskin dan kegantengan kau hilang. Ingat harta dan rupa tidak bisa dibawa mati”. Ujar Dino. 

Fredi pun menjawab “udah ceramahnya. Eh Dino yang sok seperti pak ustad. Kau jangan ikut campur urusan ku. Mendingan kau diam aja”. “dia itu sahabatku wajar dong aku membelanya”. Lalu Fredi dan teman geng nya pun mentertawakan dan berkata “Kau mau berteman dengan si culun ini? Aku sih gak mau berteman sama dia”. “Eh pengecut, kau jangan suka menghina orang lain. Macam kau aja yang hebat disini!”. Ujar Dino. Fredi pun marah dengan Duno, dengan wajah yang memerah, dia pun berkata “Eh.. kau jangan jadi malaikat disini ya! Kalau kau gak senang kita lawan secara laki”. Dengan santainya Dino pun menjawab “Ok, siapa takut”.

          Keadaan semakin menegang para siswa dan siswi yang ada dikelas itu pun menyaksikan mereka berkelahi begitu juga Rizki yang menyaksikan kejadian tersebut. Wajahnya pun ketakutan dan memucat. Lalu Doni pun menjawab “ Ayo Di.. hajar dia. Mau jadi hero pula dia disini”. Tiba-tiba pak Amri pun datang dan berkata “Hey! Kalian jangan berantem disini. Ini ruang kelas bukan tanah lapang. 

Lagi pula ini sudah masuk jam pelajaran. Saya tidak mau ada keributan disini. Buat malu aja kalian!”. “Dia pak yang carik gara-gara duluan”. Ujar Dino. “Sudah-sudah saya tidak mau mendengar alasan kalian, sekarang duduk dibangku masing-masing!” dengan nada keras dan lantang. Fredi pun berkata “Awas kau ya.. habis kau ku bikin ntar!”. Jam pelajaran pun dimulai terlihat muka Fredi masih marah dan menyimpan rasa dendam. Dia belum puas dan ingin menghajar Dino dan Rizki.

          “kringgg.... kringgg....” suara bel istirahat pun berbunyi, istirahat pertama pun dimulai. Fredi dan teman gengnya pun datang menghampiri Dino dan Rizki lalu berkata “Eh kau, enak kali kau bilang aku pengecut. Aku gak terima dan ingin balas dendam sama kau”. “itulah kau, orang nya egois. Menghina orang bisa tapi sekali dibilang pengecut marah. Hahahaha...”. Ujar Dino sambil tertawa. Lalu dengan wajah kesal dan marah, Fredi pun berkata “jangan banyak cakap kau. Ayo kita 1 lawan 1”. Dengan santainya Dino pun menjawab “Ok”. Tiba-tiba Rizki pun berkata “Eh.... Jangan! Kalian jangan berantem disini. Ini sekolah bukan tempat untuk berkelahi”. Lalu Fredi pun berkata “Eh teman-teman. Siculun ini takut sama kita. Ok aku tidak berantam sama dia di kelas. Tapi ingat pulang sekolah ku tantang kau Dino di lapangan!”. “Ok. Aku gak takut sama kau”. Ujar Dino. Fredi dan teman temannya pun beranjak pergi sambil melempar botol minuman ke kepala Rizki sambil berkata “ Makan tu botol bekas”. “wah.. kurang ajar kali kau! Awas kau ya!”. Ujar Dino. Rizki pun berlari kekamar mandi, lalu menangis sambil berkata “Ya Allah, kenapa aku diperlakukan seperti ini? Apa salahku? Mengapa mereka berbuat seperti itu kepadaku? Kenapa ya Allah kenapa? Rizki pun menangis dengan sekuat-kuatnya, lalu Dino pun datang dan menghampiri Rizki sambil berkata “Kamu jangan menangis, kamu harus tersenyum. Dan bertawakal saja kepada Allah dan selalu berdoa, jangan putus asa. Mereka itu hanya iri kepadamu, atas prestasimu dan keberhasilanmu dalam meraih beasiswa. Sedangkan mereka orang kaya tapi tidak bisa sepertimu. Nasib itu ditangan tuhan jadi kamu jangan menangis lagi. Teruslah berkarya dan raihlah prestasimu dan tunjukkan pada dunia kalau kamu bisa.  Dan kamu kalau di hina sama mereka kamu jangan takut, kan ada guru BP, laporkan aja sama guru BP, Ok”. Lalu Rizki pun mengusap airmatanya dan berkata “Terimakasih teman, karnamu aku bisa kuat, kamu yang bisa menerima aku apa adanya untuk menjadi teman”. “sama-sama, yuk kita shalat Duha mumpung jam 10 ni”. Ujar Dino. “ayo”. Ujar Rizki. Mereka pun pergi ke musholla sekolah untuk shalat Duha.

          Waktu pun berlalu dan sampailah pada jam 13:20. Bel pun berdering menandakan waktunya pulang sekolah. “Ki, kita pulang bareng yuk”.  Ujar Dino. “Ayo”. Ujar Rizki. Dino dan Rizki pun berjalan, tiba-tiba Mereka dihadang sama Fredi. Fredi sendirian dan tidak bersama anggota gengnya. Fredi pun berkata “Woi, Dino sang malaikat. Gua ingin meneruskan perkelahian kita”. “Ok” ujar Dino dengan santai. Perkelahian pun berlangsung, Rizki pun berteriak sambil berkata “Din, jangan diladenin dia. Udah.. hentikan perkelahian ini”. Lalu Fredi pun berkata “Kau diam aja, banci culun!”. Perkelahian pun selesai dan Fredi pun kalah. Dia terjatuh ke parit dengan wajah yang lebam dan kotor. Dino pun tertawa sambil berkata “Rasakan. Ini akibatnya kalau suka sombong dan merendahkan orang lain, ayo Ki kita pulang”. Riski dan Dino pun pulang dan meninggalkan Fredi. Fredi pun berteriak lalu berkata “awas kalian berdua ya. Aku akan balas dendam”.

          Waktu pun berlalu dan hari pun mulai malam. Riski pun mengerjakan ibadah shalat magrib. Selesai shalat, ia pun makan lalu mengerjakan tugas. Selesai mengerjakan tugas, Dino pun shalat Isya. Setelah shalat isya dia pun tidur. Tiba-tiba telpon pun berdering, ternyata yang menelpon Rio sahabat Rizki, dia tadi tidak datang kesekolah,  dan dia menanyakan pr. Tuut.. Tuut... “Hallo, assalamualaikum”. “Waalikumsalam”. “ada apa Rio, malam-malam kok nelpon”. “Eh.. ganggu ya? Aku mau tanya ada pr tadi?”. “Oo, gpp kok. Tadi ada pr Fisika halaman 56”. “ Oo, makasih ya infonya”. “Sama-sama”. “Assalamualaikum Ki”. “Waalaikum salam”. Selesai menelpon Rizki pun tertidur.

          Pagi harinya, Riski pun berangkat sekolah terlambat. Sesampai disekolah Fredi pun berkata “Eh culun. Tumben kau terlambat”. Riski pun menjawab “Itu urusanku, kamu jangan ikut campur. Lagi pula nama ku Riski bukan culun”. Fredi pun berkata dengan kesal “Wah, kurang ajar ni anak udah berani menjawab. Mau mati kau!”. Riski pun menjawab”Pukul aku kalau kamu berani”. Fredi pun memukul badan Riski. Riski pun menangis dan berkata “Ku laporkan kamu ke guru BP”. “Lapor sana.. Lapor! Aku tidak takut. Dasar pengecut beraninya mengadu”. Riski pun pergi ke ruang BP dan menceritakan semuanya. Guru BP pun memanggil Fredi dan temannya. Mereka pun disidang dan berjanji tidak akan menghina Riski lagi. Semenjak hari itu Fredi dan temannya pun tidak pernah mengejek dan menghina Riski lagi Dan mereka pun berteman dengan baik.