Membaca pertanyaan ini saya jadi teringat kasus disertasi Muhammad Ahmad Khalafullah yang ditolak oleh Fakultas Bahasa Arab Universitas Kairo pada tahun 1947. Judul disertasi yang ditolak itu adalah al-Fann al-Qashashi fi al-Qur’an al-Karim, Seni (Ber)cerita dalam al-Qur’an al-Karim. Disertasi ini sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Paramadina dengan judul Al-Quran bukan “Kitab Sejarah”.

Kasus Khalafallah

Dalam disertasinya itu, Khalafallah membagi kisah Qur’an kedalam empat kategori: Sejarah, allegori, mitos dan kisah tentang dosa. Dari keempat kategori ini, kisah yang terkait sejarahlah yang paling lemah karena Qur’an hampir meniadakan konteks. Macam kisah tentang bangsa Ad, yang bahkan tidak dijelaskan dimana, kapan, bangsa tersebut hidup dan kapan terjadi kehancuranya. Selain itu Khalafallah juga menyatakan bahwa beberapa kisah macam Ashabul Kahfi adalah mitologi yang tidak memiliki nilai sejarah apapun, jadi bukan sesuatu yang harus dianggap nyata.

Untuk memperkuat pernyataannya Khalafallah menunjukkan beberapa bukti bila historisitas kisah Quran itu sangatlah lemah:

  1. Quran mengabaikan unsur waktu dan tempat dari kejadian bersejarah dan sejumlah karakter yang muncul dalam kisah-kisahnya
  2. Saat membicarakan kisah bersejarah Quran memilih satu kejadian dan mengabaikan kejadian lain yang sebenarnya juga penting
  3. Quran mengabaikan kronologi sebuah kisah
  4. Quran terkadang mengkaitkan sebuah tindakan dengan tokoh tertentu, dan kadang mengkaitkan tindakan yang sama dengan tokoh yang berbeda
  5. Kisah yang disampaikan kembali dalam rangkaian ayat yang berbeda menggunakan dialog yang berbeda pula
  6. Quran terkadang menambahkan satu adegan cerita yang seharusnya disampaikan belakangan.


Problem historisitas kisah-kisah Quran inilah yang menurut Khalafullah membuat umat Islam terjebak dalam kondisi “gila”. Dimana alam pikiran mereka di satu sisi terjebak dalam dunia modern yang serba rasional namun di sisi lain iman mereka dibebani dengan kisah-kisah irasional yang sangat sukar dibuktikan kebenaran sejarahnya. Guna memecahkan kebuntuan ini, Khalafallah dan Amin al-Khuli, pembimbing disertasinya, mengajukan pendekatan sastra, literary approach, sebagai pendekatan paling aman dalam memahami kisah-kisah Quran.

Kesimpulan Khalafallah ini menuai polemik di Mesir. Sejarawan Mesir Ahmad Amin yang turut menjadi penguji disertasi menganggap tesis Khalafallah sangatlah lemah. Sementara penguji lain, Ahmad al-Syayib berpendapat bila pemikiran Khalafallah bertentangan dengan kepercayaan umat Islam. Tantangan lain juga datang dari hakim Syariah Syria, Ali Tantawi yang menuduh Khalafallah mengabaikan sekaligus tidak kompeten dalam mengekspresikan ide-idenya dalam bahasa Arab. Sementara itu di luar dinding universitas, Ikatan Pemuda Muslim (Jam’iyyat al-sybban al-muslimin) melayangkan surat protes ke Raja Mesir sekaligus Kementerian Pendidikan dan Universitas al-Azhar untuk mengadili Khalafallah dan profesor al-Khuli atas tuduhan penistaan al-Quran.

Meski beberapa kali Khalafallah mempublikasikan pembelaannya di jurnal al-Risalah, sambil berusaha menjelaskan konsep usturah yang sebenarnya dan terlibat perdebatan panjang selama berbulan-bulan dengan lawan-lawannya, namun akibat desakan publik yang massif, pihak universitas akhirnya memutuskan untuk tidak menerima disertasi Khalafallah pada 13 Oktober 1947.[1]

Well, saya tidak dalam posisi membela pendapat Khalafallah, meski secara umum saya setuju dengan pemikiran beliau, namun ada sejumlah detil dimana saya menggunakan pendekatan yang sangat berbeda. Contohnya dalam cara menafsirkan kisah-kisah Qur’an — Disini Khalafallah memandang setiap kisah sebagai kisah yang independen sesuai konteks turunnya ayat sehingga harus dikaji secara atomistik melalui pendekatan diakronik. Saya sendiri menganggap bila kisah-kisah tersebut sebenarnya juga bisa disatukan dalam satu bentuk narasi yang dapat dianalisis secara sinkronik terlepas dari asbab al-nuzul ayat tersebut.

Saya hanya hendak mendemonstrasikan beberapa premis yang diajukan oleh Khalafallah mengenai kitab suci. Dimana dalam konteks ini Qur’an, melakukan pembiasan terhadap sejarah. Disini saya akan mengambil case study mengenai peristiwa kehancuran Dam Ma’rib.

Qur’an dan Bendungan Ma’rib

Kisah kehancuran Dam Ma’rib tercatat dalam QS 34:15–17, dan dikenal dengan peristiwa sayl arim.

Telah ada tanda bagi kaum Saba’ di kediaman mereka: dua buah kebun di kanan dan di kiri. “Makanlah dari rezeki Tuhanmu dan bersyukurlah pada-Nya. Negeri yang baik dan Tuhan Yang Maha Pengampun”.
Lalu mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar (Sayl ‘Arim) dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun berbuah pahit, tamariska dan di sana-sini pohon bidara.
Itulah balasan Kami atas kekafiran mereka. Dan tidaklah Kami memberi azab tersebut kecuali kepada orang-orang yang sangat kafir.


Meski Qur’an tidak menyebutkan lokasi banjir tersebut, namun para ulama sepakat bila ayat ini merujuk pada kehancuran infrastruktur irigasi di Arabia Selatan yang bergantung pada keberadaan Dam Marib. Pandangan ulama ini juga telah dikonfirmasi oleh sejarawan lewat penemuan sejumlah prasasti bertuliskan ‘rm n atau ‘rm Mrb di reruntuhan bendungan kuno tersebut.[2] Kata sayl sendiri berarti aliran air yang sangat kuat, sehingga term sayl Arim dengan demikian merujuk pada banjir yang disebabkan oleh jebolnya bendungan Ma’rib.

Kita bisa menemukan reruntuhan infrastruktur kuno ini tidak terlalu jauh dari bendungan modern yang dibangun 11 km Barat Daya kota Marib, Yaman, pada 1982.

Kanan lokasi bendungan kuno, sedangkan kiri lokasi bendungan modern.[3]

Sedangkan ini adalah gambar reruntuhan dam kuno di bagian Utara:

dan ini aerial view yang saya ambil dari Google Map. Kita juga bisa mendeduksi dua kebun yang dimaksud Quran berada di area pertanian yang berada di sisi kanan dan kiri jalur irigasi yang berasal dari arah bendungan.

Dam Ma’rib sendiri membendung aliran wadi Dzana yang berasal dari sumber air 120 km selatan Ma’rib. Dam ini berada diantara dua gugusan bukit sempit. Tinggi bendungan mencapai 15 dari dasar wadi dan memiliki panjang 650 meter. Reruntuhan bendungan kuno ini pertama kali ditemukan oleh penjelajah Prancis Thomas J Arnaud pada 1843, lalu penjelajah Austria Eduard Glaser pada 1888. Studi serius selanjutnya baru muncul hampir seabad kemudian yakni pada 1980 oleh tim yang beranggotakan arsitek dan arkeolog asal Jerman yang dipimpin oleh Jürgen Schmidt serta Burkhard Vogt. Eskpedisi terakhir dilakukan oleh tim arkeolog asal Prancis yang dipimpin oleh Julien Robin pada 2010.

Berdasarkan ketinggian endapan aluvium sebesar 22 meter, dibagi ketebalan rata-rata sedimentasi tahunan sebesar 1,1 cm insinyur H. Radermacher memperkirakan Dam Ma’rib dibangun pada 2400 SM, menjadikan bendungan ini sebagai bendungan tertua buatan manusia. Ia juga membagi sejarah pembangunan bendungan ini kedalam tiga fase: Dimana pada fase pertama berlangsung antara 2400–1800 SM, fase kedua 1800–1400 SM dan terakhir pada 500 SM.[4]

Catatan pertama mengenai perbaikan dam Ma’rib berasal dari sebuah prasasti yang ditulis atas nama Yatha’ Amar Watar I ibn Yada’ al-Zarih I, yang memerintah Saba antara tahun 760–740 SM. Perbaikan selanjutnya dilakukan pada masa Yada’ al-Bayin II yang memerintah 740–720 SM, dan Dzamar al-Zarih I serta Karab al-Bayin yang memerintah pada 700–680 SM. Semua perbaikan berisfat minor meliputi perawatan umum seperti membuang sedimen lumpur, melancarkan jalur air dan menutup kebocoran[5].

Setelah kerajaan Saba berakhir, Dam Ma’rib berada dalam penguasaan Kerajaan Himyar mulai 115 SM. Pada era ini kita memiliki catatan perbaikan yakni pada tahun 450 oleh Syarhabil Ya’far ibn Abi Karab Yas’ad dan terakhir oleh Abrahah pada 543. Selepas perbaikan terakhir ini kita tidak mengetahui catatan lain mengenai nasib Dam Marib. Yang bisa kita dapat hanyalah fakta bila dam ini sudah tidak berfungsi lagi pada masa Nabi yakni pada kuartal pertama abad ketujuh.

Tantangan Teologis

Bila kita bandingkan antara temuan sejarah dengan ayat-ayat Quran mengenai sayl ‘arim, kita akan menemukan sejumlah kesulitan:

  1. Kapan sebenarnya peristiwa tersebut terjadi? Apakah pada masa kerajaan Saba di abad keenam SM, atau pada era Himyar di tahun 150 dan selepas perbaikan 450, atau justru di masa Abrahah pasca perbaikan tahun 543?
  2. Apakah sayl ‘Arim ini peristiwa besar yang terjadi sekali ataukah sebuah peristiwa progresif yang berlangsung bertahun-tahun dikarenakan usia bendungan yang sudah sangat tua? Bila ia adalah bencana besar adakah catatan lain yang juga menyinggung peristiwa tersebut?
  3. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan kata kafir dalam QS 34:17 diatas? Apa kata ini berarti kafir karena tidak menyembah Tuhan yang Satu ataukah kafir karena tidak bersyukur? Jika artinya tidak bersyukur maka bagaimana bentuk ketidaksyukuran tersebut?


Kesulitan-kesulitan diatas akan bertambah bila kita mengetahui fakta bahwa bangsa Himyar yang berkuasa di Saba telah memeluk sejenis “agama Yahudi” pada paruh kedua abad kelima, satu setengah abad sebelum kelahiran Nabi Muhammad. Pada saat itu mereka bukan lagi penyembah berhala dan sudah menganut monotheisme dengan Tuhan bernama Rahman. Bahkan tatkala kerajaan ini hancur oleh invansi Aksum, penguasa Saba saat itu Abraha juga menganut agama Kristen yang sama dengan agama Kristen kerajaan Aksum, tempat hijrah pertama umat Islam.

Bila yang dimaksud Saba adalah kerajaan Saba yang berkuasa sekitar milenium pertama SM, dengan begitu sesuai dengan gambaran di QS 27:22–24 mengenai rakyat Ratu Balqis, maka bukankah itu juga menimbulkan lebih banyak masalah? Karena pada masa Saba ini rakyatnya justru hidup makmur baik lewat perdagangan internasional maupun kebun-kebun mereka yang terawat dengan baik oleh irigasi dari Dam Ma’rib yang masih berfungsi dengan baik pada saat itu, bahkan meskipun mereka menyembah berhala dan memiliki banyak Tuhan. See, saat kafir meraka justru hidup makmur sedang saat beriman mereka malah hidup menderita.

Bukti-bukti sejarah yang bertentangan dengan klaim Quran ini para akhirnya membuat kita bertanya-tanya tentang makna dari kata azab. Apakah kata ini hanya cara pandang Qur’an semata atas sebuah tragedi (ideological point of view). Yakni mem-frame sebuah kegagalan konstruksi, yang sudah sangat lumrah terjadi pada bangunan berusia sangat panjang (bahkan dam tertua di Indonesia pun belum ada yang bisa menyamai masa pakai Dam Ma’rib yang mencapai ribuan tahun itu), dengan perilaku keagamaan? Atau kata ini sebenarnya hanya ditujukan kepada audiens Quran sendiri sebagai sebuah mode of speech untuk meningkatkan keimanan daripada sebuah rujukan historis per se (balik lagi ke hipotesis Khalafallah)?

Kesimpulan

Disini kita telah melihat bagaimana kitab suci, dalam hal ini Qur’an, membiaskan actual event, kejadian historis, kehancuran Dam Ma’rib kedalam kerangka teologis iman-ni’mat dan kufur-azab. Pembiasan sejarah ini tidak hanya ditemui dalam Qur’an melainkan juga Bible. Ada banyak kajian soal ini terutama dalam Documentary Hypothesis, lebih khusus terkait peran para pendeta Deuteronomist yang mengecilkan pencapaian kerajaan Israel (Dinasti Omride) hanya karena mereka tidak menyembah Yahweh secara eksklusif dan membesar-besarkan pencapaian Judah, yang taat pada tuhan nasional bangsa Yahudi.

Implikasi logis dari pemikiran ini, anda tidak bisa percaya begitu saja terhadap klaim-klaim kitab suci akan kejadian masa lalu, terlebih jika anda menjadikannya sebagai sole reference tanpa cross check pada data-data sejarah yang lebih matang. Implikasi lainnya, kita membutuhkan teologi baru, kalam baru yang lebih bersahabat dengan kultur modern untuk menempatkan Qur’an dalam tempat yang lebih proper dalam lingkup abad 21.


Catatan Kaki

[1] The Dilemma of the Literary Approach to the Qur’an

[2] Les origines du Coran, le Coran des origines

[3] Tony Toh on Twitter

[4] Contribution à une meilleure compréhension de l’histoire de la digue de Ma’rib au Yémen

[5] Marib Dam — Wikipedia