Program kompos rumah tangga pernah diwacanakan sejak bertahun-tahun yang lalu. Barangkali dari semenjak wali kota Bandung Dada Rosada. Ketika itu RW kami mendapat alat pembuat kompos yang digerakkan oleh semacam pedal becak untuk membalik tabungnya. Alat itu tampaknya pernah digunakan sebentar sebelum akhirnya dianggurkan saja.

Menurut tautan Kompas ini wali kota Bandung sejak 2013 Ridwan Kamil mewacanakan alat biodigester hingga tiap RT. Dari namanya sepertinya alat ini gunanya untuk mengubah sampah jadi kompos juga. Sampai sekarang sudah tahun 2016 menurut saya tidak ada perubahan dari keluarga keluarga di RT kami dalam hal membuang sampah. Masih sama seperti puluhan tahun lalu. Tinggal dimasukkan ke keresek lalu buang di bak sampah di depan rumah.

Pernah juga diwacanakan program membuat sejuta biopori. Biopori ini adalah lubang yang dibuat di halaman, diameter kecil sekitar 20 cm atau kurang, dalamnya barangkali 1 meter. Lubang lubang ini seharusnya diisi oleh sampah sehingga menjadi kompos dan menyuburkan tanah. Konon biopori dapat menyerap air limpasan hujan supaya tidak menggenang.

Saya tidak membuat biopori di halaman dengan beberapa pertimbangan. Selain saya meragukan keefektifannya, sampah dapur yang dibuang di dalam biopori hanya akan menimbulkan masalah tikus. Barangkali ada yang bertanya apa manfaatnya kalau keluarga anda mulai membuat kompos dari sampah dapur. Tergantung dari cara pandang anda, manfaatnya bisa banyak atau tidak ada sama sekali.

Manfaat membuat kompos dari limbah dapur:

1. Mengurangi sampah rumah tangga.

Barangkali tukang sampah anda tidak langsung mengetahuinya, tetapi setelah rutin melakukannya maka tukang sampah anda akan mengetahui kalau sampah anda sekarang sudah tidak dikerubuti lalat dan bilatung karena yang anda buang hanya sampah anorganik alias sampah plastik, tissue, pampers dan bungkus-bungkus lain.

2. Mendapatkan kompos gratis untuk halaman anda.

Kompos yang dihasilkan bisa langsung digunakan untuk menyuburkan kembali tanah yang mulai gersang. Langsung taburkan di permukaan pot tanaman hias, di bawah pohon buah, dan di kebun sayur anda kalau punya. Kompos ini juga sangat bagus untuk media tanam pot.

3. Jika ini dilakukan oleh banyak keluarga maka kota akan diuntungkan karena volume sampah jadi berkurang.

Sampah organik setengah dari volume sampah total, bayangkan kalau semua rumah tangga mengubah sampah dapur mereka jadi kompos, jumlah sampah berkurang setengahnya! Tentu saja ini wacana, karena saya kurang tahu berapa jumlah rumah tangga yang melakukan proses sampah dapur ini. Saya pribadi belum pernah bertemu keluarga lain yang mengubah sampahnya jadi kompos.

Selain sisi manfaat, membuat kompos di rumah juga ada kerugiannya yaitu:

1. Perlu motivasi yang kuat dan konsisten. Kalau motivasi kurang, maka hal ini cuma dilakukan sebentar alias hangat- hangat ta** ayam.

2. Kerja sama dari seluruh anggota keluarga untuk membuang sampah organik secara terpisah. Kalau anda punya pembantu rumah tangga maka pembantu tersebut harus sangat dibimbing terus menerus untuk membiasakannya melakukan pembuangan sampah dapur rutin ke dalam komposter. Kalau anda tidak punya pembantu, maka sudah pasti anda akan lebih repot daripada biasanya.

3. Waktu dan tenaga. Anda harus menyisihkan waktu untuk membuang sampah dapur ke dalam komposter setiap hari selain membuang sampah nonorganik ke tempat sampah biasa. Juga kalau wadahnya sudah penuh dan matang (sudah jadi kompos) harus dianginkan selama beberapa hari lalu dimasukkan kedalam karung, atau langsung disebar di halaman.

4. Perlu biaya. Untuk membuat komposter yang antitikus saya menggunakan drum plastik bekas yang dimodifikasi.   Diperlukan dua buah komposter untuk dipakai berselang-seling. Jika yang satu sudah penuh maka didiamkan sampai matang selama beberapa bulan, jadi yang dipakai membuang sampah komposter yang satu lagi.

Perlu beberapa ratus ribu untuk membuatnya dan idealnya diperbarui setiap dua tahun. Sebagai komponen pengompos saya memakai gabah kering yang perlu dibeli secara rutin.

5. Mesin Penghasil Lalat. Di sinilah perlunya penyuluhan dari dinas ... (apa ya?) untuk para penggiat kompos rumah tangga, bagaimana caranya mencegah hal ini. Komposter yang diisi dengan sampah dari hewan misalnya kulit ayam, udang, isi perut ikan dlsb akan menimbulkan belatung.

Menurut bacaan-bacaan yang didapat dari Mbah Google katanya akibat kurang karbon alias C alias pengompos berwarna coklat. Tapi dari pengalaman saya meskipun sampah hewani itu sudah dikubur pakai gabah kering ya tetap saja bilatungan, dan bisa diprediksi beberapa hari kemudian komposter saya akan jadi mesin penghasil lalat. Ewww.....

Melihat daftar kerugian ini maka pemerintah kota seharusnya menyadari bahwa perlu insentif untuk menyukseskan program kompos rumah tangga. Insentif di sini tidak melulu berbentuk uang, bisa berupa drum komposter, gabah kering atau dibebaskan dari iuran sampah, misalnya. Karena tidak ada keluarga yang mau menjadi lebih repot dan ribet demi apa pun.

Juga untuk disadari oleh pemerintah kota bahwa menggantungkan nasib sampah organiknya di tangan warga adalah langkah yang sangat malas yang dilakukan oleh pengelola kota. Tidak bisa pemerintah kota berharap seluruh rumahtangga membuat kompos sampah rumah tangga. Dengan bimbingan yang full time pun belum tentu tercapai 25% rumah tangga melakukannya, apalagi tanpa bimbingan apa-apa.

Dari tautan PD Kebersihan ini saya kutip, ‘Untuk mengelola sampah Kota Bandung PD Kebersihan melakukan berbagai inovasi antara lain dengan bank sampah, pengomposan, biodigester, biokonversi dengan maggot dan lain sebagainya agar sampah yang di buang di TPA berkurang.’  Ada baiknya dihitung lebih jelas berapa persen berkurangnya, dan di mana lokasi-lokasi inovasi tersebut dan apakah sampai sekarang masih dilakukan atau tidak.

Untuk menangani masalah sampah yang mendesak ini saya tetap bersikukuh agar pemerintah kota menggunakan insinerator yang modern dan ‘hijau’ sebagai langkah jangka pendek. 'Hijau' dalam arti asap pembakarannya sudah disaring sedemikian rupa sehingga tidak mencemari lingkungan.

Buat insinerator yang banyak di empat penjuru kota Bandung sehingga tidak perlu membuang sampah ke Sarimukti lagi, atau ke sungai yang akhirnya mencemari lautan. Kasihan bumi….