Dulu, saya pernah mengikuti sebuah workshop grafologi. Itu adalah sebuah keterampilan untuk memahami pribadi seseorang melalui tulisan tangannya. Pada sebuah sesi one-on-one, saya diminta untuk menulis beberapa baris tulisan di kertas kosong, setelah itu si praktisi tersebut membaca karakter saya. 

Saya bisa katakan apa yang disampaikannya cukup akurat, seperti bahwa saya adalah pembohong yang baik dilihat dari saya menulis huruf ‘O’, atau sifat saya yang boros dilihat dari jarak per-kata yang saya buat, serta sikap saya yang tidak agresif jika dilihat dari cara saya menulis huruf ‘A’.

Namun dari semua hal itu, yang paling menarik perhatian saya adalah ketika dia bilang, “kamu tidak punya kecenderungan bunuh diri ketika menghadapi masalah yang berat.” Saya tertawa, dan bertanya kepada dia apa betul grafologi bisa mengorek sampai sejauh itu. Kemudian dia bilang, “tentu saja, tulisan kan hasil kerja otak, ia menuangkan apa yang ada di dalam sini.” Katanya sambil mengetuk pelipisnya.

Seusai sesi itu saya berterima kasih kepadanya untuk pengetahuan baru yang saya dapat. Tapi jujur saja, soal bunuh diri itu memang agak mengganggu pikiran saya. Kalau saya dikategorikan tidak punya kecenderungan bunuh diri, pastinya ada orang yang punya kecenderungan untuk itu. 

Saya sampai hari ini tidak bisa memosisikan diri saya sebagai orang yang punya opsi bunuh diri dalam hidup. Saya selalu berpikir, ya kalau orang terkenal seperti Robin Williams dan Ernest Hemmingway yang bunuh diri, mungkin akan terkesan dramatis dan melegenda, lah kalau saya? Yang ada malah dibully netizen.

 Kasus bunuh diri ‘live’ yang terjadi tanggal 17 Maret kemarin menjadi semacam paradoks bagi saya. Jika menurut Albert Camus bunuh diri adalah sikap pengecut karena melarikan diri dari absurditas hidup, maka menyiarkannya lewat facebook streaming tidak bisa lagi dikatakan pengecut. Ini adalah absurditas level dua yang sudah melampaui pemikiran Camus.

Dengan segala inovasi yang ditawarkan fasilitas facebook streaming untuk kita, orang tersebut memilihnya untuk menyiarkan kematiannya. Saya benar-benar tidak habis pikir, di era digital yang serba narsistik ini, kematian sendiri pun bisa dijadikan materi untuk upload. Apakah di akhirat nanti jumlah like dan comment bisa meringankan siksa kubur? Saya jadi penasaran.

Zaman keterbukaan media seperti sekarang membuat kita bisa bully-membully tanpa sama sekali merasa bertanggung jawab. Hal ini menyebabkan tumpulnya perasaan kita sebagai manusia dan tidak pernah ada usaha untuk menggunakannya. Akibatnya, komunikasi yang terasa dalam dan bermakna menjadi hampir hilang, orang tidak mau lagi bertemu untuk sekedar ngobrol, apa lagi berdiskusi untuk menyelesaikan persoalan yang sifatnya pribadi.

Bisa dibilang, depresi dan kecemasan adalah perasaan yang bisa dihilangkan melalui kontak psikologis  dengan manusia yang lain. Tetapi kita seringkali abai terhadap hal ini, padahal kesehatan mental perlu menjadi prioritas untuk meningkatkan indeks kebahagiaan masyarakat. Menurut data riset kesehatan dasar tahun 2013, sekitar 6% penduduk Indonesia di atas usia 15 tahun, mengalami gangguan kesehatan mental.

Artinya, sekitar 19 juta dari total penduduk Indonesia mengalami hal ini, tentu saja seluruh jumlah ini bukan orang dengan gangguan mental berat seperti skizofrenia. Jumlah ini adalah orang-orang dengan depresi dan kehilangan semangat hidup, yang mengarah pada perilaku bunuh diri. Jumlah yang besar ini sayangnya tidak sebanding dengan tenaga psikiater kita, menurut komisi IX DPR RI, rasio psikiater dan penduduk kita adalah 1:500.000 orang, sedang menurut WHO, standar yang ideal untuk jumlah psikiater dan penduduk adalah 1:30.000.

Selain jumlah yang sangat jomplang itu, yang membuat masalah kesehatan mental ini sulit teratasi adalah kecenderungan masyarakat kita sendiri yang tidak akrab dengan dunia psikiater. Kita lebih percaya ustad dan ahli ruqyah untuk menyembuhkan gangguan mental daripada datang ke psikiater. Orang-orang itu butuh didengar dan dihapus traumanya, bukan disembur air Yasin.

Kita perlu akui, kita telah menjadi sangat lalai dalam memperhatikan perasaan orang lain. Dzikir jempol yang kita lakukan setiap saat membuat kita lupa terhadap manusia di sekitar kita, kita menjadi sangat keras dan beku. Sehingga orang tidak percaya lagi untuk bisa mendapatkan empati dari orang lain.

Kalau kita tidak segera menyadari peran penting kita bagi orang di sekitar kita, bunuh diri bisa segera menjadi tren. Mulai dari masalah dibully di sekolah, frustrasi di tempat kerja, atau putus cinta karena kekasih dilamar orang, semuanya bisa menjadi motif kuat untuk bunuh diri. Dunia menjadi terasa begitu sempit, karena satu-satunya jalan keluar dari penderitaan adalah dengan meninggalkan dunia ini.

Mungkin sesekali kita perlu sedikit menjauh dari media sosial dan mulai lebih peka terhadap apa yang ada di sekitar kita. Menghargai apa yang ada di dekat kita, bukan berusaha mendekatkan apa yang jauh dari kita. Kita perlu belajar mencintai dan membangun komunikasi yang bermakna, agar hidup tidak serba sensitif, dan membuat marah jadi kebiasaan. Masih mending bisa marah, yang tidak bisa akan diam dan memendam, yang seperti ini jauh lebih sulit diatasi.

Kata sahabat saya, kita tidak bisa menilai aksi bunuh diri sebagai kepengecutan, karena mungkin masalah yang kita anggap sepele bagi orang lain bisa bermakna seluruh hidupnya. Mungkin itu betul, tapi  itu tidak bisa dijadikan pembenaran. Bagi saya, dosa terbesar dari bunuh diri adalah, menyia-nyiakan karunia. Di belahan bumi lain ada orang yang tidak punya pilihan selain mati, atau hidup namun mati bisa menjadi pilihan lebih baik.

Seperti kata Bob Marley, “I don’t have that kind of rich (money and possession), my richness is life, forever.)