Sejak awal ditemukannya antibiotik pada tahun 1928 oleh Alexander Fleming secara ‘tidak sengaja’, telah menjadikan perubahan hebat pada dunia medis. 

Pengembangan kapang Penicillium chrysogenum syn. P. notatum lebih lanjut telah menyelamatkan banyak nyawa pada Perang Dunia kedua (PD II). Namun, sejak awal pengenalan klinisnya tahun 1940-an telah banyak isu-isu yang dilaporkan berkaitan dengan penggunaan antibiotik. Sejak saat itu, penggunaan antimikroba dan ketidaktepatan penggunaannya telah meningkat.

Pada tahun 2013 Central for Disease Control and Prevention (CDC) mengumumkan bahwa saat ini manusia telah memasuki “post-antibiotik era” dan Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization, WHO) pada tahun 2014 memperingatkan bahwa krisis resistensi antibiotik telah menjadi ancaman kesehatan serius di dunia (WHO, 2011; Michael, 2014; Spellberg, 2014). 

Pada Mei 2015, rencana aksi global untuk mengatasi Antimicrobial Resistance (AMR) disahkan di Majelis Kesehatan Dunia (World Health Assembly, WHA), yang didukung oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (Food and Agriculture Organization, FAO) dan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (World Organisation for Animal Health, OIE). 

Tujuan pertama dari rencana tersebut adalah untuk 'meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang resistensi antimikroba melalui komunikasi, pendidikan dan pelatihan yang efektif.

Residu antibiotik pada hewan ternak, sebagian besar terakumulasi di hati dan juga telur pada ayam. Apakah proses pengolahan yang sedemikian rupa dapat menghilangkan antibiotik? dr. Harry Parathon, SpOG (KPRA) menyebutkan bahwa proses pengolahan dengan cara merebus, membakar, ataupun menggoreng daging dapat menurunkan persentase residu antibiotik pada daging, namun tidak dapat benar-benar menghilangkan antibiotik yang ada.

Lalu, bagaimana kita dapat mengonsumsi makanan tersebut yang merupakan sumber protein paling mudah diperoleh? Salah satu cara tentunya dengan memilih telur dan daging dari peternakan yang tidak menggunakan antibiotik. Atau jika terpaksa harus menggunakan antibiotik, hewan ternak minimal 2 minggu setelah diberikan antibiotik baru boleh dipotong untuk dikonsumsi.

Resistensi antibiotik terjadi ketika bakteri berevolusi untuk menghindari efek dari antibiotik, melalui berbagai mekanisme yang berbeda. Bakteri dapat mengubah struktur komponennya (disebut resistensi intrinsik), seperti penicillin yang berefek pada mekanisme pembentukan dinding bakteri, di mana ia tidak akan berefek pada bakteri yang tidak memiliki dinding sel.

Bakteri juga dapat mengalami mutasi, mengubah susunan protein, maupun transfer DNA dari bakteri yang sudah resisten sebelumnya. Akibatnya, saat ini sudah dikenal sebutan superbugs, yakni strain dari bakteri, virus, parasit dan fungi yang resisten ke sebagian besar antibiotik dan obat lain yang biasa digunakan untuk mengobati infeksi yang disebabkannya.

Saat ini pandemi COVID-19 sudah masuk tahun kedua, di mana seperti yang kita tahu bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh virus. Namun, antibiotik hampir pasti diresepkan pada pasien yang terdiagnosis COVID-19.

Direktur PAHO, Carissa Etienne, mengatakan bahwa penggunaan antimikroba meningkat ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan konsekuensi yang berpotensi serius hingga berisiko kehilangan obat yang diandalkan untuk mengobati infeksi umum.

WHO menyebutkan pada kondisi sekarang, resistensi obat telah terjadi pada bakteri, Mycobacterium tuberculosis, virus, parasit malaria, serta fungi. [1]Dilaporkan resistensi antibiotik di Amerika Serikat membunuh sekitar 23.000 pasien per tahun dan menimbulkan biaya pengobatan tambahan lebih dari $20 miliar.

Biaya AMR menjadi signifikan untuk perekonomian. Selain kematian dan kecacatan, penyakit yang berkepanjangan mengakibatkan lama rawat inap di rumah sakit, kebutuhan akan obat-obatan yang lebih mahal, dan tantangan keuangan bagi mereka yang terkena dampak.

Di Indonesia sendiri, lingkar masalah AMR adalah berputar pada residu antibiotik pada hewan ternak, under-use, misuse dan overuse antibiotik di Rumah Sakit, Puskesmas, Apotek dan akhirnya masyarakat umum. WHO telah mengklasifikasi kategori antibiotik, sebagai pedoman penggunaan antibiotik secara bijak dan mengurangi kejadian AMR, yaitu Access, Watch dan Reserve.

Dalam penanggulangan resistensi antimikroba diperlukan pendekatan “One Health”, yaitu pendekatan kolaboratif, multi sektoral, dan transdisipliner — bekerja di tingkat lokal, regional, nasional, dan global — dengan tujuan mencapai hasil kesehatan yang optimal dengan mengenali interkoneksi/keterkaitan antara manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan bersama.

Pemerintah Indonesia telah mengadopsi pendekatan ini dan memasukkannya ke dalam Rencana Aksi Strategis Pengendalian Resistensi Antimikroba (RAN-PRA) tahun 2020-2024.

Adapun 6 strategis RAN-PRA 2020-2024 adalah:

1. Meningkatkan kesadaran dan pemahaman PRA melalui komunikasi efektif, Pendidikan dan Pelatihan

2. Meningkatkan pengetahuan dan bukti ilmiah melalui surveilans dan penelitian

3. Mengurangi insidensi infeksi melalui tindakan sanitasi, higiene, serta menerapkan PPI

4. Mengoptimalkan penggunaan antimikroba pada manusia, hewan, ikan, dan tanaman

5. Membangun investasi untuk menemukan tata cara pengobatan, metode diagnostik, dan vaksin baru dalam upaya mengurangi AMR

6. Membangun tata kelola dan koordinasi terpadu dalam rangka PRA.

Latar belakang terjadinya resistensi antimikroba adalah adanya penggunaan yang irasional, pelayanan antimikroba tanpa resep, pengobatan dengan antimikroba yang irasional oleh tenaga medis, serta adanya temuan BPOM yang kritikal.

Apoteker berperan penting dalam penggunaan antimikroba, baik di segala sektor mulai dari apotek, puskesmas, klinik, maupun rumah sakit. Informasi dan pemahaman yang tepat dapat memberikan kesadaran bagi masyarakat.

Salah satu kejadian yang masih sering terjadi dan mendalangi peningkatan resistensi adalah saat pasien diresepkan antibiotik, dia menghentikan pengobatan karena sudah merasa sembuh/membaik.

Padahal dokter telah memperhitungkan jumlah dan durasi untuk mengoptimalkan pengobatan, sehingga bakteri jahat benar-benar mati secara keseluruhan. Apabila pasien tidak menghabiskan obat hingga tuntas (tidak patuh terhadap aturan pakai) maka kuman yang sudah lemah berkesempatan untuk memperkuat diri kembali. 

Tak jarang juga dijumpai pasien menginginkan membeli antibiotik tanpa membawa resep dari dokter, dengan alasan sudah pernah menggunakan sebelumnya atau lain hal. Faktanya di dalam tubuh terdapat flora normal, yang saat kondisi sakit memiliki mekanisme pertahanan untuk membunuh bakteri secara alami melalui sel darah putih.

Meski terkadang apabila jumlah bakteri terlalu banyak atau toksinnya terlalu kuat, maka antibiotik diperlukan untuk membantu. Perlu kita pahami bahwa tanpa adanya diagnosis yang tepat, kondisi sakit seseorang belum dapat dipastikan disebabkan oleh bakteri.

Penggunaan antibiotik pada kondisi ini dapat menyebabkan flora normal yang ada di tubuh malah mati, sehingga kekebalan tubuh (sistem imun) menjadi terganggu.

Sebagai tenaga kesehatan, Apoteker memiliki kewajiban untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat dan tenaga kesehatan lain melalui peningkatan kesadaran dan edukasi terkait resistensi antimikroba dan penggunaan antimikroba secara bijak dalam pelayanan kesehatan.

Bertepatan dengan Pekan Kesadaran Resistensi Antimikroba (World Antimicrobial Awareness Week), yang diadakan antara 18-24 November, saya mengajak pemerintah, organisasi profesi, swasta dan masyarakat berkolaborasi dan berkomitmen untuk keberhasilan mengendalikan AMR. Sesuai tema WAAW tahun ini, "Spread Awareness, Stop Resistance" (Tingkatkan kepedulian, Hentikan Resistensi)!


Penulis: apt. Dwi Titus Indriyawati, S.Farm

  

 Referensi

[1] Habboush Y, Guzman N. Antibiotik Resistance. 2021 May 4. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2021 Jan–. PMID: 30020649.