Di samping komputer tempat saya menulis, ada beberapa buku yang saya tumpuk secara acak dan saling tindih-menindih. Buku yang pertama diletakkan di atas buku yang kedua, yang kedua di atas yang ketiga, dan begitu seterusnya. 

Terkait jumlahnya, saya tidak tahu persis. Yang jelas, masing-masing dari buku tersebut membentuk suatu tumpukan.

Dalam bahasa ilmu logika, masing-masing dari buku yang ada di hadapan saya itu merupakan denotasi/ekstensi (mishdâq/mâshadaq) dari suatu konsep universal bernama buku. Buku itu merupakan konsep universal (mafhûm kulliy). Sedangkan individu-individu yang berada dalam cakupannya ialah buku-buku yang sekarang ada di hadapan saya itu.

Kalau ada yang bertanya: Individu dari satu konsep universal bernama buku itu ada wujudnya atau tidak? Jawabannya jelas ada. Di samping ada wujudnya, buku-buku itu juga—seperti yang saya katakan tadi—saya tumpuk dalam posisi tertentu sehingga lahirlah suatu makna yang saya sebut sebagai "tumpukan" itu.

Sekarang saya mau bertanya: Individu (mâshadaq) dari bukunya dikatakan ada—dan memang dia benar-benar ada. Tapi "tumpukan" itu sendiri ada atau tidak? Renungkan sejenak, tarik nafas dalam-dalam, putar baut otak Anda sedikit. Dan pada akhirnya, Anda akan mengatakan bahwa tumpukan itu tidak ada.

Apa yang disebut sebagai tumpukan itu hanya berupa makna yang terlahir dari pengamatan saya terhadap buku yang saling tindih-menindih itu. Kalau ditanya: ada wujudnya atau tidak? Jelas tidak ada.

Kalau Anda mau mengatakan ada, di mana keberadaan makhluk yang bernama tumpukan itu? Yang Anda lihat dan yang Anda anggap ada itu hanya beberapa buah buku saja. 

Yang disebut sebagai tumpukan itu sendiri sebenarnya tidak ada. Buktinya, kalau buku-buku itu saya pisah satu-satu, tidak ada lagi yang namanya tumpukan. Makna tumpukan itu, sekali lagi, terlahir dari pengamatan kita terhadap susunan buku-buku itu, yang sekalipun tidak ada wujud konkretnya, tapi akal kita bisa memahaminya.

Nah, dalam bahasa filsafat Islam, apa yang saya jelaskan di atas itu disebut dengan istilah umûr 'itibâriyyah/mudrakât 'itibâriyyah. Saya belum bisa memberikan terjemahan yang pas untuk istilah itu.

Tapi, dengan memperbanyak contoh, barangkali kita bisa lebih memahami istilah itu dengan benar. Karena itu, untuk lebih memperjelas, saya akan ambil contoh lain yang lebih sederhana lagi.

Arahkan pandangan Anda ke atas langit. Lalu, bayangkan bahwa di atas sana ada beberapa burung yang sedang terbang secara berduyun-duyun. Sekarang saya mau mengajukan pertanyaan sederhana: Apa yang Anda lihat itu? Pasti Anda akan menjawab burung.

Tapi, sejujurnya, kalau mau jawaban yang lebih teliti, yang Anda lihat itu sebenarnya bukan burung, melainkan individu (mâshadaq) yang diberlakukan kepadanya konsep universal bernama burung. Makna burungnya itu sendiri hanya di kepala. Karena dia termasuk konsep universal.

Sementara yang Anda lihat itu ialah individu-individu yang berada dalam cakupan kata burung. Sekarang Anda melihat individu-individu dari burung. Lalu, Anda juga melihat bahwa burung-burung itu terbang dan berduyun-duyun. Setelah Anda amati lalu lahirlah, misalnya, makna "kumpulan"; kumpulan burung-burung.

Pertanyaannya: Dari mana makna kumpulan itu Anda hasilkan? Makna kumpulan itu Anda hasilkan dari pengamatan Anda terhadap burung-burung terbang yang saling berduyung-duyun itu. Sekarang kalau kita bertanya: makna "kumpulan" itu sendiri ada atau tidak?

Orang mungkin menyangkanya ada, dan diyakini bahwa kumpulan burung itu merupakan individu yang berada dalam cakupan kata kumpulan. Padahal nyatanya tidak ada. Buktinya kalau masing-masing dari burung itu berpisah, tidak akan ada lagi yang namanya kumpulan.

Nah, dengan demikian, makna kumpulan itu masuk kategori umûr 'itibâriyyah. Dia adalah makna yang terhasilkan dari sesuatu, berdasarkan sudut pandang tertentu, tapi dia sendiri tidak memiliki wujud yang berdiri sendiri.

Dalam contoh tersebut, yang benar-benar ada itu hanyalah burung, sementara "kumpulan" itu sendiri adalah makna yang kita tangkap dari burung-burung yang terbang secara berduyun-duyun itu. Contoh lain saya kira sangat banyak.

Agar lebih puas, saya beri contoh satu lagi. Ketaatan dan kemaksiatan. Dua kata yang sering kita dengar dalam kehidupan beragama. Katakanlah suatu ketika, misalnya, handphone milik teman Anda tertinggal di rumah Anda. Tak lama kemudian Anda mengambil handphone itu, dengan niatan untuk mencuri dengan menyembunyikannya.

Pertanyaanya: perbuatan Anda ini tergolong apa? Taat atau maksiat? Jawabannya jelas, dengan motif yang buruk perbuatan Anda menjadi kemaksiatan. Tapi, bagaimana kalau dengan perbuatan yang sama, yakni mengambil handphone, Anda memiliki motif yang positif, seperti mengamankan barang itu, misalnya, agar tidak hilang? Jelas, dengan niatan yang positif, perbuatan Andapun berubah menjadi ketaatan. Padahal perbuatannya sama.

Sekarang saya mau bertanya: Ketaatan dan kemaksiatan itu ada wujudnya atau tidak? Jelas tidak ada. Karena yang ada itu hanyalah perbuatan Anda, yang dalam hal ini ialah mengambil handphone. Tapi kedua makna itu dihasilkan dari perbuatan tersebut, berdasarkan sudut pandang yang berbeda.

Ketika dia sesuai dengan tuntunan Agama maka ia disebut sebagai ketaatan. Tapi manakala bertentangan dengan ajaran Agama maka ketika itu dia berubah menjadi kemaksiatan. Dengan demikian, ketaatan dan kemaksiatan juga termasuk umûr 'itibâriyyah.

Secara harfiah, kata umûr merupakan bentuk jamak dari kata amr, yang bisa kita artikan sebagai hal atau perkara. Sedangkan 'itibariy diambil dari kata 'itibâr, yang bisa kita artikan sebagai "pertimbangan" atau "sudut pandang".

Dari sini, apa yang disebut sebagai umûr 'itibâriyyah itu bisa kita artikan sebagai hal-hal, perkara-perkara, atau makna-makna yang dihasilkan dari sesuatu berdasarkan sudut pandang atau pertimbangan-pertimbangan tertentu. Contohnya seperti yang saya sebutkan di atas tadi.

Yang disebut sebagai umûr 'itibâriyyah itu tidak ada wujud konkretnya, karena dia hanya berupa makna yang dihasilkan dari sesuatu melalui pengamatan akal kita terhadap sesuatu itu. Contoh lain, misalnya, waktu.

Pernah tidak suatu ketika Anda melihat makhluk berwujud bernama waktu? Tidak ada. Anda tidak akan pernah menemukan makhluk yang bernama waktu itu. Paling jauh yang bisa Anda tunjuk itu ialah jam. Tapi waktu itu sendiri tidak ada.

Waktu itu bisa ada karena adanya gerak. Kalau tidak ada gerak, tidak ada yang namanya waktu. Jadi, yang ada wujud konkretnya itu ialah sesuatu yang bergerak, sementara waktu itu sendiri, sebagai penghitung gerak, tidak ada. Dengan demikian, dia juga termasuk umûr 'itibâriyyah.

Dalam banyak pembahasan, istilah umûr 'itibâriyyah ini sering diulang-ulang, baik dalam pembelajaran filsafat Islam maupun dalam buku-buku ilmu kalam. Sebagai contoh, misalnya, dalam pembahasan mengenai sifat Tuhan.

Tuhan memiliki sejumlah sifat yang dalam istilah kaum Asy'arian disebut dengan istilah shifât ma'âni (sifat-sifat yang berupa makna), seperti qudrah (kekuasaan), iradah (kehendak), ilmu (pengetahuan), hayat (kehidupan), dan sifat-sifat lain, yang jumlahnya ada tujuh itu.

Muncul satu pertanyaan di kalangan para teolog: sifat-sifat Tuhan itu ada wujudnya atau tidak? Muktazilah menafikan sifat-sifat itu sama sekali. Asya'irah mengatakan ada. Tapi sifat-sifat tersebut ada sebagai sebuah makna, yang ada dengan adanya dzat. Artinya dia tidak terpisah dari dzat.  

Nah, penulis buku al-Qaul al-Sadîd, Syekh Mahmud Abu Daqiqah, berpendapat bahwa sifat ma'ani yang jumlahnya ada tujuh itu pada hakikatnya hanya umûr 'itibâriyyah saja. Artinya, sifat-sifat tersebut hanya berupa makna, yang tidak memiliki wujud konkret, juga tidak berdiri sendiri dari dzat Tuhan.

Karena itu, ketika kita meyakini sifat-sifat tersebut, jangan dibayangkan bahwa di sana ada banyak wujud sehingga Tuhan itu kita yakini sebagai wujud yang berbilang seiring dengan berbilangnya sifat.

Yang ada itu hanya satu dzat. Sementara sifat-sifat itu hanya ada sebagai umûr 'itibâriyyah. Ini hanya sebagai salah contoh. Di luar sana masih banyak contoh-contoh yang lain. Demikian, wallahu 'alam bisshawâb.