Dalam suatu kesempatan, ada salah seorang teman—sebutlah namanya Choky—memberi nasihat kepada saya dengan nasihat sebagai berikut:

Eh, coba kamu dengerin nih ya. Sebenarnya kamu itu bisa aja menikah kalau kamu sudah mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang melimpah. Tapi, masalahnya, kamu baru bisa mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang melimpah kalau memang kamu benar-benar sudah menikah!”

Setelah menyimak nasihat tersebut, tiba-tiba keesokan harinya saya berjumpa dengan seorang perempuan cantik yang datang menghampiri saya. Dia membawa setangkai bunga dengan sepucuk surat yang ia minta agar saya baca.

Dalam surat itu tertulis: “Mas, sejak pertemuan kemarin, terus terang ya, aku jatuh sama kamu. Aku ingin menjadi istri kamu, kalau kamu bersedia menghampiri ayahku. Tapi ingat, mas. Kamu baru bisa menghampiri ayahku kalau kamu sudah menjadikan aku sebagai istri kamu.”  

Melalui dua narasi pendek tersebut, bisa disimpulkan bahwa saya baru bisa menikah kalau saya sudah bekerja, dengan penghasilan yang melimpah. Tapi saya baru bisa bekerja dengan penghasilan yang melimpah kalau saya sudah menikah.

Saya bisa menjadikan perempuan tadi sebagai istri saya apabila saya datang menemui ayahnya. Tapi, saya baru bisa menemui ayahnya apabila saya sudah menjadikan dia sebagai istri dan kekasih saya. 

Pertanyaan yang harus segera dijawab ialah: Mungkinkah saya mewujudkan dua hal yang saling bergantung satu sama lain seperti tadi itu secara bersamaan? Nalar yang waras dan normal pasti dengan tegas akan menjawab tidak. Karena di sana ada sesuatu yang baru bisa terwujud ketika terwujudnya sesuatu yang lain, tetapi sesuatu yang lain itu sendiri baru bisa terwujud ketika terwujudnya sesuatu yang pertama itu.

Itulah contoh sederhana untuk memahami konsep daur (vicious circle) yang sering kita temukan dalam buku-buku teologi Islam klasik itu. Konsep daur ini sering disinggung dalam banyak tema, tak terkecuali ketika berbicara tentang asal muasal alam semesta, yang pada akhirnya akan berujung pada pembuktian keberadaan Tuhan.

Daur itu, sebagaimana ditulis al-Jurjani dalam buku al-Ta’rifât, ialah “bergantungnya sesuatu kepada sesuatu yang lain yang bergantung kepada sesuatu itu” (tawaqquf al-Syai ‘ala ma yatawaqqafu ‘alaihi). Contoh sederhananya seperti yang saya sebutkan tadi.

Dua narasi pendek di atas hanyalah narasi fiktif yang sengaja saya jadikan sebagai ilustrasi untuk memahami apa yang disebut sebagai daur itu. Dengan membaca dua narasi tersebut, terlihat bahwa akal kita sendiri secara spontan akan mengatakan bahwa daur itu memang mustahil (impossible).

Tidak mungkin rasanya kita mengamini keberadaan sesuatu yang bergantung pada sesuatu yang lain, sementara sesuatu yang lain itu sendiri wujudnya bergantung pada wujud dari sesuatu yang pertama itu.

Namun, penting dicatat bahwa daur itu sendiri tidak semuanya mustahil. Dalam konteks ini, Syekh Mahmud Abu Daqiqah, penulis buku al-Qaul al-Sadid, memperkenalkan dua macam daur. Pertama, ada yang disebut daur ma’iy. Kedua, ada yang diistilahkan dengan daur sabqiy.

Yang dimaksud dengan daur ma’iy ialah bergantungnya penalaran/pemahaman tentang wujud sesuatu kepada penalaran/pemahaman tentang wujud dari sesuatu yang lain.

Contoh sederhananya seperti bapak dan anak. Pemahaman kita tentang bapak—sebagai bapak—meniscayakan pemahaman kita tentang anak—sebagai anak. Sebagaimana pemahaman kita tentang anak juga bergantung pada pemahaman kita tentang bapak.

Dan daur semacam ini jelas tidak mustahil. Karena kebapak-an dan ke-anak-an itu, dalam istilah para teolog, hanya ‘umur ‘itibariyyah saja, yakni sebagai makna abstrak yang tidak ada wujud konkritnya di alam nyata.

Artinya di sana kita tidak mengatakan bahwa wujud anak bergantung pada wujud bapak, dan wujud bapak juga bergantung pada wujud anak. Tapi yang kita katakan di sana ialah pemaknaannya, sekali lagi pemaknaannya, bukan wujudnya. Singkatnya, daur seperti ini tidaklah mustahil.

Daur yang mustahil itu ialah daur yang kedua itu, yakni daur sabqiy. Daur sabqiy ini dibagi lagi menjadi dua: Satu, daur sharih. Dua, daur mudhmar. Daur sharih ialah daur yang ketergantungannya hanya dengan satu perantara. Sementara daur mudhmar ialah daur yang ketergantungannya melibatkan lebih dari satu perantara.

Lebih jelasnya, daur sharih ini hanya melibatkan dua subjek. Misalnya A dan B. A menciptakan B. B menciptakan A. Sementara dalam daur mudhmar yang terlibat itu lebih dua subjek. Bisa tiga, empat, lima dan seterusnya. Katakanlah A, B, C, dan D. A menciptakan B. B menciptakan C. C menciptakan D. Dan D sendiri menciptakan A.

Contoh daur sharih: Ahda menciptakan Nazhifah, Nazhifah menciptakan Ahda. Contoh daur mudhmar: Ahda menciptakan Nazhifah, Nazhifah menciptakan Salma, Salma menciptakan Ulfa, dan Ulfa sendiri menciptakan Ahda.    

Bukti Kemustahilan Daur

Di atas kita katakan bahwa sebetulnya kemustahilan daur itu sendiri, jika kita amati dari contoh-contohnya, hampir tidak membutuhkan dalil. Namun, ketika berbicara tentang keberadaan Tuhan, beberapa argumen yang dikemukakan—terutama yang datang dari kelompok materialis—kadang tak menghiraukan kemustahilan ini.

Untuk itu, kita memerlakukan penjelasan yang lebih detail lagi untuk menegaskan kemustahilan itu. Beberapa argumen yang bisa dikemukakan bisa kita ringkas kedalam dua poin utama sebagai berikut:

Pertama, apabila masing-masing dari dua wujud itu saling bergantung satu sama lain, maka hal itu akan berkonsekuensi pada terhimpunnya dua hal yang saling bertentangan (naqidhain). Dan terhimpunnya dua hal yang bertentangan itu jelas mustahil. Karena ia mustahil, maka daur pun—yang dapat melahirkan konsekuensi tersebut—menjadi mustahil.

Mengapa bisa demikian? Dalam hukum kausalitas, kita tahu bahwa sebab itu mendahului akibat. Artinya, ada sebab dulu, baru ada akibat. Bukan terbalik. Sebab itu mendahului akibat. Dan akibat baru ada setelah adanya sebab. Dan ketentuan ini sangat masuk akal. Orang waras pasti tidak akan ada yang mengingkari hal itu.

Dengan demikian, ketika kita mengatakan bahwa Ahda menciptakan Nazhifah, dan Nazhifah menciptakan Ahda, maka masing-masing dari Ahda dan Nazhifah itu akan menjadi sebab (‘illat) sekaligus menjadi akibat (ma’lul). Seolah-olah kedua-duanya kita katakan sebagai sesuatu yang mendahului, juga tidak mendahului. Menjadi akibat, juga tidak menjadi akibat. Diadakan, juga tidak diadakan. Dan begitu seterusnya. Dan ini tidak akan pernah terjadi. Karena dua hal yang kontradiktif itu--seperti kata para logikawan--tidak akan saling terhimpun, juga tidak akan saling terangkat (la yajtami'an wa la yartafi'an). 

Kedua, apabila masing-masing dari dua wujud itu saling bergantung satu sama lain, maka yang bergantung itu pada akhirnya pasti akan bergantung pada dirinya sendiri (artinya dia baru bisa ada kalau dia diadakan oleh dirinya sendiri). Sedangkan bergantungnya sesuatu kepada dirinya sendiri itu mustahil. Karena ia mustahil, maka daur pun—sebagai sesuatu yang dapat mengakibatkan hal itu—menjadi mustahil.

Apa maksudnya? Ambillah contoh bahwa Ahda menciptakan Nazhifah, dan Nazhifah menciptakan Ahda. Dengan demikian, Nazhifah baru bisa ada kalau diadakan oleh Ahda. Tapi Ahda itu sendiri—sebagai sesuatu yang mengadakan Nazhifah—baru bisa ada kalau diadakan oleh Nazhifah.

Artinya di sana ada sesuatu yang baru bisa ada kalau dia mewujudkan dirinya sendiri. Nazhifah membutuhkan Ahda. Tapi Ahda juga membutukan Nazhifah. Dengan demikian, Nazhifah baru ada setelah adanya Ahda. Tapi Ahda juga baru ada setelah adanya Nazhifah.

Pada akhirnya, keberadaan Nazhifah akan bergantung pada keberadaan dirinya sendiri. Karena adanya Ahda—sebagai sosok yang menciptakan Nazhifah—juga bergantung pada keberadaan Nazhifah.

Begitu juga sebaliknya. Keberadaan Ahda akan bergantung pada dirinya sendiri. Karena adanya Nazhifah—sebagai sosok yang menciptakan Ahda—juga bergantung pada keberadaan Ahda.

Dengan demikian, akan ada sesuatu yang menjadi ‘illat (sebab) bagi dirinya sendiri. Di samping menjadi ‘illat bagi dirinya sendiri, dia juga menjadi ma’lul (akibat) yang disebabkan oleh dirinya sendiri. Pertanyaannya: Mungkinkah hal ini terjadi? Tanpa harus repot-repot memeras kepala, akal sehat kita dengan sendirinya akan berkata tidak.

Karena itu, sebagian ulama memandang bahwa kemustahilan daur ini sebenarnya tak memerlukan pembuktian. Dalil kemustahilannya adalah akal sehat manusia itu sendiri. Dalil-dalil yang dikemukakan di atas hanya sebagai penegasan saja. Kalau masih ada yang menolak, boleh jadi ada baut yang lepas dari kepalanya. Sekian, wallahu ‘alam bisshawab.