Manusia gemar berkumpul, apalagi jika sama-sama memiliki satu tujuan. Alasan berkumpul tidak harus rasional, bisa juga irasional.

Jutaan orang berkumpul di Makkah untuk melaksanakan ibadah haji setiap tahunnya. Semua berharap mendapatkan pengampunan dan surga seperti yang dijanjikan. Karena itu, banyak yang rela mengumpulkan harta bendanya dengan cara menabung untuk bisa pergi ke tanah suci.

Umat Katolik di Vatikan.

Setiap tahun, jutaan umat Katolik dari berbagai belahan dunia rela mengunjungi Vatikan dan Roma untuk berziarah. Pada perayaan Tahun Yubileum 2015, jumlah peziarah yang datang mencapai 33 juta orang. 

Bagi umat Katolik, Tahun Yubileum disebut tahun pengampunan. Maka tak heran, jutaan orang berbondong-bondong merayakannya di pusat kegiatan agama Katolik tersebut.

Di India, jutaan umat Hindu melakukan ritual mandi di Sungai Gangga. Dalam kepercayaan Hindu, air sungai Gangga dianggap bisa menghilangkan dosa. Meski sungai itu merupakan salah satu sungai tercemar di dunia, jutaan umat Hindu India tak ragu untuk mandi di sana.

Selain tiga contoh di atas, masih banyak ritual-ritual keagamaan yang dikuti jutaan orang. Tak perlu penjelasan mendalam, jutaan orang tidak akan berpikir rasional jika sudah menyangkut kepercayaan. Jika sudah percaya, apa pun akan mereka lakukan dengan sukarela.

Dari kacamata di atas, apa yang terjadi dalam dua Aksi Bela Islam (411 dan 212) tidak bisa dilepaskan dari kegemaran manusia untuk berkumpul dengan alasan agama. Mengapa ratusan ribu orang bisa mudah berkumpul di sebuah tempat merupakan hal yang wajar.

Berita yang mengabarkan ada orang yang rela menjual mobilnya demi bisa mengikuti aksi di Monas perlu disikapi dengan biasa. Apa hebatnya dibanding orang-orang Syiah yang rela melukai tubuhnya dengan senjata tajam saat perayaan Asyura?

Baca Juga: Aksi Bela Anu

Juga berita rombongan santri dari Ciamis yang rela jalan kaki menuju ibu kota. Meski di tengah jalan, mereka memutuskan naik bus karena takut ketinggalan aksi. Apa anehnya dibanding ritual umat Hindu di Nepal yang berjalan dengan telanjang kaki sejauh 15 kilometer menuju sebuah candi?

Maka, membanggakan ratusan ribu orang yang rela mengikuti aksi 212 adalah sesuatu yang konyol. Apalagi membandingkannya dengan aksi parade Bhinneka Tunggal Ika yang digelar Sabtu, 19 November lalu.

Dua aksi tersebut jelas-jelas berbeda sehingga tidak apple to apple jika dibandingkan. Satunya menggunakan motif agama, sementara yang satunya tidak.

Jika kita amati, agama memang bisa menggerakkan umat untuk berkumpul di suatu tempat. Di Indonesia, di mana agama dianggap paling penting di atas segalanya, sangat mudah mengumpulkan massa dengan embel-embel agama. Apalagi jika ditambah dengan janji-janji surga.

Karena itu, tidak heran jika acara-acara keagamaan yang menghadirkan ustaz, ulama, atau pendeta banyak dihadiri umat. Semua datang dengan keyakinan bahwa mereka sedang beribadah.

Dan itu terasa biasa saja.