Pada era pascamodern ini umat islam berupaya mempertahankan eksistensi agama, karena sebuah kegelisahan terhadap suatu penyakit toleransi yang terus menggerogoti umat islam, namun umat islam sendiri tidak sadar dan tidak tahu bahwa penyakit itu sendiri sedang diderita, sehingga tidak ada upaya untuk mengobatinya.     

Rasanya perlu juga di jelaskan bahwa Toleransi yang dimaksud dalam pembicaraan ini merupakan Landasan bersama sebagai akibat dalam suatu wilayah yang didalamnya di huni oleh orang-orang dengan berbagai keyakinan agama, Landasan bersama ini hendaknya dijadikan Pedoman dalam keseharian karena di mungkinkan sekali adanya pertemuan dan interaksi antara pemeluk agama yang satu dengan yang lain

Satu hal yang perlu kita insyafi bahwa masing-masing pemeluk agama meyakini bahwa agama merekalah yang paling benar, selanjutnya seseorang yang mengajak orang lain untuk memeluk agama yang ia yakini kebenarannya adalah wajar, karena hal itu merupakan konsekwensi logisnya, meski mungkin ada beberapa agama atau suatu kepercayaan yang dalam sistem ajarannya tidak menghendaki orang lain untuk juga memeluk agama yang diyakinya      

Rasanya perlu untuk digaris bawahi bahwa banyak dari elite agamawan tidak konsekwen akan hal ini, maksudnya yaitu, mereka tentu saja memikirkan dan melakukan hal-hal yang dapat membawa orang lain untuk memeluk agamanya namun disisi lain, pemeluk agama lain apabila melakukan hal yang sama justru membuat ia tidak senang, atau mereka menggunakan doktrin yang berlebihan agar penganutnya tidak lari dari ajaran agamanya.

Tentu saja hal yang demikian akan membuat agama itu menjadi begitu mengikat atau malah dapat menjadi belenggu bagi penganutnya, karena dengan doktrin yang berlebihan secara tidak sengaja telah menjadikan agama sebagai derita bagi manusia padahal agama sepatutnya dianut dengan kesukarelaan dan dengan kesungguhan hati.

Tentu kita masih ingat jika beberapa tahun lalu, banyak kejadian-kejadian di media yang kita lihat yaitu  pembakaran gereja, mesjid atau tempat-tempat ibadah agama lainnya yang pelakunya adalah umat beragama, tentu yang menjadi pertanyaan, seperti apa ajaran toleransi dalam agama masing- masing? Apakah tindak kekerasan dan intoleransi itu adalah bagian dari ajaran agama? Tentu mereka menjawab tidak, namun suatu hal yang pasti bahwa, tindakan intoleransi dan kekerasan ini adalah ciri dari kebodohan.

Dalam sebuah diskusi hangat di kedai kopi, saya dengan teman-teman mahasiswa juga pernah membicarakan soal Intoleransi dan kekerasan ini, salah satu pernyataan yang menarik dalam diskusi itu adalah masalah ini muncul karena dalam tataran masyarakat bawah memahami arti toleransi adalah tindakan “diam”, mereka tidak akan bertanya atau membahas soal agama masing-masing ketika berinteraksi sesama pemeluk agama yang berbeda.

Selanjutnya bahwa masing-masing mempunyai persepsi yang negatif terhadap agama lain, sehingga konsekwensi dari “diam” tadi secara tidak sengaja telah menjaga persepsi negatif pada masing-masing pemeluk agama, kemudian pada saat terjadi suatu hal yang dapat menyingung atau sedikit menyakiti salah satu pemeluk agama  akan memicu konflik yang begitu besar, dan pada saat konflik itu terjadi, persepsi negatif ini malah makin mengeras.

bagimu agamamu dan bagiku agamaku” (Qs al-kafirun:6) ayat ini selalu di gunakan sebagai landasan bertoleransi, jika dilihat sebab turunnya, ayat ini merupakan penolakan pengabungan ajaran agama, yaitu kalau tidak salah, turun pada saat Rasullullah di ajak untuk mengabungkan ajaran agama oleh orang-orang kafir, lebih jelas, yang di inginkan oleh orang kafir saat itu adalah Muhammad juga mengikuti agama atau kepercayaan mereka, dan sebaliknya mereka juga akan mengikuti ajaran Muhammad.

Namun persoalannya adalah, jika pada saat ini ayat tersebut di gunakan dalam hal landasan bertoleransi yang dirasa aplikasinya kurang tepat, menyebabkan praksisnya ayat ini dilaksanakan menyebabkan kaum Muslimin menjadi “diam”, padahal menyampaikan kebenaran itu merupakan tugas Rasullullah.

Maka dari pada itu umat islam harus cerdas dalam memahami islam sebagai rahmatan lilalamin, sehingga ketika terjadi hubungan interaksi sosial antar pemeluk agama tidak memilih diam, atau bertindak dengan mengedepankan islam secara simbol. akan tetapi lebih memilih bertindak dengan mengedepankan nilai-nilai Universal Islam, sehingga secara tidak langsung kita sudah mengajarkan Islam kepada mereka.

Dengan terjalinnya interaksi komunikasi yang baik dengan nilai-nilai Islam, maka tidak akan ada yang namanya Intoleransi antar umat beragama yang saling menjelekkan ajaran agama. Karena pada dasarnya Agama Islam mengajarkan toleransi yang bernilai dengan tetap berpegang teguh pada Islam dan memberikan ide dan tindakan Universal kepada antar umat bergama.