Ridwan Kamil, walikota Bandung yang termasyhur itu, pernah mengibaratkan pekerjaannya mirip dengan pesepak bola (atau mungkin manajer). Perlu berimprovisasi dan sangat berbeda dengan teori pengamat bola. Tapi, betulkah bahwa sepak bola memang sesulit itu?

Pasalnya begini, sepak bola sudah sedemikian maju. Kultur punditry di dunia sepak bola sangat berkembang sehingga kajian sepak bola sendiri bisa sangat luas dan malah sangat kompleks.

Sepak bola bukan sekedar urusan menyerang dan bertahan. Bukan soal gocek-gocek indah penuh improvisasi seperti yang dilakukan oleh Ronaldinho atau Zinadine Zidane yang dapat menyihir pasang mata yang menyaksikannya. Sepak bola sendiri kini harus mementingkan keseimbangan.

Tak hanya urusan menyerang dan bertahan, kini ada hal-hal seperti build-up, half-space, positioning yang harus diperhitungkan matang-matang dan harus disesuaikan dengan gaya bermain – apakah akan menggunakan juege do position sesuai filosofi mendiang Cruyff, atau bermain penuh tekanan ala gegenpressing-nya Klopp.

Belum lagi persoalan yang rumit lainnya seperti apakah perlu menggunakan inverted winger dan seberapa pentingkah pemain yang tak menyentuh bola seperti Busquets sehingga sering dibilang jantung dari FC Barcelona – bukannya Messi.

Untuk mengerti itu semua tentu tak rumit. Jamie Carragher dan Gary Neville kerapkali berdebat tentang apa yang perlu dilakukan oleh sang manajer saat menganalisa kenapa tim ini menang dan tim anu kalah dalam Monday Night Football. Pula, kerumitan game-game sepak bola seperti Football Manager, FIFA/PES yang kian hari mendekati realisitis pula membuat kita pelan-pelan mulai memahami istilah rumit ini.

Ada pula perihal statistik yang dapat digunakan sebagai penguat argumen. Ditambah dengan situs kajian sepak bola, sebagaimana yang disadurkan oleh Pandit Football atau Football Fandom di Indonesia (dan sangat banyak bertebaran di internet sana), tentu sepak bola sudah menjadi ranahan yang jauh dari spontanitas.

Atas sebab ini kemudian, penggemar sepak bola (terutama yang melek sosial media) bisa sangat melek atas apa yang terjadi dengan timnya. Dengan informasi yang banjir bandang, semua orang bisa melampiaskan hasrat mereka untuk menganalisis kenapa tim ini kalah dan tim itu menang.

Semua orang bisa jadi ahli. Semua orang kini bisa menganalisis betapa geniusnya Pep Guardiola dalam mentransformasi City dengan pemain yang versatile – memiliki mobilitas tinggi – dan dapat membuat tim lawan bingung dalam perihal mengantisipasi serangan lawan hingga berhalaman-halaman di Microsoft Word.

Begitu pula kini semua orang bisa menganalisis sangat dalam mengapa pergantian Anthony Martial dengan Marcus Rashford bisa memberikan dampak signifikan saat tim asuhan Mourinho sedang stagnan saat melawan Hull City Minggu (28/8) lalu.

Pembenci dan pecinta sebuah kesebelasan sepak bola, dalam urusan menganalisis kemenangan dan kekalahan, dapat duduk dalam satu bangku sama tenangnya. Mungkin perbedaan mereka dengan pundit adalah pundit sendiri sering muncul di televisi dan memiliki pengalaman saat bermain di lapangan.

Namun, secara pengetahuan, setelah dilengkapi pengetahuan dari bermain simulasi seperti Football Manager atawa menyaksikan langsung sebuah pertandingan, mereka bisa saja sama. Atau meminjam apa yang dikatakan Pangeran Siahaan, bisa saja bahkan mereka yang di rumah bisa lebih cerdas daripada di televisi.

Pembenci dan pecinta sebauh tim sepak bola, kemudian tak perlu tunjuk-tunjukan bahwa mereka sedang melontarkan hate-speech saat timnya di kritik, selama argumen yang dilontarkan itu benar terjadi di lapangan.

Mereka menunjukkan cinta mereka terhadap klub bahkan dengan secara sukarela mengkritik timnya dengan membuat analisis panjang lebar dan tak jarang berisi fakta-fakta yang membuat seseorang dapat terhenyak karena faktanya tim itu sebegitu buruknya.

Membuat sepak bola terlihat lebih logis dari sekedar spontanitas adalah ikhtiar yang sedang dilakukan. Dan lucunya, ini seringkali bersifat otokritik dari fans itu sendiri.

Tentu hal ini berbeda dengan kultur politik di negeri kita. Mengutip cuitan Arman Dhani, kita kerapkali menanyakan kredibilitas media saat Ahok (atau figur idola kita dikritik).

Saya mengingat bagaimana saat di acara Merayakan Chairil Anwar (saya lupa apakah itu Arif Zulkifli yang merupakan Pemimpin Redaksi di Tempo atau Goenawan Mohamad langsung yang mengatakan, ah, maafkan ingatan saya) beliau mengatakan kurang lebih begini, “Tempo dikatakan anti-Ahok, padahal kami yang ada di Tempo memilih Ahok dan suka dengan sikapnya. Namun, jika fakta yang dibeberkan rupanya begitu adanya, patutkah kami membohongi publik?”

Kultur politik kita memang anti-kritik. Atau mungkin bahkan secara keseluruhan. Joko Anwar misalnya, pernah menyindir kaum nyinyir-nyinyir di sosial media dengan mengatakan bahwa seseorang harus berkarya dahulu baru mengkritik. Mungkin sekiranya hal ini senafas dengan frasa ini: “kritik yang membangun.”

Padahal, kritik-kritik saja. Memang harus menghujam jantung dan menampar siapapun yang membaca terlepas dari kecintaan. Pula tak ada keharusan untuk membangun dalam kritik. Apakah saya patut jago bernyanyi agar tahu bahwa lagu "Lelaki Kardus" memiliki pemaknaan yang tak baik? Tentu tidak.

Dalam Aleppo-nya Rusdi Mathari, ada sedikit menyinggung bagian ini. Menurut Cah Rusdi – panggilan beliau – kritik yang membangun adalah warisan dari Orde Baru. Istilah ini digunakan oleh orang-orang Orde Baru agar mampu mencitrakan bahwa di masa Orde Baru semua sangat demokratis. Padahal, tentu saja tidak.

Perihal penerbitan buku “Cara Ketawa Daripada Soeharto” yang diceritakan oleh Tri Agus Siswowiharjo di Pindai, menggambarkan betapa sulitnya mengkritik. Dan hal-hal macam ini yang membuat Cah Rusdi setuju bilamana opini Daniel Dahkidae untuk mengganti frasa “kritik yang membangun” dengan “membangun dengan kritik”. Karena kritik bukanlah sikap yang bermusuhan – berbeda dengan amukan yang membabi buta.

Maka, jangan terlalu banyak berharap bilamana analisis politik bisa sedetail dengan apa yang terjadi di kultur sepak bola kini. Kendatipun sudah diberkahi dengan media alternatif yang memberikan ruang untuk berbicara politik seperti The Geotimes, Mojok, hingga situs yang memberikan ruang publik beropini seperti Kompasiana dan Qureta dan lain-lain yang jumlahnya sangat bejibun, selama kita anti-kritik tentu tak berguna.

Saya sendiri jarang menyaksikan misalnya, buzzer-buzzer di internet itu betul-betul membahas yang benar adanya – alih-alih memanaskan isu secara tak sehat.

Kemudian di sinilah terlihat lemahnya opini Ridwan Kamil tentang sepak bola dan politik: sepak bola, dengan pandangan ini, jelas terlihat lebih mudah diamati dan dicermati daripada politik. Di sepak bola, bahkan awam-pun bisa mengerti apa yang sepatutnya dilakukan oleh sebuah kesebelasan dengan sudut pandang rasional.

Alih-alih menyebutnya spontanitas, mereka giat melakukan apa yang dilakukan oleh Pep: menganalisis sepak bola secara cermat. Kendati tentu saja tak segila Pep yang harus menyaksikan permainan timnya dan tim lawan berjam-jam saking terobsesinya beliau dengan permainan ini. Internet dan sosial media menjadi medium paling tepat untuk menyebarkan kultur literasi sepak bola karena diisi oleh mereka yang mencintai olahraga ini dan kepalanya cukup dingin meski timnya kalah.

Sementara mereka yang menjadi publik politik masih awam dan tak mengerti selain media ini anti si ini dan media itu anti si anu. Selain tentu saja, twitwar yang isinya menegangkan isu tanpa membangun pokok perang argumen yang cerdas. Jika publiknya begitu, maka lantas dalam berpolitik perspektif kita jelas sangat sempit sehingga perlu improvisasi-improvisasi yang sulit ditemukan dalam literatur-literatur, atau opini di linimasa mana pun.

Bahkan, pengamat yang sifatnya awam seperti kita bahkan tak mengerti mana yang improvisasi, mana gerak yang terencana -- semuanya terlihat sama saja.

#LombaEsaiPolitik