Maulid Nabi dan hari Natal tahun ini berada dalam satu bulan yang sama. Melihat fenomena yang jarang terjadi ini, menarik minat penulis untuk membahasnya dan meramu menjadi sebuah tulisan. Islam dan Kristen termasuk dua agama terbesar di Indonesia. Menarik bukan? Dua hari yang terbilang hari besar untuk kedua agama tersebut ada di bulan yang sama dan hanya berjarak dua minggu saja. Tidak bermaksud untuk membahas lebih jauh apa itu Maulid Nabi atau apa itu Natal. Penulis hanya ingin memaknai dua hari besar untuk dua agama terbesar di Indonesia ini.

Maulid Nabi, beberapa orang ada yang merayakan maulid ini dengan serentetan adat kebiasaan tahunan. Begitu pula dengan Natal, hingar bingar perayaan ini pun menjadi fenoma dimana – mana. Bukan hanya di Indonesia, umat Kristen di seluruh penjuru dunia pun ikut merayakan hari besar ini.

Kedua hari besar ini seperti serupa tapi tak sama. Mengapa serupa? Keduanya menurut masing – masing agama ringkasnya dapat diartikan sebagai hari “kelahiran”. Di mata umat muslim, 12 Rabi’ul Awal yang jatuh pada tanggal 12 Desember 2016 ini merupakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Di sisi lain, di mata umat kristiani, 25 desember merupakan hari kelahiran Yesus Kristus. Serupa di satu titik yaitu “kelahiran”.

Hari kelahiran, tanpa disadari, banyak orang yang sudah melakukan adat kebiasaan turun temurun untuk merayakan hari kelahiran ini. Saat merayakan hari kelahiran, ada serentetan kebiasaan yang dilakukan dari A sampai Z. Tak ingin membahasnya lebih dalam, pasti di benak kita semua sudah mengetahui apa itu kebiasaan – kebiasaaan yang dilakukan orang pada umumnya saat merayakannya. Dan, pastinya fenomena ini tidak hanya terjadi saat umat Krsiten ketika merayakan hari kelahirannya (baca: ulang tahun), ada juga umat Islam yang terbiasa melakukannya.

Lalu, apakah setiap tahunnya dari mulai usia 1 tahun hingga saatnya habis usia kita, kita rayakan layaknya banyak orang rayakan? Sepintas asyik memang, namun, apalah arti sebuah perayaan atau peringatan itu jika tak ada makna dalam yang tersisa. Hingar bingar tepuk tangan kebahagiaan perayaan ulang tahun, tiupan lilin, kue yang menarik, membuat rasa miris tersendiri karena kosongnya makna dan tanpa adanya rasa syukur khusus kepada sang pencipta.

Sejatinya hari kelahiran seharusnya lebih ditikberatkan untuk memaknai kehidupan. Yaitu kehidupan yang telah dijalani, sedang dijalani, dan akan dijalani. Introspeksi diri pada kehidupan yang telah dijalani akan membuat kehidupan yang sedang dijalani menjadi lebih baik dari sebelumnya. Lalu, kehidupan akan datang pastinya akan tertata dengan rapi jika kita selalu memaknai kehidupan yang sedang dijalani.

Pada saat hari kelahiran, menurut Hazrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifah ke-5 Jemaat Muslim Ahmadiyah, ada cara tersendiri untuk memaknainya, yaitu bangun untuk tahajud, bersyukur kepada Allah Ta’ala karena telah menganugrahkan usia hingga 15,16,atau 17 lalu berdoa untuk masa depan supaya Allah Ta’ala meneguhkan diri dalam keshalehan dan memberikan taufik untuk mengerjakan hal – hal yang Allah Ta’ala ridhai, dan menyumbangkan uang sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT.

Itulah makna dari hari kelahiran yang seharusnya dilakukan oleh setiap muslim. Tentunya, tanpa serentetan kegiatan tiup lilin hingga potong kue yang seperti bangsa Eropa biasa lakukan, yang pada akhirnya cenderung ke hal yang laghau atau sia – sia.

Lalu, untuk hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, akan lebih indah rasanya jika perayaannya pun dalam bentuk tersendiri. Yaitu dengan memaknai kehidupan Rasulullah SAW. Memaknai yang dimaksud penulis adalah bagaimana kita mengikuti teladan Rasulullah SAW dalam setiap harinya. Rasulullah SAW sebagai teladan yang baik dan role model bagi umat Islam, baiknya sedikit demi sedikit dapat ditiru dan diterapkan. Hal konkretnya saja bagaimana sebaiknya bersikap kepada umat lain yang mempunyai “hajat” sebentar lagi.

Suasana kehidupan toleransi beragama yang sedang diuji di Indonesia saat ini, seharusnya membuat kepala tertunduk dengan melihat dua hari besar ini berdampingan di bulan yang sama. Mari memaknai teladan kehidupan Rasulullah SAW dengan meniru Rasulullah SAW dalam bersikap menghadapi kaum non muslim. Dalam HR. Bukhari, Nabi besar kita saja begitu humanis menghormati jenazah kaum Yahudi. Lalu, kita sebagai umat muslim yang sedang memaknai kehidupan Rasulullah SAW sudah sepantasnya bersikap humanis dihari Natal nanti.