“Menjelang pagi, perempuan yang sudah berstatus sebagai ibu dan istri dari seseorang bergegas menyiapkan makanan untuk anak serta suaminya. Dalam kondisi dikejar waktu, perempuan itu berusaha sesigap mungkin memasak di dapur, agar setelah ia berangkat kerja menggarap sawah milik tuan tanah, sarapan suaminya yang juga harus berangkat kerja ke sawah milik tuan tanah yang lain sudah siap, serta sarapan anak-anaknya yang akan berangkat sekolah juga siap dilahap.

Tak peduli dirinya memiliki waktu yang cukup atau tidak untuk sekadar menikmati masakannya, asal suami dan anaknya tidak kelaparan saat bangun dari tidur, itu sudah membuat ia jauh lebih tenang.”

Setidaknya itu gambaran kecil keseharian perempuan desa yang menganggap kemiskinannya merupakan sebuah takdir. Sehingga, kelelahan yang ia alami dianggap sebagai “konsekuensi logis” atas takdir hidup sebagai orang miskin. Tanpa disadari, bahkan oleh kalangan menengah terdidik sekalipun, terkadang masalah kemiskinan selalu dinilai sebagai sebuah takdir Tuhan, atau paling maksimal kelompok terdidik mengatakan kemiskinan merupakan akibat dari kemalasan seseorang. 

Jika memang kemiskinan merupakan takdir Tuhan, secara keyakinan, semua orang bisa membantah hal itu dengan mempertanyakan “kenapa Tuhan menciptakan berjuta-juta kelebihan alam yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan kalau faktanya hanya tuan tanah yang bisa memiliki sawah, sementara orang lain tidak?

Kemudian soal pandangan yang menganggap kemiskinan merupakan problem kemalasan, itu juga bisa dibantah dengan mudah melihat contoh kasus di atas. Kurang rajin seperti apa lagi perempuan di atas yang bekerja sebagai petani penggarap yang setiap hari harus berangkat kerja dari pagi dan pulang sore hari, bahkan ditambah dengan suaminya yang juga bekerja dari pagi sampai sore, kenyataannya hidup mereka tetap dalam garis kemiskinan.

Problem inilah yang selama ini sering tidak dipahami oleh banyak orang. Bahwa soal miskin dan kaya bukan karena takdir atau malas dan rajin. 

Menurut Marx, kemiskinan terjadi akibat adanya hubungan produksi yang tidak setimpal dalam proses akumulasi kapital (pencarian laba/untung). Satu pihak menguasai alat produksi (sumber daya alam dll), sementara di pihak yang lain hanya memiliki tenaga. 

Akibatnya, pihak yang hanya memiliki tenaga tentu sangat menggantungkan hidupnya pada pihak yang memiliki alat produksi untuk bisa bertahan hidup. Di situlah terjadi proses hubungan produksi yang tak setimpal. Bagi pemilik alat produksi, apa pun caranya akan dia lakukan, yang penting bisa mendapatkan untung sekalipun harus memeras pekerja.

Sebagaimana contoh kasus perempuan di atas, bahwa sesungguhnya proses ketimpangan hubungan produksi menimpa laki-laki dan perempuan yang tidak memiliki alat produksi. Sehingga untuk bertahan hidup, antara laki-laki dan perempuan harus membanting tulang menjual tenaganya demi mendapatkan upah. Dari upah itulah kemudian oleh mereka dibelikan kebutuhan pokok. Sampai kemudian laki-laki dan perempuan tersebut diharuskan untuk memiliki keturunan guna menambah tenaga kerja di keluarganya, maka menikahlah mereka. 

Inilah yang oleh Henry Bernstein disebut sebagai proses reproduksi tenaga kerja, sebagaimana perkakas produksi (cangkul, mesin, dll) yang akan mengalami penyusutan atau kerusakan, tentu tenaga kerja juga pada saatnya akan mengalami penuaan. Sehingga produktivitas kerja akan terganggu oleh fisik yang menua. 

Tentu hal tersebut menjadi kerugian tersendiri bagi pemilik alat produksi, dan juga sangat merugikan para tenaga kerja. Bagaimana mungkin si tenaga kerja bisa bertahan hidup apabila dirinya sudah tidak mampu lagi bekerja untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Itulah fungsinya reproduksi. Dan bagaimana mungkin pemilik alat produksi bisa mendapatkan untung besar jika kekurangan tenaga kerja, walaupun bisa digantikan oleh mesin.

Masalah produksi dan reproduksi inilah yang kemudian menjadikan kehidupan si miskin menjadi sangat terjepit. Proses produksi (kerja) tentu akan lebih produktif ketika pekerja memiliki fisik yang prima, dan biasanya fisik yang prima dimiliki oleh para usia muda. 

Departemen Kesehatan Republik Indonesia menyatakan bahwa usia produktif adalah 15- 54 tahun. Artinya, usia di bawah 15 dan di atas 54 dianggap sudah tidak lagi produktif dalam bekerja. Lantas bagaimana nasib pekerja yang hanya mengandalkan tenaga? Apakah mungkin pekerja di atas 54 tahun masih dibutuhkan oleh proses produksi?

Inilah mengapa kemudian proses produksi sangat tidak menginginkan pekerja non-produktif ikut dalam kegiatan produksi. Karena dianggap hanya akan membebani pekerja lain dan memperlambat kegiatan produksi. Fenomena tersebut jelas menuntut kegiatan reproduksi tenaga kerja harus secepat mungkin dilakukan, supaya kegiatan produksi selanjutnya bisa dilakukan oleh keturunan- keturunan yang memiliki usia jauh lebih produktif.

Tentu kondisi itu akan sangat rentan mendera perempuan, di mana perempuanlah yang memiliki kemampuan dalam melakukan reproduksi keturunan, yaitu melahirkan. Dari situlah kemudian muncul konsep pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan, seperti kerja domestik (memasak, mencuci, dlsb), kerja secara seksual, dan rendahnya perempuan dalam mengontrol alat reproduksinya, serta pembagian-pembagian yang lain. 

Itu yang menurut Martha A. Gimenez yang diresume ulang oleh Ruth Indah Rahayu dalam artikel berjudul “Meneguhkan Marxisme dalam Cuaca Feminisme Kontemporer” disebut sebagai relasi produksi yang invisible (tidak terlihat) dalam proses produksi selama ini. Karena dengan pembagian kerja seperti itu akan memudahkan si laki-laki untuk melakukan reproduksi keturunan sebagai calon tenaga kerja produktif yang baru.

Proses ini kemudian akan menjadi keniscayaan bagi si keturunan untuk dilakukan kembali ketika hubungan produksi tetap timpang. Sehingga membuat perempuan terus-menerus dianggap sebagai “manusia kedua” setelah laki-laki, dan jerat kemiskinan pun akan tetap menjadi lingkaran keturunan tersebut yang membuka peluang untuk menurunkannya pada keturunan selanjutnya. Dan tentu akan terus melanggengkan garis “patriarki”.

Dari relasi yang tertupi itulah kemudian dapat dijelaskan bahwa sesungguhnya kegiatan produksi telah mensubordinasi proses reproduksi, reproduksi akan terus-menerus bergantung pada kegiatan produksi. Sehingga antara kemiskinan, laki-laki, dan penindasan terhadap perempuan merupakan akibat dari relasi produksi. Bukan semata-mata miskin hanya karena takdir dan rajin/malas. Dan soal patriarki bukan hanya karena penindasan laki-laki terhadap perempuan.