Sekolah adalah lembaga pendidikan yang sifatnya formal, informal, dan non formal. Pendirian sekolah dilakukan oleh negara maupun pihak swasta. Tujuan sekolah didirikan adalah untuk memberikan pengajaran, mengelola, dan mendidik para murid melalui bimbingan yang diberikan oleh para pendidik atau guru.

Sekolah merupakan salah satu bagian terpenting dalam sebuah negara. Sebab tanpa adanya sebuah sekolah, maka masyarakat di suatu negara tidak akan mengenal yang namanya pendidikan. Negara tersebut akan menjadi negara yang terbelakang.

Tentu setiap negara yang ada di dunia ini tidak menginginkan hal tersebut. Semua negara pasti menginginkan negaranya menjadi negara yang maju. Salah satunya dalam bidang pendidikan. Semua negara berlomba lomba mencetak prestasi agar lebih dikenal di khalayak umum.

Setiap negara tentu menerapkan prinsip atau metode yang berbeda di setiap sekolah. Sistem pendidikan di Jepang akan jauh berbeda dengan sistem pendidikan di Indonesia. Setiap system yang ada tentu memiliki kelebihan dan kekurangan.

Jika membahas mengenai prestasi prestasi sekolah yang ada di dunia tentu tidak akan ada habisnya. Jangankan di dunia, di Indonesia saja prestasi prestasi yang ditorehkan mulai beranjak naik. Indonesia mulai bangkit menyaingi negara negara yang ternama dalam bidang pendidikan.

Indonesia tidak mau diam begitu saja melihat Negara lain semakin maju dalam bidak pendidikan. Negara Indonesia khususnya pemerintah atau menteri pendidikan mulai mencanangkan program program baru untuk mengangkat naik dunia pendidikan di Indonesia.

Bicara mengenai prestasi di Indonesia tentu ada sisi positif dan sisi negatif yang kita peroleh. Kalau sisi positifnya tentu setiap kita sudah mengetahuinya tanpa perlu dijabarkan kembali. Lalu bagaimana tentang sisi negatifnya?

Ternyata sisi negatif dari sebuah prestasi di sekolah sering dikaitkan dengan kata cinta. Beredar istilah bucin yaitu budak cinta. Kata yang saat ini sedang tenar yang mengartikan bahwa seseorang yang terlalu tunduk karena baru saja jatuh cinta.

Lalu mengapa cinta dikaitkan dengan prestasi dari sisi yang negatif? Hal ini terjadi karena para orang tua sering berkomentar dan berpendapat bahwa pretasi yang diraih anaknya turun karena terlalu sering pacaran sehingga tidak fokus pada saat pelajaran.

Sudah banyak ditemukan kasus yang seperti ini. Tidak usah mengambil contoh jauh jauh, cukup kita bisa lihat di negara kita sendiri yaitu Indonesia. Di Indonesia tidak hanya anak remaja atau orang dewasa yang sudah mengenal cinta, tetapi anak sekolah dasar pun mulai tahu cinta.

Jika pada zaman dahulu kita melihat hanya anak anak SMA atau dapat dikategorikan remaja yang baru mengenal cinta dan pacaran. Kini kita melihat semua kalangan pun tahu bagaimana cara pacaran.

Lalu jika terjadi hal seperti ini, jadi salah siapa? Apakah jika prestasi prestasinya menurun adalah salah karena mereka pacaran? Mungkin perlu waktu untuk menimbang baik baik pertanyaan tersebut dan menjawabnya.

Semua orang pasti memiliki jawaban yang berbeda beda. Ada yang pro maupun ada yang kontra. Ada baiknya kita melihat sesuatu dari sisi positifnya. Sisi negative yang ada lebih baik dijadikan pelajaran untuk memperbaikinya.

Permasalahan utama yang harus dibahas adalah pengaruh pacaran dengan prestasi di sekolah. Jika melihat dari pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain ada dua hal berbeda yang ditimbulkan.

Jika setiap orang tua memiliki anak yang sudah mulai berpacaran dan ketika mengetahui prestasinya turun, apa langsung bisa diputuskan bahwa itu akibat dari anaknya yang berpacaran sehingga lupa waktu untuk belajar?

Sebagian orang mungkin akan berasumsi seperti itu. Karena pacaran dianggap hal yang negatif, sia sia, dan hanya membuang waktu saja. Bahkan ada orang yang terlalu focus untuk belajar sehingga mengasingkan diri dari lawan jenis.

Sebenarnya jika kita melihat dari kenyataannya tidak setiap orang yang prestasinya menurun disebabkan karena mereka berpacaran. Pasti ada factor lain yang menyebabkan prestasi mereka menurun, mungkin memang tingkat kesulitan materi disekolah yang semakin naik.

Pacaran itu tidak selalu didefinisikan sebagai hal yang negatif. Jika kita mampu melihat dari sisi positifnya pacaran dapat menjadi motivasi untuk hal prestasi. Tentunya pacaran yang dimaksud dilakukan oleh anak anak yang sudah cukup umur, minimal anak SMA.

Berdasarkan pengalaman pribadi, mampu mempertahankan peringkat 1 tentu bukan perkara yang mudah apalagi ketika harus menjalani hubungan dengan lawan jenis. Tetapi, keadaan  seperti ini justru membangkitkan semangat untuk tetap mempertahankan prestasi.

Sebab jika kita mampu mempertahankan prestasi tentu hubungan kita juga akan bertahan. Kita tidak dapat menghindari perasaan yang Tuhan telah anugerahkan kepada kita. Sekarang giliran gimana kita yang harus mengimbangi kedua hal tesebut.

Jadi, jika diberi kesimpulan dari penjabaran artikel ini antara cinta dan prestasi di sekolah itu kembali kepada individu masing masing. Tidak bisa kita memukul rata menyimpulkan bahwa prestasi turun karena pacaran. Bisa jadi pacaran merupakan motivasi untuk terus berprestasi di sekolah.