Dunia sekarang memang dunia yang penuh dengan  persaingan, baik dalam bidang apa pun, termasuk bidang akademis. Indeks prestasi atau yang biasa disingkat IP menjadi indikator untuk memantau perkembangan akademis seorang mahasiswa.

Dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Dalam dunia perkuliahan, tingkat kecerdasan atau keberhasilah mahasiswa hanya dilihat dari indeks prestasinya. Mahasiswa yang memperoleh nilai IP yang tinggi mengindikasikan bahwa mahasiswa tersebut dikatakan mampu mengikuti pembelajaran selama satu semester tersebut.

Menurut Burhanuddin Salam (2004), IP adalah angka yang menunjukkan prestasi mahasiswa untuk satu semester, yang dihitung dengan rumus yang telah ditetapkan. Keberhasilan mahasiswa selama satu semester bisa dilihat dari nilai IP yang dicapai olehnya. Apabila mahasiswa bisa mencapai IP yang tinggi, maka mahasiswa tersebut dikatakan pandai, begitu pula sebaliknya.

Namun apakah keberhasilan masa depan seseorang hanya dilihat dari seberapa besar IP yang diperolehnya? Apakah kecerdasan seseorang hanya diukur lewat angka saja?

Dalam dunia pekerjaan, memang dituntut untuk bisa melakukan semua pekerjaan dan tanggung jawab yang telah diberikan untuk dikerjakan sebaik mungkin. Hal itu bisa saja dipenuhi ketika seseorang dalam masa perkuliahannya termasuk mahasiswa yang pintar.

Namun perlu digarisbawahi, semua yang ada atau yang akan disuguhkan dalam dunia pekerjaan kita tidak hanya ilmu yang kita dapatkan melalui proses belajar dalam kelas saja. Ada hal-hal yang harus kita ketahui yang di mana hal-hal itu tidak bisa kita dapatkan hanya dalam proses belajar dalam kelas saja.

Yang terjadi hari ini adalah mahasiswa hanya fokus pada satu bidang yang dijalaninya saja. Misalnya, katakanlah si A, dia adalah mahasiswa jurusan Ekonomi, maka dia hanya menggeluti tentang ekonomi saja.

Sementara yang terjadi dalam dunia pekerjaan, tidak semua materi tentang ekonomi akan ditanyakan oleh perusahaan. Menurut survei, 70% yang paling dituntut dalam dunia pekerjaan adalah bagaimana seseorang mempunyai softskill yang memadai daripada hardskill.

Dan pada kenyataannya, semua yang berkaitan dengan softskill tidak serta-merta kita dapatkan dalam kelas saja, mulai dari bagaimana kita memimpin sebuah rapat, bagaimana kita berbicara dengan atasan, bagaimana kita mempersiapkan presentasi dan public speaking, bagaimana bisa mempunyai jiwa kepemimpinan, mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi, dan lain lain.

Ketika di kelas, hal-hal seperti di atas mungkin jarang atau sulit kita dapatkan. Hari ini banyak mahasiswa yang pintar namun ia tidak cerdas. Perbedaan antara pintar dan cerdas adalah pintar yaitu ketika seseorang hanya bisa dalam sebuah bidang yang digelutinya. Ketika dia diberikan sebuah pekerjaan di luar bidang yang digelutinnya, maka dia akan kebingungan, tidak tahu harus berbuat apa.

Hari ini juga banyak mahasiswa yang pintar, namun sayang kemampuan berbicaranya tidak ada. Padahal kemampuan public speaking merupakan salah satu softskill yang dibutuhkan sebuah perusahaan.

Seorang mahasiswa yang bodoh bisa dikatakan dia cerdas hanya karena dia hebat dalam hal berbicara. Namun seorang mahasiswa yang pintar sekaligus juga cerdas akan terlihat bodoh jika dia tidak bisa berbicara.

Yang dimaksud berbicara di sini adalah bagaimana seseorang mengatur dialektikanya agar apa yang disampaikannya bisa dipahami oleh yang mendengarkannya. Kalau bahasanya salah satu filsuf klasik, yaitu Aristoteles (384-322 SM), adalah Seni Retorika atau kita menyebutnya seni berbicara.

Lalu di mana kita harus mengasah semua softskill atau bisa memperoleh softskill ?

Organisasi adalah jawabannya. Di organisasi, seorang mahasiswa diberikan kebebasan sepenuhnya untuk berbicara mengeluarkan gagasan ataupun argumen. Karena ketika di dalam kelas seorang mahasiswa tidak sepenuhnya diberikan kebebasan berpendapat karena mahasiswa hanya dipandang sebagai objek bukan subjek.

Kesalahan fatal ketika seorang mahasiswa mempertahankan argumen dan kebenaran teoritisnya dengan dosen dengan menggunakan buku, misalnya edisi 2018, dan dosen menggunakan buku edisi 2008. Hal itu tetap saja mahasiswa akan disalahkan karena yang dipandang hanyalah eksistensinya saja. Yang dipandang oleh dosen adalah siapa yang berbicara bukan apa yang dia bicara.

Karena seorang dosen S3 merasa tidak setara ketika argumennya dibantah oleh mahasiswa yang belum selesai S1. Lagi-lagi dosen melihat eksistensi daripada seorang mahasiswa itu sendiri bukan lagi esensi atau nilai serta manfaat yang diberikan oleh mahasiswa. 

Namun, yang harus digarisbawahi juga bahwa bukan berarti seorang mahasiswa hanya terjun penuh dalam organisasinya hanya untuk mendapatkan atau mengasah softskill. Pentingnya juga untuk menuntut ilmu dalam kelas. Karena walaupun memenuhi semua tuntutan softskill yang diperlukan hampir semua perusahaan hari ini, seorang mahasiswa juga tidak boleh melupakan kewajibannya untuk mendapatkan IP yang baik.

Karena bahasa dari Anies Baswedan yang mengatakan bahwa “Nilai IP bukan segalanya bagi kesuksesanmu, namun IP yang tinggi akan mengantarkanmu ke gerbang masuk perusahaan, dan softskill serta jiwa kepemimpinan yang akan menjadi teman ketika kamu telah masuk ke dalam perusahaan”.

Yang dimaksud dari kalimat di atas bahwa nilai IP yang seorang mahasiswa dapatkan hanya bisa mengantarkan sampai ke tahap wawancara. Ketika dia dinyatakan lulus untuk bisa bekerja dalam perusahaan, maka yang akan bisa mengangkat derajatnya hanyalah softskill yang dia punya, bukan lagi semua ilmu yang dia dapatkan dari kampus.

Walaupun ilmu yang dia miliki itu hanya sebagian saja yang akan bermanfaat atau digunakan dalam dunia pekerjaannya nanti, selebihnya softskill yang akan dibutuhkan. Maka dari itu, penting bagi seorang mahasiswa untuk terlibat dalam beberapa organisasi. Bukan saja untuk mengasah softskillnya, tapi penting untuk memperluas relasi atau jaringan dengan orang-orang di luar teman-teman yang ada di kelas belajar.

Keterlibatan seorang mahasiswa dalam organisasi yang kaitannya dengan hobi maupun organisasi sosial dan kemasyarakatan di luar kampus pun tak kalah membawa manfaat. Seorang mahasiswa bisa menumpuk pengalaman berharga lewat kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak orang. Karakter dan pola pikir yang terus tertempa adalah modal yang tak kalah pentingnya dari IPK. Segala yang kamu dapat lewat organisasi adalah bekal ketika kamu menjejak dunai profesional nantinya.

Antara IPK tinggi dan organisasi mahasiswa, keduanya sama-sama berguna bagi tiap mahasiswa karena keduanya mempunyai tujuan yang poitif bagi mahasiswa. IPK tinggi dan organisasi saling berhubungan erat dalam menempuh kesuksesan seorang mahasiswa.

Organisasi kemahasiswaaan juga sama pentingnya dengan IPK tinggi. Dilihat dari
fungsinya bahwa organisasi ini merupakan bentuk manifestasi penyiapan diri mahasiswa untuk menjadi agent of change setelah menyelesaikan studi hingga kembali ke masyarakat.

Dengan berorganisasi, kita akan mendapat berbagai pengalaman, pengetahuan, serta channels untuk ke depannya nanti setelah lulus. Silahkan kalau mau belajar setiap hari demi IPK tinggi. Tapi, kamu dinyatakan sah masuk dalam golongan orang-orang merugi jika tak pernah ikut organisasi.