Inilah sisi lain yang tersisa dari dampak serpihan peristiwa hitam tragedi kemanusiaan 1965. Bersumber dari kesaksian Tuti Busono yang kerap dipanggil: “Tuti” saja. Tuti adalah penyanyi istana termuda pada zaman Soekarno. Buah cinta dari seorang ibu bernama Tris Darpi dan ayah Busono Purwowinoto.

     Busono seorang gerilyawan yang turut angkat senjata mempertahankan kemerdekaan era pendudukan Belanda pada agresi militer ke-2. Tuti terlahir di Bojonegoro, Jawa Timur, 16 Oktober 1948 dengan nama panjang Sulistiana Mudji Astuti Busono.

      Tuti kecil sudah dididik dan diajari orangtuanya untuk bersikap peduli pada sesama, juga ditekankan prinsip: bila kita bisa memberi kepada orang lain, berilah apa yang bisa kita beri. Bertumbuh remaja, Tuti amat menyukai seni menyanyi. 

      Ketika mengenyam bangku SMP, ia diajak ayahnya ke istana negara untuk menonton paduan suara yang dipersembahkan oleh Ansambel “Gembira”. Betapa riangnya ekspresi Tuti turut menonton langsung kelompok kesenian istana negara yang keren itu. 

      Busono sendiri tak lagi angkat senjata pasca-Belanda menyatakan pengakuan kedaulatan Indonesia di penghujung 1949.  Lalu bekerja di perusahaan tambang Pulau Bangka. Di alam Indonesia merdeka, Busono jadi pimpinan pusat Serikat Buruh Tambang Indonesia (SBTI). Diboyonglah keluarganya dari Bangka ke Jakarta.

       Gembira didirikan oleh Titi Soebroto K Atmojo, Bintang Suradi, dan Sudharnoto tahun 1952. Sudharnoto atau dipanggil pendek ‘Dharnoto’, adalah pencipta lagu nasional Garuda Pancasila. Dharnoto juga kerap tampil berkesenian bersama seniman Idris Sardi, penggesek biola legendaris itu. 

       Di samping Idris Sardi, bergabung pula Muchtar Embut (pengarang lagu Kasih Ibu kepada Beta), Anita Rachman (jurnalis TVRI), artis Maulana Husni, dan Soetiyoso (sahabat Pak Hoegeng, Kapolri zaman Soeharto).

       Tuti Busono begitu kesengsem pada Gembira, dan berobsesi suatu saat ingin menjadi bagian langsung tim inti. Pucuk dicinta ulam pun tiba, sebuah kabar baik menyambangi Tuti. Komunitas tempat Tuti beraktivitas IPPI (Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia) diberi kesempatan latihan paduan suara bersama Gembira.

       IPPI memiliki paduan suara Jaya Swara, dan Tuti termasuk anggota aktif sejak kelas 2 SMA tahun 1964. Setelah berproses sekian waktu, obsesi yang diidam-idamkan pun terwujud. Tuti menyandang status anggota Gembira  termuda.

        Gembira adalah penampil utama acara kesenian di istana negara karena bisa  membawakan banyak lagu dengan fasih, termasuk lagu-lagu daerah serta lagu yang mendunia (internasional). Kelompok paduan suara lainnya adalah Maju Tak Gentar dari Medan yang cukup sering tampil di istana

        Gembira piawai menyanyikan lagu Resopim, Nasakom, Jakarta Pyongyang Dua Sahabat, Jamila, juga Apicubanadari Havana. Saat istana kedatangan tamu negara dari Kuba, Jepang, Aljazair, dan sebagainya Gembira bisa menyanyikan lagu dari negara-negara tersebut.

          Tak ayal, surat kabar Harian Rakjat yang dimiliki PKI, pada edisi 16 Februari 1964 menulis bahwa Gembira merupakan kelompok kesenian yang turut mengobarkan api revolusioner. Seperti dimaklumi, pada zaman revolusi sejumlah partai memiliki harian sebagai corong perjuangannya. 

          Di samping Harian Rakjat milik PKI, ada pula Suluh Marhaen yang diterbitkan oleh PNI, Abadi (Masyumi), Duta Masyarakat (NU). PKI, PNI, Masyumi, dan NU merupakan the big four (empat besar) papan atas peraih suara terbanyak Pemilu 1955.

          Di sela-sela gelaran Konferensi Internasional Anti Pangkalan Militer Asing (KIAPMA) di Jakarta, 16 Oktober 1965, yang dihadiri 40 negara, Gembira juga tampil bernyanyi menghibur tamu negara. 

          Uniknya, hari itu bersamaan dengan ulang tahun ke-17 Tuti, bertepatan pula terpetik berita kalau ayahnya, Busono, ditangkap. Pada konferensi tersebut, Bung Karno menyatakan pentingnya menghilangkan pangkalan militer asing demi perdamaian dunia.

          Boleh dikata penampilan dalam rangka konferensi internasional tersebut merupakan aksi panggung Gembira yang terakhir, meskipun serentang 1966-1967 masih aktif berlatih. Gembira berlatih di Jalan Agus Salim, bukan lagi di RRI Medan Merdeka Barat. 

          Sungguh unik serpihan perjalanan hidup (sejarah), wilayah Agus Salim ini ternyata dikomandoi oleh Ketua RT Soeharto, yang di kemudian hari menjadi presiden dan pemimpin Orde Baru.

           Meski tak berafiliasi dengan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), organisasi kesenian dan kebudayaan milik PKI, Gembira memiliki hubungan emosional khusus dengannya. Mereka sering tampil bareng dalam misi kebudayaan, baik di dalam negeri maupun luar negeri. 

          Maka, pascatragedi kemanusiaan 1965 Gembira terkena imbas langsung. Sebagian anggota Gembira ditangkap rezim penguasa, termasuk seorang Dharnoto penggubah lagu Garuda Pancasila

          Tuti yang biasa mampir di kantor Lekra bertanya-tanya, sebenarnya ada apa ketika beredar kabar beberapa jendral hilang diculik dan dibunuh di penghujung September 1965. Sejumlah tokoh Lekra pun tak bisa menjawab, tak ada yang tahu.

          Imbas tragedi tersebut menerpa juga Busono, ayah Tuti. Busono ditangkap dan ditahan di Polsek Pesing, Jakarta Barat. Lalu dipindah ke rutan Salemba, dan dioper lagi ke LP Tangerang. Seiring dengan itu, kondisi keluarga Tuti sangatlah berat menanggung kehidupan. 

          Demi menopang keluarga yang beranggota tujuh orang, setamat SMA Tuti langsung bekerja di Kedutaan Bulgaria, salah satu negara sosialis. Kemudian berpindah kerja di apotek Indonesia Farma. 

          Di tempat inilah Tuti kerap membeli obat dengan sistem potong gaji, untuk diberikan kepada teman-teman satu sel ayahnya yang dirundung sakit. Maklumlah, obat untuk penderita sakit di dalam penjara, ditanggung oleh keluarganya.

           Secara umum, Tuti tak dikucilkan dari pergaulan. Ia memiliki jiwa sosial yang tinggi. Namun, ada sesi perlakuan yang begitu menusuk hati. “Adikku yang nomor empat, waktu itu kelas 3 SD di Taman Siswa. Suatu ketika dia disuruh ke depan kelas oleh gurunya. 

           Diumumkan sebagai anaknya orang PKI. Kita tak boleh berteman dengan dia, gurunya yang bilang begitu. Itu sampai-sampai membuatnya lari dari Jakarta. Ikut tantenya ke Semarang. Itu 1967. Sampai sekarang dia trauma.” (Sukanta, 2016:359)

           Akhirnya, pada 1967 di suatu malam Tuti dijemput tentara. Ditangkap dan ditahan di Kalong, kemudian dipindah ke Pintu Besi. Tiga hari dua malam dalam tawanan. Tuti ditangkap tak sendirian, tapi bersama kawan sepermainan. Ada Nila putri dari Fransiska Fanggidai (nenek aktor kondang Reza Rahardian). 

         Ada pula Tari anak Carmel Budiardjo (dosen Universitas Indonesia, dekan FE Universitas Respublika – sekarang Universitas Tri Sakti –, keturunan Inggris, penerjemah utama di Departemen Luar Negeri), dan Reliya anak dari Rusyati (wartawan Antara). Tuti pun diberi sanksi tak boleh lagi mengadakan teknik pertemuan dengan kawan-kawannya.

          Roda kehidupan bergulir terus. Tahun 1969 Tuti Busono berubah nama menjadi Tuti Martoyo karena dinikahi pria bernama Martoyo, seorang pegawai dengan jabatan penting di Pertani, Departemen Pertanian. Sejatinya Tuti kurang menyukai pria tersebut, ia hanya menuruti dorongan keluarga ibunya.

          Ternyata setelah menikah, Martoyo bersikap sangat baik kepada istri tercintanya itu. Kehidupan Tuti seketika tampak berubah. Fasilitas mobil beserta sopirnya tersedia, pesawat telepon yang kategori mewah saat itu juga ada di rumah. Masalah finansial pun tak lagi menjerat, bahkan bisa membantu dan meringankan beban keluarga. 

          Tuti sempat bertanya pada suaminya, apakah tidak takut terkena dampak buruk karena Tuti berlatar belakang keluarga tapol (tahanan politik). Martoyo menjawab tegas, dirinya tidak takut meski sempat dipanggil dan diinterogasi aparat, tapi semua bisa dilalui.

            Di sisa usia yang tak lagi muda, Tuti Martoyo yang tinggal di kompleks Pertani sering disambangi kawan lama yang tercerai berai pascahuru-hara 1965. Di antara mereka ada Sudharnoto atau Dharnoto dan Soetiyoso. Tuti cukup dekat dengan Dharnoto, mereka kerap menonton konser bersama-sama.

            Mereka pernah menonton bareng pergelaran musik klasik di Hotel Hilton. Kedekatan tersebut menjadikan Tuti tahu persis rutinitas Dharnoto selepas menjalani tahanan Orde Baru, yang justru tak banyak orang tahu. Dharnoto rajin merawat makam Ismail Marzuki dan penyair Chairil Anwar di TPU Karet, Jakarta.

            Bersama Nani Nurani atau Teh Nani, Tuti Martoyo menggagas kelompok paduan suara Dialita. Anggotanya rata-rata pernah merasakan langsung derita pascatragedi kemanusiaan itu, perempuan semua yang umurnya menjelang senja di atas lima puluh tahun (dialita). 

            Punya jadwal rutin latihan tiap Sabtu di rumah Tuti. Ada satu “lagu wajib” yang pasti dinyanyikan setiap kali mereka berkumpul, yakni Rukun Gembira Sepanjang Masa ciptaan Dharnoto (1991). Sebuah lagu yang menggambarkan persekawanan mereka sejak bersama-sama masih bersinar sebagai bintang panggung istana hingga usia senja.

            Potongan kisah (sejarah) di atas, termaktub dalam buku Cahaya Mata Sang Pewaris: Kisah Nyata Anak-Cucu Korban Tragedi ’65 yang dieditori Putu Oka Sukanta (2016), diterbitkan oleh Penerbit Ultimus Bandung.