Petang turun perlahan menyembunyikan warna matahari yang tengah sekarat dan menderita di ufuk senja yang merah agak jingga, seperti warna api sedang berkobar dalam amarah dunia. Tetapi siapa yang peduli, semua hanya tampak seperti hiasan dunia yang berlalu dan berganti untuk diulang di hari yang lain.

Aku termenung menatap pantulan wajahku di atas genangan air bekas kumpulan gerimis yang jatuh siang tadi. Sial, tak ada makanan berhasil kulahap sepanjang pagi, hanya ada sampah plastik berceceran di sepanjang kakiku melangkah, yang sering kali bergetar menahan derita kelaparan dua hari ini. Andai saja aku kambing, mungkin tak akan sulit bagiku memakan dedaunan, atau bahkan plastik, atau bungkus makanan apa pun yang penting bisa makan, tetapi aku anjing; karniovora yang makan daging, hidup di pinggir jalan, terlantar tanpa rumah. Siapa yang peduli, bagi semua orang aku hanya seekor anjing, hidup liar sudah biasa.

Kuterobos jalanan basah, menengok ke kanan dan kiri sembari melihat kendaran berlalu lalang tanpa lelah. Sekian banyak manusia yang hidup, tapi entah mengapa tak seorang pun menunjukkan iba. Setidaknya satu dari mereka bisa dengan sudi memberi makanan basi atau apa pun untuk kulahap, tetapi jarang dari mereka melakukannya, malah sering kali dibuangnya makanan itu ke tong sampah, hingga aku harus bersusah payah menggali ke dalam tumpukan kontainer sampah yang seringkali tak membuahkan apa pun melainkan pukulan tanpa iba.

 Aku meraung tanda bahwa perlakuan itu menyakitkan, tetapi mereka enggan berhenti, sebaliknya mereka makin bersemangat melempariku dengan batu atau benda apa pun yang mampu mereka jangkau dengan mudah, demi satu tujuan agar aku pergi sejauh mungkin. Aku bak binatang haram tak diharapkan, dan entah mengapa, aku tak mengerti apa yang salah dengan menjadi anjing.

Benar, memang benar, bagi binatang liar sepertiku segala hal adalah salah, dan hampir semuanya berbahaya. Nasibku telah diukir di jalan ini, entah dengan dipukul sampai mati, ditangkap lalu berakhir di meja makan, atau tertabrak di jalan dan menjadi daging gepeng berlumur darah yang dibiarkan begitu saja atau jika cukup beruntung, akan dikubur sekenanya agar tak meninggalkan aroma busuk yang mengganggu. Entah sejak kapan hukum ini ada, siapa yang menciptakan, dan siapa pemilik dunia sebenarnya membuatku merenung jauh dalam batinku, tetapi lebih dari itu pantaskah dunia digugat seekor anjing jalanan?

Keempat kaki-kakiku berhenti di bawah naungan pohon trembesi tua yang kukira keadaanya tidak lebih baik dariku. Rantingnya kurus, makin mengurus tiap hari, daunnya tak berhenti gugur hingga hanya sedikit yang mampu bertahan dari senda gurau angin lalu. Aku tidak tau berapa lama dia akan hidup atau kapan dia akan mati, dia tampak tak bergairah sekalipun hujan baru saja turun membawa persambungan kehidupan, mengisi perutnya yang lapar secara gratis tanpa perlu mengais kotoran berisi angin busuk.

Aku dan trembesi tua itu tidak pernah bertukar bicara, dia selalu diam dan hanya memberi pertanda kehidupan ketika angin menyentuh rantingnya yang kurus, hingga beberapa daun jatuh ke tanah menjadi sampah yang disapu manusia penyapu jalan, yang sesekali sudi mengelusi kepalaku. Salah satu hal yang aku sukai dari kejam dan kerasnya kehidupan.

Suasana biasanya tidak sesepi dan sesedih ini, karena akan ada Oak bersamaku. Oak adalah seekor anjing kampung berwarna hitam dengan belang di permukaan leher sampai ke perutnya. Belang itu bukan warna yang mempesona, tetapi bekas sebuah keagungan penyiksaan yang dilakukan manusia, mantan majikannya yang membuat Oak melarikan diri menjadi penghuni jalanan yang dingin.

Bertemu dengannya membuatku tersadar jika nasib kami tidak jauh berbeda. Aku kira jilatanku yang menjijikkan membuat majikanku marah, atau mungkin bosan, sampai dia membuangku di pinggir jalan. Aku tidak tahu, tapi selalu bertanya mengapa aku ditinggalkan.

Hingga detik ini aku selalu sangat ingat aroma tangan majikanku yang manis seperti aroma madu berpadu susu yang membuatku senang sekali menjilati dan bermain dengannya. Kadang kami bermain lempar tangkap; dia melempar sebatang kayu ke tempat yang jauh dan tanpa menyuruh, aku selalu pergi mengejarnya. Aku tidak tau kenapa aku harus memainkan permainan itu, tetapi melihat senyum di wajah majikanku, aku selalu senang melakukannya tanpa diminta.

Aku merindukannya, majikanku yang selalu memanggilku Pon, sambil membawa sepiring makanan anjing dan susu dingin yang dia letakkan di depan jendela yang membuatku berlari padanya dengan langkah riang di dalam rumahnya yang putih dan hangat. Tidak ada hal yang paling membahagiakan bagiku selain bermain bersamanya di depan televisi atau tidur dengannya di atas selimut yang hangat. Tetapi sesuatu yang tidak pernah kumengerti sampai sekarang terjadi.

Masa bermain kami yang indah berakhir, ketika bukan hanya ada kami berdua dalam rumahnya, tetapi bertiga. Ada orang lain yang mengambil tempat di samping selimut majikanku yang hangat, seseorang berambut panjang dengan aroma pohon lapuk yang menusuk. Sejak itu, aku merasa majikanku sudah tidak lagi memiliki aroma madu yang manis, tetapi aroma pohon lapuk yang menusuk. Dia mulai berhenti meletakkan makanan untukku di piring, tidak mau lagi melempar ranting dan memintaku mengejarnya; tapi apa yang paling membuatku tidak mengerti, ketika dia meninggalkanku begitu saja sebelum aku sempat bisa mengerti apa yang benar-benar terjadi. Aku ingin bertanya mengapa, tetapi aku tidak yakin dia akan mengerti apa yang kukatakan. Dia hanya mengerti kalau aku anjing dan anjing hanya tahu menggonggong ketika mereka lapar, senang, atau sedih. Karena aku hanya seekor anjing, jadi dia tidak peduli.

Pertemuanku dengan Oak terjadi saat aku sedang berlari menyusuri gang demi gang, jalan demi jalan sambil berusaha menghirup aroma tubuh majikanku yang kuharap terkumpul di udara untuk bisa kukejar, tetapi angin membawa terlalu banyak aroma menyeruak di udara. Tak ada jejak tertinggal, hanya sebuah harapan yang entah bagaimana kuharap mampu membawa kakiku pulang, tetapi hal itu tidak pernah terjadi, dan Oak yang pertama kali menyadarkanku bahwa hal itu tidak mungkin.

Saat itu dia sedang berlari dengan kencang sembari menggigit seonggok daging diikuti anak-anak kecil yang membawa kayu dan batu. Aku yang ketakutan berlari dengannya, hingga langkah kami terhenti di sebuah rumah kosong yang lembab dan dingin.

 “Makanlah!” katanya sambil menggigit bagiannya dengan lahap. Aku tak mengatakan apa pun, tetapi rasa kagum segera membuatku terpukau, namun dengan cepat berganti penuh iba melihat bekas luka yang meraja di tubuhnya.

“Kau terluka karena mencuri?”

“Tidak, dipukuli majikanku. Kau anjing dari mana, baru pertama kali aku melihatmu di sini?”

“Aku ditinggalkan majikanku beberapa minggu yang lalu”

Oak melolong dengan keras, aku terpana mendengar kepedihan dari lantunan bunyi yang keluar dari tenggorokannya.

“Manusia memang begitu. Mereka yang mengendalikan dunia terlihat sempurna, tetapi ada yang cacat dengan nurani mereka. Kadang binatang jauh lebih menghargai kesetiaan dibandingkan manusia”

Saat itu aku berpaling dengan keyakinan yang runtuh dalam sekian detik, walaupun bahkan hingga detik ini, keyakinan itu masih berupaya kubangun dengan susah payah demi harapan untuk kembali pulang.

“Aku akan kembali dan menemui tuanku lagi. Mungkin dia mencariku sekarang!”

“Ketika seekor anjing sudah diusir dari rumah mereka, mereka tidak lagi dianggap anjing tetapi sampah, dan manusia tidak pernah memungut sampah mereka kembali ke rumah”

Aku selalu mengingat kata-katanya sejak hari itu ketika rasa rindu untuk kembali memenuhi benakku. Oak yang sudah mengajarkan banyak hal padaku, tentang cara bertahan hidup di dunia antah berantah yang memerlukan tekad luar biasa untuk terus berdiri, dan bertahan dengan cara yang sama kerasnya dengan kehidupan, tanpa meminta welas asih pada manusia yang kadang tak punya hati.

Gerimis turun lagi tetapi kakiku yang gemetaran ini terlalu berat untuk melangkah dan  menyusuri kembali jalanan gelap yang sunyi, hingga dengan berat dan terpaksa kubiarkan tetesan hujan menyusuri buluku yang hangat. Aku mendongak menatap trembesi tua dihadapaku berharap sebagian dari dedaunannya yang tersisa mampu melindungiku dari gempuran dingin dan kehampaan yang tersisa, tetapi semua itu sia-sia saja, mungkin trembesi itu harusnya juga belajar menyelamatkan dirinya sendiri.

Dari seberang jalan kudengar Oak menggonggong padaku sambil membawa seonggok daging di mulutnya, persis sama ketika kami bertemu pertama kali, tetapi saat itu tak ada lagi yang mengejarnya. Kini semua tampak damai di sisinya, dan gonggongan serta lolongannya yang panjang padaku terasa bagai undangan untuk menghadiri perjamuan abadi dari kedamaian yang ia tawarkan. Mungkin kini ia telah bahagia dan ingin membagi kebahagiaan yang sama. Dan hal itu yang membuatku selalu kagum padanya, lebih dibandingkan kekaguman pada tuanku yang telah membuangku tanpa iba.

Dengan tubuh yang dipaksa tegar bersama usaha dan keberanin yang besar, kakiku melangkah sambil melihat ekor Oak yang bergerak tak tentu arah, tingkah yang sama yang selalu ia lakukan ketika sudah tak sabar menungguku menemaninya mengais makanan sisa, yang akan kami bagi bersama sebagai bekal mengarungi jalanan yang jauh, tempat yang asing dan dunia yang aneh.  Aku tidak boleh membuatnya menunggu lama, tetapi semangat juang yang kutuang dalam langkahku itu berhenti seketika saat cahaya silau mengenai mataku, membuatku terpental sambil melihat tetes hujan seperti air mata.