Berbicara masalah perkaderan dalam Ikatan memang tidak ada batasnya. Hampir setiap saat hal tersebut menjadi perbincangan dari setiap level struktural di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Belakangan ini, persoalan Ikatan sering terbengkalai dengan adanya benturan internal yang seperti budaya warisan dari tahun ke tahun. Mulai dari persoalan pendampingan atau kemudabiran hingga proses pendekatan personal.

Melihat persoalan pendampingan yang sering berkutat pada internal ini kemudian merambat pada kemajuan dan perkembangan organisasi. Tentu perspektif ini saya kaitkan dengan pesatnya kemajuan di era milenial saat ini. Terutama kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat.

Di sisi lain, walaupun kemajuan di bidang teknologi juga sangat cepat, tapi itu justru memanjakan sifat instan pragmatis kepada setiap individu yang berdampak pada proses belajar-mengajar ataupun proses transformasi nilai dan ilmu yang dilakukan mudabir kepada setiap kader.

Takutnya dengan kemajuan ilmu pengetahun dan teknologi yang cepat, kemudian ditambah dengan ketidakmampuan mudabir dalam merespons hal tersebut, akan menimbulkan berbagai dampak negatif. Hal ini disinyalir akan sulit diimbangi dengan kemampuan kader apabila keresahan dari persoalan yang sama terus menerus dibiarkan.

Beranjak dari permasalahan dan keresahan tersebut mendorong saya untuk memetakan konsepsi pemikiran dengan niat, mungkin sedikit menawarkan contoh proker kemudabiran yang terinspirasi dari Anime Naruto.

Sebaiknya mudabir sekarang yang dalam proses mendampingi kader-kadernya, terutama Instruktur yang sebentar lagi naik jadi pimpinan dan mengembang tugas sebagai mudabir, harus sering-sering menonton Anime Naruto dan belajar cara memberikan asupan keilmuan sebagaimana yang dipraktikkan dalam anime tersebut.

Perspektif saya sebagai bentuk tawaran untuk mengikis hambatan terkait persoalan perkaderan sebagaimana di atas, anime Naruto memiliki konsep pendampingan yang efektif dalam meningkatkan kemampuan setiap kader dalam naungan kemudabiran. Melihat setiap dari satu senior secara khusus mendampingi dan menaungi tiga kader untuk diarahkan sesuai dengan minat bakatnya masing-masing.

Pendampingan dari satu senior dalam anime Naruto untuk memberikan asupan-asupan kepada setiap kader yang melatih jutsu-jutsu khusus atau mengembangkan jutsu yang menjadi gen keturunannya membuahkan hasil yang memuaskan, di mana mereka berkembang dengan sangat cepat dengan kemampuan yang berkualitas dan berlainan.

Setiap misi yang mereka jalankan juga selalu dilakukan bersama, sehingga terbentuknya rasa persaudaraan yang sangat erat. Selain daripada itu, tidak lepas juga melatih dan mengembangkan kemampuan mereka dengan tim/kelompok lain. Sehingga solidaritas bukan hanya sesama tim yang terdiri dari tiga orang saja, akan tetapi tercipta juga solidaritas antara tim satu dengan tim lainnya.

Kakanda Ahmad Baits dionegoro salah satu senior dari perserikatan yang sekarang sudah menjadi Pengusaha dan Trainer. Ketika mengisi materi DMO, beliau menjelaskan bahwasanya:

Kader Tamaddun jangan hanya menguasai keilmuan yang terkait dengan religius di Komisariat saja, akan tetapi harus dekat serta harus sering diskusi degan Komisariat Restorasi guna belajar dan menguasai ilmu Psikologi. Harus sering diskusi dengan Komisariat Fasco guna menguasai ilmu perekonomian. Dengan komisariat mana pun itu, kader Tamaddun harus menjalin hubungan emosional dan kedekatan yang terstruktural supaya bisa belajar bersama dengan mereka guna terciptanya kader yang berkeilmuan komprehensif.

Lebih jauh, kakanda Bait (panggilan akrabnya) memberikan contoh terkait pengalaman yang dilaluinya sendiri. Beliau menggambarkan bagaimana dulunya dia melakukan hal yang serupa, yakni sangat dekat dengan komisariat lain guna menarik pengetahuan dari mereka selain dari mentransferkan basis kemampuan yang dia punya.

Setelahnya, terbentuklah karakter dan intelektual yang mapan dalam diri pribadinya. Seperti, misalnya, beliau menguasai ilmu tentang perekonomian, hukum, ilmu psikis, ilmu bisnis, dan banyak lainnya.

Penjelasan dan contoh yang diberikan kakanda tersebut memiliki koherensi dengan contoh yang terdapat dalam anime Naruto. Di mana upaya pendekatan yang dilakukan dalam anime tersebut sangat frontal terlihat sebagai tanda persahabatan dan solidaritas yang kuat antara tim/kelompok dengan tim/kelompok lain dalam setiap kegiatan.

Artinya, kader Tamaddun bisa dikatakan satu tim/kelompok, kemudian melatih mengembangkan basis keilmuannya dan berkolaborasi dengan komisariat lain sehingga terbentuklah basis intelektual yang komprehensif dengan menguasai berbagai macam jenis keilmuan.

Cara ini, selain membentuk solidaritas dari tim (kader) Tamaddun yang mengembangkan keilmuan internalnya, juga mampu membentuk solidaritas antara Tamaddun dan Komisariat lain. Terlebih lagi persaingan untuk menampilkan eksistensi intelektual dalam diri kader akan semakin meningkat dengan menyadari bahwa yang mereka lawan sebagai kawan untuk meraih keilmuan adalah orang luar (komisariat lain).

Hal urgent yang fundamental selain daripada paparan di atas ialah skill kader akan terbentuk dengan kebiasaan melatih hubungan sosial di luar lingkungan komisariatnya, orientasi nilai humanisasi dalam trikompetensi dasar sebagai asas pergerakan kader juga terealisasikan, serta dengan keilmuan yang didapatkan kader akan mempermudah mereka dalam menghadapi tantangan zaman dan problematika kemanusiaan.