Animal Symbolicum. Frasa ini pertama kali digunakan Ernst Cassier dalam buku An Essay on Man: Introduction to a Philosphy of Human Culture (1944). Menurutnya, manusia adalah binatang yang menghidupi dan dihidupi simbol. Dari gagasan ini kemudian pemikiran filsafat banyak terpengaruh. Terutama saat manusia menjadi sentrum pembahasan.

Sebagai binatang yang berpikir (homo sapiens), pertemuan dengan berbagai simbol tentu saja menjadi niscaya. Termasuk di dalamnya menelaah, hingga menafsirkan. Tetapi harus dimulai dengan langkah menarik diri terlebih dulu. Hal ini bertujuan untuk menjembatani modal pengetahuan dan penafsiran. 

Ambillah contoh perintah berpuasa bagi umat Islam. Jika mengacu pada jam biologis tubuh, makan dan minum terutama di siang hari,menjadi sesuatu yang harus dipenuhi. Namun, saat bertemu konsep keimanan dan kewajiban bulan Ramadan(dipahami dan diyakini) pemenuhan kebutuhan dasar tadi mengalami penundaan. Menariknya, itu secara sadar dilakukan.

Contoh lain dalam kehidupan sehari-hari, misalnya ‘kursi’. Jika kita kaji secara fungsional, tafsir tentang ‘kursi’ adalah penopang tubuh saat duduk. Namun, apakah hanya itu tafsirnya? Tentu tidak. Apalagi mendekati momentum politik, kata ‘kursi’ juga akan ditafsirkan sebagai kekuasaan. Minimal, mendadak jadi pengganti kata jabatan.

Lantas, bagaimana dengan kemampuan (manusia) memberi tafsir yang tepat terhadap sebuah simbol? Terutama jika merujuk pada klaim sebagai Homo Sapien. Banyak ahli linguistik yang memberikan petunjuk soal ini. 

Bagi saya ini menjadi penting. Sebab, jembatan penghubung untuk jadi tahu dan mengetahui terletak pada kemampuan membaca simbol/tanda. Sederhananya, bisa dimulai dengan mengkaji secara ontologi dan epistemiologi. Semata-mata dengan tujuan untuk sedikit lebih cerdas dalam membaca (sebuah) simbol/tanda.

Jika kita pakai pisau analisis salah satu begawan linguistik, Ferdinand de Saussure, ada lima hal ihwal bisa digunakan untuk memahami sebuah simbol. Pertama petanda dan penanda. Meskipun petanda dan penanda dua kata berbeda, menurut beliau, keduanya menyatu dalam komponen tanda. Menariknya, tanda menjadi komponen dasar bahasa. Dan, bahasa menurut Heidegger adalah tempat tinggal manusia.

Kembali ke soal tanda, petanda, dan penanda. Meskipun petanda dan penanda menjadi komponen penyusun dari tanda, namun sulit dijelaskan oleh Saussure kenyataan tanda dalam kebahasaaan itu bersifat semena-mena (arbitrer). Semena-mena dalam artian, tidak sedikit tanda yang berbentuk kata terkesan secara alami tidak berhubungan dengan petanda dan penanda.

Sebagai contoh, sangat kurang dari kita mampu menjelaskan perbedaan penyebutan nama untuk perkakas rumah berbidang datar dan memiliki empat kaki bernama ‘meja’ dalam bahasa Indonesia, padahal disebut ‘mejang’ oleh orang Makassar, atau orang Inggris menyebutnya ‘table’. Namun, baik orang Indonesia, Makassar, dan Inggris bersepakat bahwa ketiga kata berbeda itu merujuk pada benda yang sama. Demikian sifat arbitrer dari tanda kebahasaan.

Kedua, bentuk dan isi. Jika hanya berdasarkan terminologi tanda, petanda, dan penanda saja, saya yakin akan banyak kesulitan ditemui manusia. Tentu saja masih berhubungan dengan sifat arbitrer dari tanda kebahasaan itu sendiri. Untuk itulah, bentuk dan isi menurut Saussure menjadi penting untuk kemudian memahami dan memaknai sebuah simbol. Menurutnya, bentuk dan isi bisa digunakan untuk membedakan makna beberapa simbol.

Sebagai contoh, kata mati dan mata. Kedua kata ini hampir sama. Pembedanya pada keberadaan huruf i dan a. Namun begitu, apakah maknanya juga hampir sama? Di sinilah bentuk dan isi menjadi penting dalam memaknai sebuah simbol. Meski bentuknya nyaris serupa, secara isi kedua kata tersebut jauh dari persamaan. Antara langit dan bumi. Satu bermakna salah satu organ tubuh, dan lainnya bermakna kondisi tidak bernyawa. Demikian pentingnya bentuk dan isi dalam memaknai simbol atau tanda.

Hal penting ketiga menurut Saussure adalah bahasa dan bentuk ujaran/tuturan/penyebutan. Sekali lagi, ihwal ketiga ini tidak kalah pentingnya dari dua hal di atas dalam memaknai sebuah simbol. Terlebih jika kita hubungkan dengan konteks Indonesia dimana terdapat sekitar 652 jenis bahasa daerah. Jumlah ini berbanding terbalik dengan banyaknya suku bangsa di Indonesia yaitu hanya 300 kelompok etnik. Bisa dibayangkan betapa beragamnya langgam dialek di negara ini

Sebagai contoh, kehebohan penyebutan Al-Fateka oleh orang nomor satu bangsa ini, kemarin. Konon lidah orang yang berasal dari Jawa terbiasa menyebutkan Al-Fateha dengan sebutan Al-Fateka. Mereka yang paham betul tentang pisau analisa Saussure akan menganggap penyebutan surah pembuka kitab suci agama mayoritas di republik tidak ada masalah. Jika sebaliknya, persoalan tentu akan muncul. Ujungnya, akan beleter tanpa tujuan pasti. Meskipun hanya melalui media sosial.

Ihwal keempat menurut Saussure adalah sinkronik dan diakronik. Dalam buku Kecerdasan Simiotik karya Yasraf Amir Pilian dan Audifax, untuk menjelaskan sinkronik dan diakronik, kiata ambil contoh kata ’mouse’. Jauh sebelum mouse ditafsirkan sebagai sebuah perangkat penggerak kursor, satu-satunya makna dari kata tersebut adalah tikus. Kata ‘mouse’ sendiri adalah bahasa Inggris, artinya, tikus.

Semenjak orang memperkenalkan padanan ‘mouse’ sebagai alat untuk menggerakkan kursor, simbol atau tanda memasukkan variable lain yang mempengaruhi strukturnya yaitu ruang dan waktu. Saat itulah ihwal sinkronik dan diakronik menemukan tempat. Jadi begini, jika kita paham bahwa ‘mouse’ itu adalah simbol/tanda binatang otonom dan berbeda dengan dog atau horse, juga di saat bersamaan ‘mouse’ sebagai perangkat penunjuk kursor berbeda dengan keyboard, CPU, maka kondisi ini dinamakan relasi sinkronik.

Kemudian, sebelum ditemukan peranti komputer ‘mouse’, kata yang sama hanya bermakna binatang pengerat termasuk suku Muridae (saja). Seiring waktu terbentuk struktur baru dengan menggunakan kata yang sama adalah bentuk relasi diakronik.

Ihwal terakhir menurut Ferdinand De Saussure dalam memaknai symbol/tanda adalah sintagmatik dan paradigmatic. Untuk menjelaskan batasan kedua kata ini, kita perlu paham tujuannya lebih dulu. Sintagma dan paradigmatik bertujuan untuk memberikan penafsiran kepada kita terkait kategorisasi. Sehingga, baik sintagma maupun paradigmatik memiliki ciri masing-masing.

Sintagma sendiri berdiri pada aras (logika) sekuensial dalam relasi ruang. Artinya, dalam memaknai simbol/tanda tertentu jika menggunakan sintagma, maka sebuah keniscayaan untuk memasukkan proses umpan balik dalam mempresentasikan ruang.

Sementara itu, paradimatik adalah seperangkat informasi, baik penanda maupun petandanya mampu memberikan batasan tersendiri hingga si penafsir dapat memasukkan simbol/tanda tersebut dalam satu kategori. Di saat bersamaan juga mampu membedakan dengan yang lain.

Demikian pembahasan singkat terkait simbol dan tanda dengan memakai sudut pandang salah satu begawan linguistik dunia. Tujuannya untuk sekadar menjadi bekal dalam memaknai setiap tanda dan simbol di sekitar kita.

Kira-kira, bagaimana pandangan Ferdinand De Saussure, jika masih hidup, terkait fenomena pembakaran bendera oleh ormas tertentu kemarin?        

Tabik.