Lagi-lagi Anies Baswedan membuat sebuah polemik baru yang menyebut bahwa jumlah hadirin di dalam acara reuni 212 pada tanggal 2 Desember 2019 adalah jutaan. Bagi saya, ini adalah mark up jumlah peserta yang tidak masuk akal. 

Padahal yang seharusnya datang dan yang terhitung secara riil adalah hanya puluhan ribu. Mengapa Anies mengatakan sampai jutaan? Saya curiga dan menduga bahwa ini adalah strategi kata-kata saja untuk memberikan dukungan moral bagi para anggota reuni 212. 

Anak ini memang pandai berkata-kata dan pandai untuk menenangkan hati orang. Jujur saja, dia memiliki talenta di dalam berkata-kata bahkan untuk level ngawur sekalipun. Mark up jumlah peserta monaslimin di sana sudah benar-benar tidak masuk akal.

Bayangkan saja, dari 10.000 menjadi 1.000.000 itu sudah naik 100 kali. Saya menghitung itu dalam angka jutaan yang terkecil saja. Tapi kalau bicara tentang jutaan, bisa sampai 7 juta. Artinya, kenaikannya 700 kali. 

Kenapa saya sebut angka 7 juta? Karena itulah yang disebutkan oleh para monaslimin di tahun-tahun sebelumnya. Bayangkan kalau angka kepala manusia yang riil saja bisa di-mark up, bagaimana dengan angka-angka di budgeting yang dituliskan dan diinput oleh bawahan si Anies Baswedan ini?

Bayangkan saja lem Aibon bisa menembus angka 82 miliar dan pasir untuk sekolah bisa di angka 50 sekian miliar. Angka-angka fantastis ini terlihat dari apa yang disebut dengan e-budgeting.

William Aditya Sarana membongkar anggaran ini dan memviralkan keanehan dari sistem yang dibuat oleh Pak Ahok sebelumnya. 

Anies Baswedan adalah gubernur terburuk sepanjang sejarah. Suka-suka dia saja di dalam melakukan tata kata. Kebenaran dikesampingkan. Akan tetapi, tipuan, mark up, dan juga kalimat-kalimat penenang disembur tidak karuan oleh orang ini.

Mulutnya begitu cepat dalam berkata-kata, namun hasilnya tidak ada. Nihil kosong melompong.

Coba berikan saya satu pencapaian Anies Baswedan di kota Jakarta selain menghancurkan kota ini dengan kata-katanya. Apa peranan TGUPP? Hanya menjadi buzzer politik Anies di media sosial. Lihat saja Marco yang tidak bisa memberikan kinerja yang baik bagi TGUPP. Lihat lagi Elisa yang juga kerjanya apa?

Apalagi si Bambang Widjojanto yang juga tidak terlihat kinerjanya selain kalah di dalam sidang MK. Orang-orang di belakang Anies Baswedan ini memang memiliki kesamaan, yakni suka melakukan mark up kata-kata. 

Apa yang dikatakan jauh lebih tinggi dari realitas yang dirasakan. Warga Jakarta tidak mendapatkan apa pun faedah dari keberadaan Anies dan anggota-anggota yang berjumlah 70 sekian orang.

Oh sungguh malang nasib warga Jakarta di bawah pemerintahan si manusia yang tidak suka mengatakan hal-hal yang sesuai kenyataan. Kalau mau dikata, Anies adalah pilihan demokrasi yang paling buruk. Demokrasi yang dipaksakan hanya karena pengaruh identitas agama terlepas dari kinerja.

Mark up anggaran yang terjadi di era Anies tentu berkait dengan orang ini juga. Tidak mungkin ada kesalahan input jika tidak dibiarkan atau dipantau oleh Anies Baswedan. Dan tidak mungkin bawahan-bawahannya berani melakukan mark up seperti itu jika pimpinannya adalah Ahok.

Anies adalah orang yang tidak konsisten. Apa yang dia katakan tidak pernah sesuai dengan apa yang terjadi. Lantas orang ini masihkah dipercaya?

Herannya, ada saja orang-orang yang merasa Anies ini adalah pemimpin terbaik. Entah darimana logikanya dan dari mana mereka bisa dapat alasan untuk dukung orang tersebut?

Saya jujur saja, kasihan dengan keberadaan warga Jakarta yang terdalimi oleh pemimpin yang tidak becus ini. Entah apa yang ada dipikiran warga Jakarta sehingga bisa memenangkan orang ini.

Semoga saja DPRD DKI Jakarta menjadi elemen masyarakat yang membantu masyarakat untuk memantau uang mereka. Terima kasih kepada anggota PSI sudah berani membongkar anggaran tersebut meskipun ancamannya adalah berhadapan dengan pendukung Anies yang tidak menggunakan rasio dan lebih menggunakan ancaman.

Tentu warga Jakarta mendukung gerakan PSI di dalam membongkar anggaran yang ada. Semoga saja PSI tetap amanah dan tidak kendor di dalam terus mengawal uang rakyat dan mengkritik kebijakan-kebijakan aneh yang dilakukan oleh Anies Baswedan.

Baru kali ini saya melihat partai yang begitu bergelora untuk membela uang rakyat. Ahok yang sudah dimatikan karier politiknya, sekarang muncul era Ahok-Ahok yang baru dan jumlahnya lebih banyak, lebih muda, dan lebih bersemangat.

Kita akhiri era kata-kata yang di-mark up. Sekarang eranya kerja, bukan hanya bicara.

Stop mark up kata-kata. Kita butuh kerja nyata. Ikuti saja apa yang dikerjakan oleh presiden kita, Joko Widodo. Banyak berkata-kata tidak akan membuat kita ke mana-mana. Saking jauhnya kata dari hasil, di sanalah muncul kemunafikan. 

Katakanlah apa yang nyata, bukan yang tidak ada. Biarkan itu menjadi tugas para sastrawan. Bukan gubernur. Paham?