Entah sampai kapan kita bisa terlepas dari jeratan teknologi yang kini telah merajalela di penjuru dunia. Namun sayang, kita sudah terjebak dan terkurung dalam spektakulernya kecanggihan masa kini. Tiada daya dan upaya untuk mengelakkan segala hal yang sudah terlanjur adanya. Hidup pada sesaknya era milenial ini bukanlah suatu perkara yang mudah, bernafas pun sudah saatnya membutuhkan peran sinyal. Layaknya oksigen, mungkin sinyal disejajarkan di tingkat primer. Bagi mereka, hidup tak bersinyal bagaikan nasi tak berlauk. Memanglah mengenyangkan perut tapi tak memberikan kesan gurih dalam lezatnya kuliner. Maka, di tahap zaman glamour ini, manusia berlomba-lomba untuk mencari sebuah lauk yang sekiranya dapat memaniskan derasnya globalisasi. Segalanya serba cepat nan praktis. Tak perlu berusaha pun, biarlah teknologi memainkan peran utamanya. Lantas, kita justru seperti penonton yang bangga akan dramatisasi kecanggihan tersebut.

Meskipun demikian, berjalannya waktu tak bisa memutarbalikkan bubur menjadi nasi. Sekalipun bisa, tidaklah sesempurna layaknya di awal bahkan mustahil. Lalu, bagaimana nasib kita akan kemajuan yang luar biasa ini? Mungkin waktu juga takkan mengakui kita sebagai makhluk purba. Hidup diantara rimbanya hutan dan dikepung hewan-hewan buas. Hidup yang mengandalkan kekuatan fisik untuk kelangsungan makan dan minumnya. Zaman prasejarah yang tidak memerlukkan keberadaan sinyal saja masih bisa bertahan dari ancaman iklim cuaca serta kebuasan hutan. Namun, entah kenapa zaman elit sekarang tergila-gila akan hadirnya sinyal?

 Sinyal merupakan benda tak tampak tapi diidam-idamkan. Tak hanya sinyal saja, perkakas canggih kini mulai mengobrak-abrik dunia kuno yang tidak lagi pantas berdiam santai sembari duduk di atas gemerlapnya dunia. Berhitung sudah menggunakan kalkulator, berfoto sudah menggunakan kamera. Bahkan, untuk berjalan ke depan pun sudah menggunakan motor atau mobil. Lantas, jikalau kita meniti balik perjalanan waktu lampau, akan terasa perbedaan yang sangatlah jauh antara era dulu dengan era sekarang. Dulu, menulis butuh batu untuk diukir, berhitung butuh batu, berburu butuh batu. Bahkan, hendak tidur pun tetap beralaskan batu. Sebuah pencapaian terluhur umat manusia dalam penggunaan batu sebagai penunjang kehidupan. Namun, hanya berlaku pada zaman megalitikum saja. Belum menerawang ke depan akan lahirnya tokoh-tokoh pendobrak gerbang modernisasi. Para pemikir luar biasa yang berani merubah total dan  membalikkan dunia batu menjadi dunia listrik. Maka, adakah manusia yang sadar?

Tak ayal lagi di sekeliling kita, peristiwa lalu-lalangnya manusia begitu sibuk saking dimabuk oleh madunya teknologi. Nyaris kapanpun dan dimanapun, seakan aktivitas tak bisa luput dari cengkeraman teknologi. Kenapa bisa? Coba bayangkan, dari bangun tidur sampai tertidur lagi serasa dipenjarakan oleh maraknya elektronika yang kian bertebaran dimana-mana. Di rumah, sekolah, kantor, bahkan jalan raya sekalipun butuh teknologi tersebut. Maka, jangan salahkan zaman ini yang terlanjur mengepung duniawi kita dengan adanya demikian.

Berhitung angka-angka ratusan bahkan ribuan tak akan bisa dijangkau oleh ke-sepuluhan jemari kita. Cukuplah kalkulator sebagai solusinya. Berdialog jarak jauh pula tidak perlu repot untuk saling bertemu, hadirnya ponsel pun siap mengatasinya. Bahkan, fungsi ponsel tak sebatas dialog saja, kecerdasan Leonard Kleinrock menciptakan Internet pertama sebagai peng-explore kehidupan dunia luar membuat segala masalah hilang sekejap oleh jentikkan sang internet. Entah kuliner, tips-tips, gaya hidup, dan berita lainnya hanya terkandung dalam satu genggaman ponsel saja. Bukankah ini sebuah terobosan memukau layaknya perantara dari abad muawwal sampai tibanya abad mutakhir kini? Lantas, adakah yang berpikir siapakah sosok dibalik pembongkaran sistem dunia batu hingga terlahirlah dunia elektronika? Dan apakah yang melatarbelakanginya?

Dulu, Tsai Lun seorang kebangsaan Tionghoa terlahir di zaman Dinasti Han. Dia begitu muak akan sistem tulis menulis yang kerap menggunakan bambu atau potongan sutra. Terlebih lagi, sutra berharga mahal dan bambu pun lumayan cukup berat untuk dibawa kemana-mana. Kemuakkan ini sesungguhnya memunculkan ide begitu brilliant dan sangatlah berpengaruh pada era keemasan selanjutnya. Kemudian dia menciptakan benda ringan nan murah yaitu, kertas. Kertas bermula dari kulit pohon Murbei yang direndam dalam air lalu dipukul-pukul sampai seratnya lepas. Setelah menjadi bubur, bahan ini ditekan hingga tipis dan dijemur lalu jadilah kertas sebagai media tulis menulis. Sebuah penemuan yang sangat penting bagi umat manusia dan perlu diabadikan momen bersejarah ini. Usaha sang Tsai Lun dalam perubahan menuju elitnya globalisasi merupakan jasa yang amat berharga. Tak ada nilai bandingannya.  Apakah sejarah hanya mencatat sedemikian singkatnya sebuah kisah hebat dari sehelai kertas? Tentu saja tidak! Rentetan kisah Kertas yang penuh suka duka akan berhilir terus sampailah sekarang kita berdiri. Andaikan kertas punya mulut, mungkinkah keluh kesahnya diutarakan? Ataukah cuma sekadar suka cita saja?

Seusai penciptaan kertas dari sosok Tsai Lun, rahasia kekaisaran Tionghoa dalam teknik pembuatan kertas itu  bocor, bermula dari bocoran tawanan perang Tionghoa dan berakhir dengan tersebarnya ke dataran timur serta jatuhlah kebocoran tersebut pada Bani Abbasiyah. Di zaman Abbasiyah-lah yang disebut-sebut sebagai golden age. Sebuah zaman perubahan drastis dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Zaman yang sudah meraih puncak keemasan dengan lahirnya cendikiawan muslim seperti, Ibnu Rusyd, Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Jabbir Ibnu Hayyan, dan Ibnu Haytam serta ilmuwan-ilmuwan yang berjasa dalam akademis lainnya. Beliau semuanya menggunakan kertas sebagai media pencatatan dalam bereksperimen. Didokumentasi lalu disusun dalam tebalnya ensiklopedia ilmu yang begitu agung. Sebuah mahakarya menakjubkan yang mengubah pandangan manusia menuju peradaban yang cerah. Mungkin jikalau tanpa Ibnu Rusyd, filsafat ilmu akan terkubur dalam-dalam. Tanpa Al-Khawarizmi, penghitungan aljabar matematika takkan menjawab pertanyaan fisika. Tanpa Ibnu Sina, ilmu kedokteran hanyalah angan-angan belaka untuk pengobatan organ dalam. Tanpa Jabbir Ibnu Hayyan, ilmu kimia takkan sampai meluncurkan roket bahkan bom atom sekalipun. Dan tanpa sosok Ibnu Haytam, mungkin kamera takkan membuat kita berfoto ria dan gila selfie. Lantas, jikalau bukan karena kertas sebagai media perantara ilmu, apa lagi?

Namun sayang, keemasan Bani Abbasiyah runtuh dan jatuh telak di bawah kaki tentara Mongol dari titah Hulagu Khan yang membabat habis peradaban cerah itu. Bahkan, perpustakaan termegah milik Bani Abbasiyah, Baitul Hikmah diporakporandakan. Segala ilmu pengetahuan seakan lenyap tak berdaya lagi. Sebagian buku-buku ada yang dicuri dan ada pula yang dibakar oleh lalap api yang membara. Tidak hanya tentara Mongol saja, bangsa Eropa pun menginvasi lalu menyerang kerajaan Islam tersebut. Hingga berkecamuklah perang salib di bawah pimpinan Paus Urbanus II yang sama-sama merebut alih pengetahuan dan kejayaan. Namun, yang sangat mengejutkan ialah peristiwa pembakaran perpustakaan besar-besaran. Bagaimanakah nasib berhelai-helai kertas itu? Kertas yang sudah berisikan ilmu agung, kini hanya bersisakan abu yang melayang. Demi sebuah kemenangan, penginvasian tidak tega-teganya menghancurkan segalanya. Ilmu pengetahuan redup dan kebangkitan pun nihil. Jikalau kertas bisa menangis, pasti menangis sejadi-jadinya. Dan tahukah kau?

Walaupun demikian, sejarah Eropa menemukan titik terang dari pertikaian ilmu pengetahuan yang dibatasi oleh gereja. Eropa yang dulu gelap, kini telah melahirkan kemajuan begitu pesat dari pengambilalihan pengetahuan dari bangsa-bangsa lain. Masa yang tercipta dari cipratan ilmu itulah yang disebut-sebut sebagai masa Renaissance. Dari sehelai kertas dapat melahirkan ratusan cendikiawan dan budayawan terdidik. Antara lain, Leonardo Da Vinci, Christopher Columbus, Galileo Galilei, dan Johann Gutenberg. Kelahiran mereka sangatlah ditunggu-tunggu! Da Vinci dengan kelihaian tangan manisnya melukiskan karya seni klasik yang mengagungkan di atas kanvas. Columbus dan petanya dapat mengarungi luasnya samudera biru nan buas. Galileo sebagai fisikawan termasyhur. Dan tak kalah lagi dengan sosok Gutenberg, seorang penemu mesin ketik yang mengubah buku-buku menjadi ketikan rapih nan bagus. Sebab apakah segalanya berubah? Apa lagi kalau bukanlah peran kertas, kertas, dan kertas! Kertas yang sedari tadi menangis, kini mengusap kesedihan lalu tersenyum.

Mungkin tanpa hadirnya kertas, dunia serasa sempit dan dipenjarakan oleh kebodohan. Kebodohan yang melanda kaum-kaum intejelitas masa kini. Walau dipandang remeh, kertas pun tampil memukau untuk peran keajaiban sesungguhnya. Tapi, akankah kertas selalu tetap eksis dan terus bertahan dalam derasnya globalisasi? Kecil kecil cabe rawit itulah julukan yang pantas tersemat pada diri kertas. Namun, adakalanya prediksi Frederick W. Lanchester, pakar informasi Inggris pada 1978 menyerukan istilah paperless society itu fakta! dimana masyarakat acuh tak acuh akan kemunculan kertas. Sehingga cabe rawit-nya tersisihkan oleh internet sebagai orang baru dalam era digital ini. Internet yang dipuja-puja untuk menjawab segala permasalahan pun tak dapat dipungkiri lagi keistimewaannya. Sudah jelas dirancang sedemikian rupa demi mengurusi aktivitas manusia se-dunia! Jadi, bagaimana nasib kertas yang tak bersinyal dan tak ber-internet itu? Manusia jenjang apapun pasti butuh internet. Internet yang sekali di-click, langsung keluar result pun kini naik daun dan digemari oleh siapapun. Maka, adakah manusia yang berterimakasih pada kertas sebagai cikal bakal internet?

Zaman sekarang, manusia sudah bosan untuk mendatangi perpustakaan yang kian sepi. Jika perpustakaan terdapat WiFi. Maka, lebih banyak fokus pada internet daripada tumpukan ensiklopedia yang tersusun. Bahkan, perpustakaan pun banyak yang berupa E-book. Suatu kecanggihan yang membuat manusia menjadi malas pergi ke perpustakaan dan lebih memilih terpaku pada layar internet. Oleh karena itu, dibutuhkan kesadaran dalam menghijaukan rajin membaca serta menulis supaya tidak terlahir generasi-generasi pemalas yang semakin bobrok ditelan zaman! Haruskah kita menggalakkan dan membasmi kemalasan membaca? Harus!

Dalam aktivitas sehari-hari, peran kertas tidak hanya berdiam di perpustakaan, di sekolahan, atau tempat-tempat akademis lainnya. Penggunaan kertas kini menjalar hingga seluk beluk dunia. Tidaklah sulit untuk mencari keberadaan kertas. Dapat dijumpai di selasar pasar dan warung makan sampailah kertas itu tergeletak di meja pemerintahan. Penggunaan kertas bersifat subjektif. Tergantung siapakah penggunanya. Kertas bagi penjaja makanan berguna sebagai bungkusan nasi dan lauk. Beda lagi bagi pemerintah, kertas berfungsi sebagai penyimpan data-data vital pemerintahan. Bahkan, hanya sehelai kertas pun dijaga ketat oleh pihak keamanan.

Fungsi kertas pun bermacam-macam. Murid dan mahasiswa berlomba-lomba membeli buku demi meningkatkan akademisnya. Seniman butuh kertas demi menciptakan prakarya atau disebut origami. Sastrawan butuh kertas untuk menumpahkan ide tulisannya pada khalayak ramai. Bahkan, kertas pun dapat bernilai romantis pada seorang kekasih pujangganya dengan kalimat-kalimat cinta. Bukankah suatu hal yang indah bila kelestarian kertas dijaga dan akan berakhir harmonis serta damai? Maka, cintailah kertas, jangan sampai terbuang sia-sia!

Semakin banyaknya minat dan kebutuhan pada kertas, sekarang, pabrik-pabrik kertas berdiri kokoh dan mempersiapkan hutan sebagai bahan baku kertas. Takutnya, hutan yang begitu asri kini hilang digerus oleh traktor ganas yang menebangi pepohonan. Jikalau hutan terus-menerus digundul habis, habitat satwa hutan pun hilang dan mengakibatkan gejala alam antara lain, banjir dan tanah longsor. Bukannya Allah telah berfirman dalam QS.Al-Maidah:87 ...Janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Maka, janganlah sekali-kali sewenang-wenang dalam menentukan sesuatu. Semua ada batasannya! Menebang pohon tidaklah seenak tunjuk sana tunjuk sini. Semua harus seimbang agar tidak terjadi pro-kontra. Maka, untuk mengantisipasinya, dilakukan gerakan reboisasi guna menghijaukan kembali hutan yang gundul. Reboisasi tidak butuh ucapan saja, butuh aksi dan kebersamaan mewujudkan kelestarian alam. Jangan cuma butuh saja, tapi menjaganya enggan! Sesuai kata pepatah habis manis sepah dibuang.

Kertas diciptakan bertujuan untuk hal berbau positif, Bukan yang berbau negatif dan menyulutkan konflik. Kertas yang seharusnya menyalurkan ilmu justru dibuat menambah dosa. Contoh  kertas yang diremas-remas lalu melemparkan ke salah seorang temannya, kertas yang berisi tanda tangan resminya peperangan dunia. Bukan itu yang diharapkan kertas! Kertas tak ingin amal jariyahnya menyeret kearah kejelekan. Kertas ingin berkata sesuatu tapi tak bermulut. Berbagai manusia entah apalagi yang akan ditulis di kertas, kebaikan ataukah keburukan?

Inilah demokrasi kertas! Meminta hak-haknya terpenuhi agar tak ada yang dirugikan. Boleh menebang pohon sembarang tapi ingat, secukupnya! Alangkah bagusnya bila semua tulisan menyerukan semangat untuk saling bahu-membahu merawat alam dan hutan, khususnya. Sebuah simbiosis mutualisme antara manusia dengan kertas, siap memberantas niat buruk pada mereka yang menghancurkan alam! Tulisan yang mendobrak peradaban manusia yang bermalas-malasan di era digital ini! Tulisan yang menciptakan metamorfosis kehidupan yang cerah! Tulisan yang mengukir kembali sejarah ilmu pengetahuan! Kita bukanlah manusia bodoh dan malas! Bukankah sejarah telah bertutur demikian akan fakta kemenangan bani-bani sebelumnya? Kertas pendobrak zaman, bukan internet! Jangan salahkan kertas menempati kedudukan teratas dalam jenjang sumbangsih peradaban dunia.

Memang benar, kertas tak bermulut. Tapi ingat, mulutnya kertas tergantung tulisan sang penulisnya. Dan cukupkah dengan essay ini dapat merubah pola pikir mereka yang merusak alam? Berdasarkan dalil QS.Ar-Rum:41 Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan manusia... Akankah kita seorang perusak yang dibenci tuhan? Dimulai dari hal kecil berupa tulisan dan kelak akan merubah umat manusia ke jalan yang benar. Dan ingat, tulisan diperuntukkan bagi mereka yang punya mata! Tulisan untuk dibaca. Lantas, akankah mereka membacanya?