Ketika aku bergabung pada banyak grup: Akademisi, Alumni Kampus, Dosen, di WhatsApp (WA), aku banyak mendapati flayer yang berisi ajakan menulis. Mulai dari yang namanya penulisan artikel, buku bunga rampai, ensiklopedi, jurnal, makalah, riset bersama, sampai pada call for paper.

Walaupun berbeda-beda judul, namun intinya tetap sama, yaitu ajakan untuk menulis ilmiah yang melalui riset atau hasil penelitian. Sehingga, tulisan itu bisa dipresentasikan sekaligus dipublikasikan.

Sebagai seorang "Dosen" yang dituntut bisa menulis dan punya tulisan ilmiah juga untuk keperluan angka kredit, kenaikan jabatan fungsional dan struktural, sertifikasi, dan sampai pada gelar dosen luar biasa atau dan profesor. Ini menjadi keharusan.

Namun, arti dan makna penting dari menulis ilmiah menurut Dirjen Sumber Daya Iptek Dikti (SDID) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), Ali Ghufron Mukti mengatakan bahwa tugas dosen adalah untuk mentransformasikan ilmu, pengetahuan, dan teknologi. 

Seorang dosen juga harus meneliti dan menulis jurnal (internasional). Karena jurnal tulisan harus logis dan bisa diverifikasikan. Ada kebenaran ilmiah, bukan abal-abal, apalagi hanya mimpi. 

Maka, menulis di sini urgen sekali bagi seorang "dosen". Apalagi yang "bermimpi" jadi dosen.

Menulis (paper ) tak semudah mendapatkan pacar?

Baca Juga: Belajar Menulis

Aku lebih suka menggunakan kata paper dibanding kata jurnal dan lainnya karena selama ini selalu membaca tulisan call for paper.

Btw, apakah menulis (paper) tak semudah mendapatkan pacar atau mendapatkan pacar tak semudah menulis (paper)?

Kalimat di atas adalah ide seorang teman yang mengatakan mencari inspirasi untuk call for paper tak semudah mendapatkan pacar. Namun bagiku, bukan inspirasi yang susah namun menuliskannya.

Nah, mau pilih yang mana? Mudah menulis paper atau mendapatkan pacar? Jawabannya pasti relatif sekali. Tergantung kita mau yang mana, dan ekspert di mana.

Mungkin, jika kita keren, luwes bergaul, dan pintar menulis sekaligus mendeklamasikan puisi yang bisa bikin orang klepek-klepek mungkin (lagi) mendapatkan pacar lebih mudah dibanding menulis (paper).

Namun, kalau kita lebih suka meneliti, rajin membaca, dan menulis sesuatu apalagi menulis riset yang sesuai dengan aturan khususnya sebagai sesuatu yang ilmiah mungkin jawaban kita memang menulis paper memang lebih mudah daripada mendapatkan pacar. 

(Habis terlalu serius meneliti dan kebanyakan di depan laptop, jadi tidak punya pacar, he he he). 

Tapi inti tulisan ini sebenarnya, bagaimana cara kita menulis paper dengan mudah sehingga bisa kita kirimkan ke seminar atau pertemuan yang mengundang kita untuk Call for Paper?

Jangan Mati Kutu di Depan Laptop

Seperti pengalamanku kemarin, ketika mengikuti call for paper. Jika penelitian dengan metode kualitatif, penelitian yang lebih mengutamakan analisis, deskripsi, dan penelitian lapangan ini tidak (banyak) yang menjadi masalah. 

Tinggal mengumpulkan ide, lalu wawancara, kemudian berdiskusi atau buat Forum Grup Discussion (FGD), bisa melakukan dokumentasi melalui buku-buku dan foto-foto akan lebih gampang, dan enak sekali dalam menulis paper. Paper sesuai bidang dan keilmuan kita.

Menurutku, jangan memaksakan diri mengikuti call for paper yang mungkin sangat keren namun tidak sesuai dengan ketertarikan kita. Apalagi, yang harus bayar berjuta-juta yang tidak sesuai budget kita.

Ketika sudah melihat subtema yang menjadi call for paper, kita memilih sub tema yang paling menarik perhatian kita. Sesuatu yang sukai, minati, atau bahkan dalami. Kemudian kita mencari inspirasi.

Mencari inspirasi menulis bisa ada dan datang dari mana saja. Buka media sosial lihat posting atau status orang baik di Facebook (Fb), Instagram (Ig), dan WhatsApp (WA) pasti dapat inspirasi. 

Aku pribadi suka mengutip kata-kata tokoh untuk pendahuluannya atau latar belakangnya yang perkataannya sesuai tema. Juga pendahuluan bisa berawal dari kata-kata sebuah lagu, film, bahkan budaya dari kearifan lokal seperti pesan leluhur bisa menjadi penulisan asal berhubungan dengan tema.

Terus inspirasi didapat dengan tidak hanya diam di kamar, keluar rumah dong. Jalan-jalan di sekitar rumah, pasar, apalagi kampus atau ruang belajar pasti ketemu si inspirasi. Apalagi jika punya teman yang memang selalu punya ide, dan gagasan, yakin, kita akan terinspirasi.

Seperti pengalamanku yang pernah Mati kutu di depan laptop. Aku benar-benar tak berkutik. Harus menulis apa lagi? Tak punya inspirasi, tidak ada ide, gagasan yang akan ditulis. Semua menguap ke udara. 

Aku bingung sekali saat itu. Aku harus menulis apa lagi. Aku sampai menulis status di WA. Terkadang memang menulis status itu lebih gampang, daripada menulis paper. "Di titik Jenuh." sambil memasang gambar lembaran paper.

Yang kemudian banyak dikomentari dengan berbagai saran dan pendapat: Jangan jenuh, kak. Semangat dong, Kaks. Aku pengen belajar menulis paper. Mau dong papernya. Dan sebagainya.

Respons-respons ini memberikan semangat dan spirit baru dalam menulis agar tidak menyerah di awal dan bisa menyelesaikannya paper sampai akhir. Apalagi jika ada teman bahagia eh teman diskusi. Pasti, jadi kuat menulis paper-nya.

Teman diskusi itu sangat signifikan dan penting. Walaupun kita sudah punya ide untuk penulisan paper, si dia yang diajak diskusi bisa memberikan masukan-masukan yang lebih kaya ide dan tulisan jadi warna-warni. 

Apalagi, kalau dia punya teori tokoh untuk penulisan paper yang cocok dan nyambung dengan penelitian.

Syukur-syukur punya teman menulis paper bersama. Jadi, bisa saling berbagi. Kita menulis bagian mana, dia menulis bagian yang mana. Atau kita yang cari bahan-bahannya, buku literaturnya, dia yang cari informasi yang berhubungan dengan searching di internet. Atau kita yang wawancara, dia yang mengambil dokumentasi. Atau bisa bareng-bareng mengadakan FGD.

Tapi yang paling penting, setelah wawancara, dilakukan adalah langsung ditulis atau diketik. Jadi isi dari wawancara tidak hilang. Lagi pula, wawancara menjadi isi, analisis pembahasan. Walaupun wawancara sudah direkam dengan alat perekam atau smartphone misalnya terkadang jika tidak langsung ditulis, aku lupa ide orang lain tersebut.

Begitu pun dengan foto-foto atau dokumentasi, biasanya aku langsung share di medsos selain agar tidak hilang di kamera atau hape, biasanya jika dikomentari orang, ada tambahan ide menulis lagi.

Buku-buku, majalah, jurnal, proceeding, dan lain-lain yang menjadi penunjang yang mendukung penulisan aku kumpulkan di wadah khusus, biar gampang dilihat, dibaca, dan ditulis untuk jadi bagian penulisan penelitian terdahulu dan daftar pustaka. 

Kemudian, biasanya, aku menargetkan setiap hari harus bisa menulis selembar. Apalagi jika paper tersebut mempunyai aturan berapa ratus atau ribu kata. Seperti yang paper pernah kuikuti mengharuskan delapan ribu (8000) kata, karakter. Padahal, aku baru menulis kurang lebih tiga ratus (3000) kata.

Aku sampai tiga hari tidak ke mana-mana, menulis terus, mengetik terus, mengedit terus. Membaca referensi terus-menerus. Tidak mau diganggu dan ketemu orang. Saking takutnya, kehilangan momentum gairah menulis. Sampai-sampai lupa mandi, untung tidak lupa makan.

Ngomong-ngomong soal makanan, jangan lupa makan makanan yang bergizi biar kuat berpikir dan ngemil agar menulis paper seringan popcorn. So, menulis paper tidak berandai-andai lagi.