Tulisan Endro S Efendi di Rubrik "Kompasiana" 16 Agustus 2019 berjudul "Ini 7 Penyebab Dosen UGM Gantung Diri" sangat menarik perhatian. 

Mengutip berita dari Tribunenews.com yang mewartakan seorang dosen teknik elektro Universitas Gajah Mada (UGM), Budi Setiyanto (55), meninggal dunia karena gantung diri dengan tambang, Endro S Efendi mengajukan tujuh penyebab masalah yang membuat seseorang mengalami persoalan dan kondisi psikologisnya sangat terganggu, dari sisi teknologi pikiran.

Pertama adalah menghukum diri sendiri. Kedua, pengalaman masa lalu. Ketiga, adanya konflik internal. Keempat, masalah yang belum terselesaikan. Kelima, ada keuntungan atau manfaat tersendiri dari persoalan itu. Keenam, identifikasi atau meniru. Ketujuh, penanaman kepercayaan atau keyakinan.

Apa yang dilakukan Budi Setiyanto adalah pengulangan peristiwa yang serupa, yaitu bunuh diri. Ini seperti yang pernah dilakukan oleh Chester Bennington. Chester Bennington, vokalis utama Linkin Park, mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri dalam usia 41 tahun. Dia lebih memilih jalan demikian dalam mencatatkan sejarah hidupnya.

Membaca Puisi "Sajak" Subagio Sastrowardoyo

Namun, barangkali sejarah hidup mereka akan menjadi lain andaikan mereka membaca puisi atau sajak Subagio Sastrowardoyo, sastrawan Indonesia garda depan. Setelah membaca puisi "Sajak" (Dan Kematian Makin Akrab, 1995), mereka tentu tidak memiliki keinginan bunuh diri. Bahkan, mereka akan mengurungkan niat menggantung diri itu karena ia teringat bait terakhir puisi "Sajak" ini.

Sastrawan Subagio Sastrowardoyo (1 Februari 1924 - 18 Juli 1995) yang merupakan sastrawan penyair, cerpenis, kritikus, dan esais terkemuka menulis puisi "Sajak" berikut ini.

SAJAK

Apakah arti sajak ini
Kalau anak semalam batuk-batuk
bau vicks dan kayu putih
melekat di kelambu.
Kalau istri terus mengeluh
tentang kurang tidur, tentang
gajiku yang tekor buat
bayar dokter, bujang dan makan sehari.
Kalau terbayang pantalon
sudah sebulan sobek tak terjahit.

Apakah arti sajak ini
Kalau saban malam aku lama terbangun:
hidup ini makin mengikat dan mengurung.
Apakah arti sajak ini:
Piaraan anggerek tricolor di rumah atau
pelarian kecut ke hari akhir?

Ah, sajak ini,
mengingatkan aku kepada langit dan mega.
Sajak ini mengingatkan kepada kisah dan keabadian.
Sajak ini melupakan aku kepada pisau dan tali.
Sajak ini melupakan kepada bunuh diri.

Oh, ternyata puisi atau sajak dapat mengingatkan kita agar tak berputus asa. Sebab, sajak dapat melupakan Anda kepada pisau dan tali, melupakan Anda kepada bunuh diri.

Umur Bagaikan Tali

Umur itu bagaikan tali. Lambat laun memendek karena aus dimakan usia. 

Melalui hari-hari maut dirajut. Kita bersuka ria dan melupakan maut. Kita dikepung derita dan dibuai gemerlapnya duna, namun menghindari maut. Akan tetapi, jika waktu tiba sesuai dengan takdir yang telah tercatat di garis tangan, kita tak mampu mengelak dan menempelaknya. 

Berikut ini puisi "Bagaimana Cara Membunuh Diri? Mari Kuceritakan tentang Kita yang Mengejar Mati" karya penyair Indra Intisa, yang menggambarkan umur sebagai tali itu..

BAGAIMANA CARA MEMBUNUH DIRI?
MARI KUCERITAKAN TENTANG KITA YANG MENGEJAR MATI


umur terus memendek tali
menuju buhul bernama mati. 

ia bernama maut.
lahir dari tali yang dirajut. 

suatu ketika, kita menipu
tali pun bergelombang.
kita asyik bermain lampu
dengan cahaya benderang.
"Tidakkah lupa akan gelap?" 

suatu hari, tali mengusut
di tengah. Ia mainkan kalut
dengan cinta. Kita mabuk oleh kusut.
diam-diam kita hanyut.
"Bolehkah memutus tali di tengah?" 

maut hadir sebelum sampai.

29 September 2016

Bunuh Diri Perlahan-lahan

Dalam puisi "Hemat" karya penyair Sutardji Calzoum Bachri yang terdapat di dalam buku kumpulan puisi O Amuk Kapak (1981), dengan gamblang terbaca bahwa dari hari ke hari kita bunuh diri perlahan-lahan. Sebab, dari tahun ke tahun bertimbun luka di badan. Apakah kita menyadari bahwa segobang demi segobang kita menabung maut?

HEMAT

dari hari ke hari
bunuh diri pelan-pelan 

dari tahun ke tahun
bertimbun luka di badan 

maut menabungKu
segobang-segobang

1977

Dalam puisi "Sebab" (Haiti, 1981) penyair Ibrahim Sattah mengatakan mengatakan bahwa meski kita berusaha dengan dalih dan cara apa pun, jika saatnya sampai, maut pun akan datang menjemput.

SEBAB

ingin kujanjikan laut jadi gurun
ikan dan sekalian hewan
pindahlah ke
bulan
sebab laut sebab pantai
sebab laut bernama laut sebab pantai bernama pantai
sebab maut bernama maut
sebab saatnya
sampai

1980-1981

Andaikan Budi Setiyanto dan Chester Bennington telah membaca puisi "Sajak" Subagio Sastrowardoyo, membaca puisi "Bagaimana Cara Membunuh Diri? Mari Kuceritakan tentang Kita yang Mengejar Mati" Indra Intisa, membaca sajak "Hemat" Sutardji Calzoum Bachri, dan membaca puisi "Sebab" Ibrahim Sattah, kisah hidupnya akan berbeda. 

Budi Setiyanto masih bisa mengajar dan mendidik anak-anak bangsa di kampusnya dan Chester Bennington masih bisa lantang berteriak dengan bernyanyi, hingga maut menjemputnya kelak tanpa harus membunuh diri.