Untuk wilayah yang sangat beragam, Anda jelas tak bisa memuaskan siapa pun. Dan itulah yang ada di Jakarta. Jakarta memiliki orang dengan berbagai latar belakang suku, ras dan agama. Ini juga terkait soal perbedaan field of experience dan frame of reference. Setiap orang memiliki pandangan berbeda untuk Jakarta macam apa yang harus dihidupi, dan inilah yang menjadi beban yang menggunung bagi Ahok-Djarot di masa lampau dan akan mereka hadapi.

Pengalaman di masa kini sebagai pasangan yang memimpin Jakarta, dan visinya ke depan sebagai calon Gubernur DKI Jakarta jelas memiliki tantangan yang berat. Mereka memiliki visi untuk membangun “Jakarta sebagai etalase kota Indonesia yang modern, tertata rapi, dan manusiawi, dan fokus pada pembangunan manusia seutuhnya dengan kepemimpinan yang bersih, transparan, dan profesional.”

Artinya, pembangunan yang sedang dilaksanakan Ahok-Djarot selama ini adalah pembangunan yang mengarah ke depan. Mengarah ke masa depan Jakarta yang lebih baik dan lebih menyenangkan untuk dihuni. Sesuai dengan bayangan tiap-tiap kepala penghuni Jakarta.

Dengan mengusung visi ini, Ahok mencanangkan beberapa program unggulan untuk mendukung visinya. Beberapanya kita kenal dan sudah dirasakan nyata. Mulai dari penanggulangan banjir, bantuan pendidikan, penataan kota, transportasi Hingga Transparansi Birokrasi.

Program-program lama tetap dilanjutkan dan berkolaborasi dengan inovasi-inovasi baru yang akan dicanangkan Ahok. Dari sini, kita bisa lihat bagaimana Ahok-Djarot betul-betul serius dan sangat visioner terhadap Jakarta yang akan dihuni generasi berikutnya.

Tapi, apa jadinya jika Ahok-Djarot tak lagi menjabat dan program yang telah kita rasakan dampak positifnya tak terjadi lagi? Karena hal ini memungkinkan, bila mereka tak terpilih lagi.

Mengurai Kemacetan

Ada perubahan besar yang dilakukan Ahok-Djarot yang sangat terasa. Mereka sadar bahwa penerapan kebijakan 3 in 1 yang sempat dilakuan Jakarta di masa lampau menjadi tak efektif. Karena itu program tersebut lantas dihilangkan. Kebijakan 3 in 1 yang sedari dahulu telah dipelihara, dengan mudahnya diakali masyarakat. Joki 3 in 1 dan kecurangan-kecurangan lainnya adalah wujud bahwa program ini tak efektif. Ia tak berdampak apa pun untuk menyelesaikan kemacetan DKI Jakarta.

Atas sebab itulah, Ahok-Djarot kemudian mengganti program tersebut dengan ganjil-genap. Program ini, sebagaimana dikatakan oleh Kepala Sub Direktorat Pembinaan dan Penegakan Hukum Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Budiyanto, cukup efektif dalam mengurangi kemacetan. Malah, program ini membuat banyak orang pindah menggunakan Transjakarta. Biar saya kutipkan apa yang dikatakan beliau, dikutip dari Tempo.

“Waktu tempuh terjadi penurunan, kecepatan meningkat, volume kendaraan menurun, dan alih moda ke Transjakarta terjadi peningkatan.”

Hal ini menandakan, meski belum sepenuhnya, masalah macet telah menemui titik terangnya. Dan hal ini disambut baik oleh Ahok-Djarot. Taktik yang mereka laksanakan untuk menyambut keinginan warga memiliki transportasi yang nyaman, mereka lakukan.

Revitalisasi Transjakarta, hingga proyek ambisius untuk menciptakan MRT (Mass Rapid Train) kini telah mereka tempuh. Pada 2020 nanti, kita akan bisa merasakan kereta cepat seperti yang ada di Singapura dan jelas sangat efektif dalam mengurangi waktu tempuh. Tak hanya cepat, namun juga nyaman.

Bayangkan jika proyek Ahok-Djarot terbengkalai. Transjakarta mungkin akan menjadi barang usang, sementara tiang beton dari program MRT yang gagal bisa saja menghiasi Jakarta. Mengembalikan kita ke Jakarta yang macet dan menyebalkan.

Normalisasi Sungai

Ada semacam kebiasaan di masa lampau jika menyaksikan televisi, kita akan mendapatkan berita banjir di Jakarta. Dan kisahnya selalu sama: banjir kiriman di musim penghujan. Menumpuknya sampah membuat Sungai Ciliwung selalu menjadi tempat pertama yang merasakan banjir. Pun warga yang hidup di bantaran sungai yang akan merasakan rumah mereka sesak diisi air.

Permasalahan tersebut selalu terjadi tiap tahun, hingga Ahok-Djarot berinisiatif untuk menormalisasikan sungai sebelum banjir terjadi. Di bawah pemerintahan Ahok-Djarot, hingga kini, normalisasi sungai telah mencapai 30.679 meter.

Proyek ini melibatkan banyak alat berat dan banyak pekerja yang turun ke lapangan. Ahok juga merelokasi berbagai rumah tinggal yang berada di bantaran sungai yang dipandang berbahaya bagi warga. Ahok, sebagaimana dilansir dari Detik, menjelaskan bahwa proyek ini masih jauh dari harapan. Kendati demikian, kita sudah dapat merasakan dampaknya.

Sungai di Jakarta, di beberapa titik, sudah terasa bersih. Jika di masa lampau kita disuguhkan pemandangan yang menjijikkan saat melihat sungai, kini sampah-sampah itu pelan-pelan pergi dari pandangan kita. Pergi bersama banjir di sejumlah titik yang biasa menggerogoti di Jakarta. Sungai mulai menjadi tempat yang nyaman sebagai sarana rekreasi yang murah bagi warga Jakarta. Sungai telah kembali dicintai lagi oleh warga Jakarta.

Ahok-DJarot jelas masih menyisakan tugas untuk membersihkan sungai di Jakarta. Proyeksi mereka, Ciliwung akan bersih dari sampah pada 2018. Namun, apa jadinya jika program mereka dihentikan? Mungkin, sungai yang sudah bersih akan kotor kembali, banjir kembali datang, dan kita kembali benci melihat sungai.

Rumah Susun

Sebagaimana disinggung sebelumnya, normalisasi sungai kemudian memang mengharuskan rumah warga di bantaran sungai ikut direlokasi. Dan jelas hal ini dapat berpotensi sebagai masalah. Jika tanpa perencanaan yang tepat, relokasi yang harusnya menyelesaikan masalah banjir, hanya akan menambah masalah baru: naiknya angka mereka yang tak memiliki rumah di Jakarta.

Hal tersebut sudah dipikirkan betul oleh Ahok-Djarot, sehingga mereka membangun Rumah Susun sebagai upaya relokasi warga. Relokasi ini kemudian tak hanya menyelesaikan masalah normalisasi sungai, namun juga soal tata letak Jakarta yang semrawut.

Dapat dirasakan Jakarta mulai kurang rumah-rumah kumuh dan pemukiman liar. Sebagaimana permasalahan normalisasi sungai, masalah rumah susun masih belum selesai. Keduanya memang saling berkaitan, lagipula.

Kata Ahok, sebagaimana dilansir di detik, “Kita masih jauh sekali untuk bikin normalisasi sungai karena masalah rusun agak terlambat. Karena untuk Ciliwung saja kita butuh 50 ribu unit rusun. Satu Ciliwung. Kita pengen 2018 bisa selesai Ciliwung, kalau rusunnya siap semua."

Bisa Anda bayangkan jika proyek ini nanti tak jalan? Mungkin, kota yang memiliki tata letak yang rapi hanya menjadi mimpi.

Transparansi

Transparansi pemerintahan adalah hal yang paling serius yang disuarakan oleh Ahok-Djarot. Anda ingat polemik mengenai kasus UPS antara Ahok melawan DPRD? Hal itu adalah contoh paling mudah yang dapat kita lihat, bahwa Ahok-Djarot berusaha untuk menghilangkan stigma negatif mengenai maraknya korupsi di tubuh pemerintah.

Ahok bahkan merilis anggaran dana pemerintah Jakarta ke publik agar bisa diawasi masyarakat. Ia sangat tegas kepada siapa pun yang tak memberikan transparansi dan pelayanan publik yang prima untuk masyarakat.

Dampaknya memang sangat dekat dan dapat kita rasakan: birokrasi di kelurahan. Jika di masa lampau kita biasa memberikan “salam tempel” untuk mempercepat birokrasi di kantor kelurahan, namun pelan-pelan praktik ini hilang. Birokrasi di kelurahan menjadi sangat cepat meski tanpa “salam tempel”. Hal ini menandakan bahwa efek dari transparansi yang diupayakan Ahok-Djarot benar-benar terjadi di Jakarta.

Jika tak lagi ada yang fokus untuk mengawal transparansi dana dan ingin publik mendapatkan pelayanan yang prima, jelas masyarakat Jakarta dalam bencana besar.

KJP-KJS

Kesejahteraan adalah hal yang penting, dan hal itu juga menjadi fokus bagi Pemerintahan Jakarta dalam kepemimpinan Ahok-Djarot. Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, Pemerintahan Jakarta merilis Kartu Jakarta Pintar (KJP) dan Kartu Jakarta Sehat (KJS). Dua program ini ditujukan untuk golongan tidak mampu agar dapat merasakan layanan publik tanpa perlu risau soal dana.

Sejak pertama kali dirilis pada 2013, kini KJP telah diterima oleh 750 ribu warga. Dan KJP bukan hanya soal pembebasan orang tua di Jakarta yang kurang mampu terhadap biaya pendidikan, namun mereka diberi fasilitas pendukung. Pembiayaan alat-alat sekolah, hingga dapat gratis menikmati Transjakarta adalah fasilitas yang dapat dinikmati anak-anak mereka.

Di masa mendatang, Ahok-Djarot kemudian ingin lebih serius dengan program ini. Mereka ingin anak-anak Jakarta lebih pintar, dengan mendanai anak-anak tidak mampu untuk berkuliah di universitas unggulan sebagai program unggulan yang ditawarkan dalam kampanye mereka.

Serta Kartu Jakarta Sehat telah berhasil meruntuhkan stigma “orang miskin tak boleh sakit.” Warga Jakarta dapat menikmati pengobatan di Puskesmas, hingga di Rumah Sakit secara cuma-Cuma. Dan Ahok-Djarot memiliki visi untuk menaikkan kualitas perawat dan dokter agar setiap warga Jakarta dapat merasakan fasilitas yang layak.

Dari sini kita bisa lihat bahwa Ahok-Djarot juga mempersiapkan generasi penerus untuk dapat membangun Jakarta yang lebih baik. Bayangkan, jika program ini terhenti, mimpi soal Jakarta yang lebih baik bisa hilang begitu saja.

Penutup

Penjabaran tentang bagaimana Ahok-Djarot, tentang program mereka dan bagaimana jika program mereka dihentikan, adalah upaya saya untuk membangun imajinasi Anda bahwa Jakarta kini sudah di tangan yang tepat. Kita memiliki pasangan pemimpin yang tegas, juga visioner serta memiliki track-record yang nyata. Kita sudah tahu apa yang telah mereka lakukan, dan bagaimana rasanya Jakarta di bawah kepemimpinan duo petahana ini.

Pertanyaannya, apakah Anda mau melepas program yang sudah pasti akan dilaksanakan ini, beserta ide-ide baru untuk membangun Jakarta yang lebih baik? Apa Anda ingin membangun dari nol, dengan visi dan misi yang jelas berbeda dari Ahok-Djarot? Hal itu patutnya Anda jawab sendiri. Saya rasa, Anda tahu apa yang harus Anda lakukan saat pengambilan suara nanti.