Toleransi adalah sebuah cara berpikir yang mengakomodir perbedaan. Intoleransi adalah sebaliknya, cara berpikir yang tidak mengakomodir perbedaan.

Seorang Sersan yang melatih prajurit yang baru bergabung di sebuah kesatuan militer tidak bisa mengakomodir perbedaan. Semua prajurit harus membawa beban yang sama, makan yang sama, menempuh jarak yang sama. Tidak ada toleransi bila ada prajurit yang minta diistimewakan, semisal meminta makanan lebih banyak atau beban yang lebih ringan. Semua sama tanpa kecuali.

Bila ada prajurit yang tidak sanggup membawa beban yang berat, maka beban tersebut harus dibagikan pada prajurit yang lain atau diberi giliran kepada prajurit lain secara bergantian.

Kita tidak akan pernah bisa mengajarkan toleransi kepada seorang Sersan yang tugasnya adalah melatih kekompakan prajurit. Tentara tersebut bahkan punya istilah sendiri terhadap intoleransi, namanya "Makan Tulang". Maksudnya, bila ada prajurit yang bersenang-senang dengan membawa beban lebih ringan dibandingkan yang lain, maka tindakan tersebut dianggap tindakan hina layaknya memakan tulang saudaranya sendiri.

Karena ini masalah keyakinan, maka toleransi ini bergantung sekali dengan posisi di mana orang tersebut berada. Bagi seseorang yang melakukan tindakan kekerasan terhadap orang lain, tindakannya adalah dibenarkan.

Sama seperti seorang Sersan tadi yang memukul prajuritnya yang malas-malasan. Dalam keyakinan si Sersan, tidak ada yang salah dengan tindakan yang dilakukannya. Prinsipnya adalah menghukum satu orang demi menyelamatkan kepentingan lain yang lebih besar.

Kalau mengajarkan toleransi pada Sersan ini saja sangat sulit, bagaimana mungkin kita bisa mengajarkan toleransi pada orang di sebuah sistem yang sangat kompleks?

Dalam analogi Sersan tadi, bagaimana mungkin Sersan ini bisa tegas bila di antara prajurit yang dilatihnya tadi ada anak kandung atasannya. Ada anak Jenderal yang harus dibinanya di mana karir dirinya, kepentingan batalyon tempatnya bekerja sangat bergantung pada ayah anak Jenderal ini.

Kira-kira apa yang akan terjadi bila kita datang kepada Sersan ini, kemudian mengajarkan Sersan ini nilai-nilai baru yang bertentangan dengan nilainya selama ini. Apakah bisa sebuah cara berpikir baru ini diterapkan? Saya sangsi. Hampir mustahil untuk bisa mengubah orang dalam kondisi seperti ini.

Dalam konteks toleransi di Indonesia, khususnya dalam toleransi beragama, situasi yang dihadapi saat ini sangatlah kompleks. Hampir mustahil untuk memperbaiki cara berpikir orang menyikapi kekerasan. Jumlah yang memilih diam terlalu banyak. Jumlah yang menonjol, baik bersikap toleran atau intoleran, jauh lebih sedikit. Artinya, ini perang yang tidak mungkin dimenangkan.

Lalu pertanyaannya dalam kondisi seperti ini, apa yang seharusnya dilakukan? Bukankah ini layaknya menggarami lautan? Sia-sia belaka.

Menurut pandangan saya, paling tidak kita harus mengenali bagaimana struktur dan anatomi tindak kekerasan itu sendiri. Setelah itu kita baru memahami pesan apa yang sebenarnya ingin disampaikan dalam sebuah tindakan intoleransi.

Sebagai contoh, bila ada sekelompok orang yang menghakimi orang lain karena perbedaan keyakinan, maka satu kali tamparan yang diberikan satu orang kepada orang lain ini adalah sebuah simbol yang tujuannya jelas untuk memberi pesan bahwa ada banyak kemungkinan buruk lain yang bisa terjadi. Pesan ini tentunya diterima. Semakin besar pesan itu terkomunikasikan, maka dari sisi pelaku sebenarnya lebih baik.

Sekelompok orang ini berusaha menyampaikan pesannya kepada orang lain. Tindakan ini mungkin terlihat hanya dilakukan sekali saja. Semisal tokoh masyarakat yang menampar seorang perempuan. Padahal tamparan ini sebenarnya hanya puncak gunung es saja dari keyakinan yang dimilikinya. Kalau kita ramai-ramai mengutuk orang tersebut, tentunya tidak akan memberikan dampak apa pun.

Sampai di sini kita kelihatannya justru semakin memperkuat keyakinan yang orang itu miliki. Kemudian ketika masyarakat menghakimi tindakan tokoh masyarakat tersebut, yang terjadi malah sebaliknya, orang justru menganggap tindakan yang dilakukan oleh tokoh masyarakat itu ada benarnya. Massa justru akan menilai bahwa perilaku tersebut menguntungkan, bahkan secara ekonomi itu baik.

Makanya saya kurang setuju bila gerakan anti kekerasan itu dilakukan dengan kampanye secara terbuka. Khawatirnya ini justru memberikan pesan yang salah. Kampanye anti kekerasan justru membuat pelaku kekerasan merasa tersudut dan justru semakin menggalang kekuatannya. Aneh, kan? Inilah manusia sangat kompleks.

Makanya satu-satunya cara untuk menghentikan tindakan kekerasan, tindakan intoleransi, adalah berhenti membicarakannya. Memilih diam karena itu adalah satu-satunya cara yang bisa dilakukan. Semakin banyak kampanye anti kekerasan yang dilakukan, maka semakin keras kampanye kekerasan yang dilakukan.