Setiap orang tentunya pernah menghadapi kondisi saat berdiskusi di mana cukup sulit rasanya dalam menyampaikan maksud dari apa yang ada dalam setiap penjelasan yang disampaikan. Menghadapi momen tersebut, sering kali persamaan-persamaan dalam konsep lain disampaikan untuk menegaskan maksud dari pernyataan sebelumnya yang sulit dimaknai.

Menurut Poespoprodjo dalam buku Logika Scientifika, analogi merupakan suatu perbandingan yang digunakan untuk membuat suatu ide yang dapat dipercaya agar lebih mudah dan jelas (Poespoprodjo, 1999:179). Tidak ada batasan yang benar-benar digunakan dalam menyampaikan suatu analogi, selama penyampaian itu memang mampu menjelaskan sebuah konsep lain dengan makna yang mudah dipahami, maka analogi dapat diterima. 

Tetapi, banyak kondisi di mana analogi dijadikan sebuah dasar atas pembenaran sebuah konsep tertentu yang hakikatnya tak mampu disamakan dengan makna mendasar dari konsep tersebut. Misalnya, banyak orang memberikan masukan motivasi psikologis kepada seseorang tetapi menggunakan logika benda mati.

Sudah semestinya analogi dilihat secara esensial, dengan mempertimbangkan relevansi atas keterkaitan antara konsep analogis dengan konsep yang ingin dijelaskan. Hal yang sedikit menganggu dalam sebuah diskusi, apabila setiap individu yang ada di dalamnya ingin mempertahankan suatu argumentasi hanya dengan analogi-analogi sebagai suatu shortcut untuk penegasan makna dan penerimaan argumentasi yang disampaikan. 

Dampak yang akan cukup terasa apabila hasil diskusi menjadi sebuah keputusan yang berdampak bagi banyak orang, karena akan ada pertimbangan unsur-unsur spesifik yang cukup penting untuk dipertimbangkan menjadi hilang.

Memang, mungkin terasa cukup berat apabila segala sesuatunya harus dipikirkan sangat mendalam, tetapi mengambil shortcut atas suatu keputusan hanya berdasarkan analogi-analogi semata tanpa pertimbangan esensial terlihat kurang bijaksana. 

Merupakan hal yang cukup ideal apabila dalam setiap proses berpikir dan penyampaian argumentasi selalu mempertimbangkan aspek epistemologi, ontologi, dan aksiologi atas suatu hal. Ketiga aspek tersebut merupakan satu keterikatan untuk melihat realita maupun peristiwa secara esensial.

Jika kita mencoba untuk mengkaji sebuah contoh kasus, misalnya ada seseorang yang mengalami konflik dalam satu hubungan dan mendapatkan saran dengan analogi “Kamu jangan jadi batu, kalau kamu keras dan dia keras saling berbenturan bisa saja salah satu di antara kalian hancur, atau dua-duanya akan hancur”, mungkin terlihat cukup meyakinkan dan memuaskan logika sosok yang menerima saran tersebut.

Mari kita lihat secara esensial, secara epistemologis manusia terbentuk dengan jiwa dan akal di dalamnya, sebaliknya dengan batu yang terbentuk sebagai entitas yang mati tanpa jiwa.

Kemudian dari sisi ontologis, jika meminjam konsep Eksistensialisme Sarte, maka manusia berada dalam konsep etre pour soi dimana manusia memiliki kehendak untuk bergerak dan memilih kebebasannya serta etre pour les autres di mana manusia ada untuk orang lain, manusia ada untuk berinteraksi dengan sesamanya.

Berbeda halnya dengan batu yang berada dalam konsep etre en soi, yang hanya ada untuk dirinya, tanpa kesadaran, tanpa intensi untuk bergerak dan berubah. Pada sisi aksiologis sendiri, manusia berada dalam posisi value-laden, dengan segala nilai-nilai budaya dan pemikiran yang berlaku di dalamnya. Tidak halnya dengan batu dalam posisi value-free, tanpa nilai sama sekali.

Lantas, apakah masih tepat menyamakan konsep batu dengan manusia walaupun itu hanya sekadar analogi? Bukankah manusia dapat merubah dirinya agar tidak “keras” sebagaimana yang dimaksud dalam konsep analogi tersebut dan memiliki banyak cara untuk berinteraksi untuk menemukan satu solusi dengan mempertahankan prinsip yang ada dalam diri, tidak seperti batu yang ada bagi dirinya sendiri dan memang tak terlahir untuk berinteraksi?

Kita seakan terpuaskan dengan analogi-analogi yang berada di sekitar kita atas penegasan suatu konsep tertentu, tetapi secara esensial mungkin kita tak akan dapat berperilaku sejalan dengan konsep analogi yang ditawarkan.

Tidak ada yang salah sebenarnya menerima setiap analogi yang ada, tapi perlu disadari saat kita merasa puas secara logis maupun psikologis atas analogi yang disampaikan akan lebih baik jika kembali ke dalam satu pemikiran yang lebih esensial lagi, terutama mengenai eksistensi atas suatu realitas maupun peristiwa dari analogi maupun konsep yang dijelaskan melalui analogi tersebut.

Karena pada awalnya manusia berada dengan eksistensi terlebih dahulu kemudian mengikuti esensi, maka manusia berhak untuk menentukan siapa dirinya, akan bertindak seperti apa, merubah hal yang tidak sesuai dengan hati dan pikirannya.

Tidak seperti benda yang memang pada awalnya berada dengan esensi terlebih dahulu di mana ia mati, tak punya intensi, dan eksistensinya pun terbentuk sebagai entitas yang abadi. Sudah semestinya manusia tak hanya cukup dipuaskan sisi kognisinya hanya dengan analogi semata, tapi tak mengerti esensi dari pemikiran yang ditawarkan kepadanya.