Ego bukanlah jawaban untuk mengatasi konflik, namun empatilah yang akan saling menguatkan.

Hidup selama 20 tahun telah membuat saya tertampar oleh banyaknya pelajaran kehidupan. Tentu di umur yang bisa dibilang early adulthood ini saya mengerti bagaimana sulitnya bagi sepasang suami-istri untuk mempertahankan hubungan mereka. 

Tidak hanya dari ayah dan ibu, namun juga dari berbagai cerita yang ditumpahkan pada saya. Masa kecil saya adalah satu-satunya dari masa kecil kedua saudara saya yang selalu menyaksikan ketika ayah-ibu sedang berselisih, dari hal kecil hingga hal yang tak terduga sekalipun. 

Walaupun sampai saat ini masih beberapa kali saya dapati hal yang saya tidak srek dalam rumah tangga mereka, tamparan pelajaran hidup membuat hal tersebut tidak terlalu mengintervernsi pikiran saya. 

Selain dari ayah dan ibu, saya pun menampung beberapa cerita dari teman-teman saya. Setiap pasangan tentu memiliki permasalahan yang berbeda-beda, dan hal ini yang membuat saya terkadang bingung untuk merespons cerita yang saya dengarkan. 

Walaupun begitu, saya sempat merenung untuk memikirkan, bagaimana seharusnya sikap seorang anak ketika merasakan atau bahkan menemukan sesuatu yang salah dari kedua orang tuanya?

Pernah mendengar istilah seven years itch? Ini adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan bahwa masa 7 tahun pernikahan membuat kedua pihak merasa "gatal", karena sudah saling tahu kemauan satu sama lain dan juga ritme pernikahan mereka. 

Tentu bukan pernikahan namanya jika tidak melalui masa kritis, dan bukan kesuksesan pernikahan namanya apabila tidak melalui konflik dan solusi. Beruntung bagi mereka yang memiliki anak pertama ketika masa pernikahan sudah bisa dibilang settled, namun banyak pula yang sebaliknya.

Terlahir sebagai anak pertama merupakan sebuah keberuntungan dan kesialan yang harus dihadapi. Kebanyakan dari mereka datang ketika masa hubungan sepasang suami istri masih hijau-hijaunya. Semakin anak pertama tumbuh tumbuh, masa pernikahan pun semakin bertambah. 

Anak pertama dilahirkan di berbagai macam waktu, ada yang tidak lama setelah pasangan menikah, pun ada yang bertahun-tahun. Pada waktu mana pun, anak pertama adalah saksi bisu dari segala 'tronjal-tronjol' kehidupan rumah tangga sepasang suami-istri.

Sebenarnya bukanlah murni sebuah 'kesialan' bagi anak pertama untuk menjadi seorang saksi dalam rollercoaster pernikahan orangtua, karena dalam beberapa kasus, justru hal tersebutlah yang dapat membuat mereka menjadi lebih kuat dalam menghadapi permasalahan hidup. 

Namun, tentu saja, perlu beberapa waktu untuk mempelajari arti dari kehidupan yang sulit, yang salah satunya adalah mempertahankan pernikahan.

Sebagai anak pertama, saya adalah salah satu yang menyaksikan perjuangan kedua orang tua saya dalam mempertahankan rumah tangga mereka. Sampai pada titik ini, saya ingin mengapresiasi semua anak, terutama anak pertama, yang telah melihat bagaimana naik-turun kondisi keluarga mereka dan memilih untuk tidak putus asa.

Dalam renungan-renungan panjang saya, akhirnya saya menemukan 2 garis besar mengenai bagaimana sejatinya sikap seorang anak ketika menghadapi konflik antara orangtua, seperti bertengkar, bahkan hingga bercerai. 

Mungkin kedua pemikiran ini bukanlah sebuah solusi bagi setiap anak, tetapi kedua hal yang saya sampaikan ini telah membuka banyak hati dan pikiran teman-teman yang juga sedang berjuang.

Kewajiban anak adalah berbakti, bukan menentukan perjalanan hidup orang tua.

Setelah berkali-kali saya melalui perang batin dengan diri sendiri, saya selalu kembali bertanya, "Sebenarnya apa kewajiban saya sebagai anak?"

Ketika dua manusia sudah memutuskan untuk menikah, mereka tetap berada dalam badan dan pikiran yang berbeda. Mereka tetap memiliki perasaan yang berbeda terhadap sesuatu, karena tidak semua yang mereka rasakan juga dirasakan oleh pasangan mereka. 

Dengan kondisi seperti ini, lalu apa hak saya sebagai seorang anak untuk menentukan perjalanan hidup orangtua? Jika mereka sudah sepakat untuk memilih sebuah keputusan, maka yang harus saya lakukan justru memberi support

Selalu itu yang menjadi bahan utama saya untuk menyembuhkan diri sendiri, pun menyembuhkan teman.

Kalau kata sebuah iklan, "Siapkan teh hangat, lalu mari bicara."

Bukan hak seorang anak untuk menentukan pilihan orangtua, namun anak memiliki hak untuk berbicara. Apa pun yang anak rasakan, orangtua tentu akan mempertimbangkan. 

Mungkin tidak mudah bagi semua orang untuk berani speak up, karena ketakutan terhadap penolakan pasti terbesit dalam pikiran. Namun, apabila kita tidak mengkomunikasikannya, bagaimana mereka akan mengerti? Apakah semata-mata dengan memberontak tanpa menjelaskan apa yang ada dalam hati kita? 

Orangtua pun mengalami perang batin dengan diri mereka ketika terjadi sebuah konflik dalam rumah tangga. Pasti ada satu waktu dimana mereka ingin sekali memberi penjelasan kepada anaknya dan mengharapkan sebuah respons. Bicaralah. 

Tentu kesiapan untuk berbicara butuh waktu, namun jangan terlalu mengulur. Bila luapan emosi sudah reda, tumpahkan apa yang kalian rasakan ketika sudah siap. Katakan apa yang kalian inginkan, lihat apakah orang tua sanggup memenuhinya atau tidak. 

Apabila mampu, tentu sebuah keberuntungan bagi kita. Apabila tidak? Kembali ke poin pertama, support mereka.

Kehidupan juga memberi saya pelajaran bahwa membangun rumah tangga bukan hanya tanggung jawab kedua orangtua, namun anak juga berperan di dalamnya. Walaupun tidak besar, marilah menjadi peran yang baik dalam men-support orangtua. 

Ego bukanlah jawaban untuk mengatasi konflik, namun empatilah yang akan saling menguatkan. Kadang perasaan ketidak-adilan mengambil alih seluruh emosi, namun percayalah, tidak ada orangtua yang ingin anaknya berada dalam kesengsaraan.