Hari Ayah Nasional di Indonesia yang jatuh pada tanggal 12 November memang tak sepopuler Hari Ibu. Namun demikian, di sudut sebuah dusun kecil, anak-anak sanggar tari di lereng gunung Sakya ini masih menyempatkan menulis surat untuk ayah mereka masing-masing di sela-sela latihan menari seperti tahun lalu.

Mereka terlihat tampak begitu antusias mendapat kesempatan menulis ungkapan hati mereka dari pamong sanggar untuk menyatakan rasa terima kasih atas peran penting sosok seorang ayah dalam kehidupan mereka. “Ayah, terima kasih telah membahagiakan keluarga dan membesarkan aku.” 

Seperti ungkapan hati salah seorang anak sanggar pada peringatan Hari Ayah tahun lalu, kata-kata sederhana namun indah dan menyentuh hati pada momen hari ayah tahun ini pun, akhirnya tertuang pula dalam selembar kertas putih bergaris. Ada seorang anak yang kemudian menghiasnya  dengan gambar-gambar lucu dan menarik, seperti gambar buah kesukaan ayah mereka. Tapi banyak juga yang menghias dengan bentuk-bentuk lain dengan warna-warna nuansa alam yang juga tak kalah indahnya.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, peringatan Hari Ayah yang dilakukan dengan memberikan sebuah hadiah gambar ayah dan anak bergandengan tangan, yang telah disiapkan oleh pamong sanggar, dan diwarnai sendiri oleh anak-anak beserta ungkapan hati mereka, pada peringatan Hari Ayah tahun ini, sebuah surat untuk sang Ayah yang berisi ucapan terima kasih dipersiapkan anak-anak sendiri dengan penuh kegembiraan. 

Bagi anak-anak sanggar yang baru kali pertama ikut bergabung mempersiapkan hadiah sederhana untuk peringatan Hari Ayah, rona merah dan senyum manis pada wajah mereka tatkala menulis surat yang terabadikan dalam lensa kamera, sungguh menyempurnakan kebahagiaannya pada momen itu.

Semua bebas berkreasi menuangkan kata indah dalam bentuk tulisan dan gambar untuk sang Ayah. Seperti diburu waktu, mereka terus menuangkan warna indah mengungkap keindahan hati dengan goresan tangan mungilnya yang tanpa pamrih, memberikan doa dan harapan indah untuk sang Ayah terkasih. 

Sesekali mereka menghentikan goresannya, melihat karya mereka secara utuh dan membayangkan bagaimana perasaan sang Ayah tatkala nanti membaca surat mereka. Ada yang tersenyum sendiri, dan sejenak kemudian melanjutkan kembali menulis surat buat sang Ayah. Ada juga yang merobek gambarnya, tapi ditempelkan kembali. Namun demikian, senyum mereka tetap menunjukkan semangat yang positif.

Sekilas tentang Hari Ayah

Hari Ayah adalah hari untuk menghormati sosok seorang ayah. Hari Ayah bisa dirayakan dengan memberikan hadiah kepada ayah dan kegiatan kekeluargaan. Sebagai  tulang punggung, sandaran, dan pelindung dalam sebuah rumah tangga, seorang ayah memang sudah sepatut dan sepantasnya dihormati dan mendapatkan hari istimewa.

Di Indonesia, perayaan Hari Ayah bertepatan dengan Hari Kesehatan Nasional. Hari Ayah Nasional di Indonesia lahir pada 2006 silam, di Solo (Jawa Tengah) dalam sebuah deklarasi yang diprakarsai oleh kaum ibu yang tergabung dalam Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi (PPIP).

Di banyak negara, Hari Ayah atau Father’s Day (dalam bahasa Inggris) dirayakan pada hari Minggu di pekan ketiga bulan Juni, dan dirayakan hampir di seluruh dunia yang dimulai pada awal abad ke-12. 

Hari Ayah sebenarnya bisa saja dirayakan kapan saja. Ada keluarga yang merayakan tepat di hari ulang tahun sang Ayah. Bahkan ada seorang anak sanggar, tanpa memberikan penjelasan apapun berteguh hati, bahwa baginya Hari Ayah adalah 12 September, meskipun ia tetap bergembira ikut mempersiapkan surat untuk ayahnya, yang akan ia persembahkan untuk peringatan Hari Ayah Nasional pada tanggal 12 November.

Budaya atau tradisi merayakan peringatan Hari Ayah maupun Hari Ibu dalam keluarga sangatlah penting dalam pendidikan karakter anak. Pemberian hadiah kecil, ungkapan sederhana maupun doa indah untuk sosok ayah adalah hal positif yang dapat menumbuhkan kepekaan rasa anak kepada lingkungan. 

Awalnya adalah dari keluarga dan dari kebiasaan positif dalam keluarga seperti ini, nantinya bisa saja berkembang ke lingkungan sekitar dan juga sekolah serta masyarakat luas. Bila hal-hal seperti ini serentak dibiasakan atau dijadikan sebuah tradisi, maka anak bangsa generasi ke depan sudah bisa kita bayangkan seperti apa mereka. 

Secara tidak langsung, dengan membuat tradisi positif yang menggembirakan untuk anak-anak seperti ini, sebenarnya kita telah mempersiapkan generasi baru yang memiliki karakter positif yakni mereka-mereka yang peduli dengan kebahagiaan orang lain.

Di sanggar yang berada di lereng Sakya itu, kapan pun setiap anak bisa memberikan kejutan untuk kebahagiaan kepada orang tua mereka sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan. Memerdekakan anak-anak menjadi pribadi yang indah dan bahagia dengan cara sederhana, di sanggar ini dilakukan dengan memberi kesempatan kepada mereka untuk terbiasa berpikir kreatif bagaimana membahagiakan dan ikut berbahagia dengan kebahagiaaan orang lain, diawali dengan orang-orang di dekat mereka.

Bertepatan dengan Hari Kesehatan Nasional, terpanjat doa semoga semua ayah di Nusantara sehat dan bahagia pada Hari Ayah tahun ini. 

Semua ayah adalah istimewa bagi anak-anak yang indah. Anak-anak yang indah adalah anak-anak-anak yang ikhlas, penuh syukur dan baik dalam berpikir, bertutur kata dan berperilaku.

Selamat Hari Ayah!