“Lebih baik bagiku mengganti gubernur tiap hari daripada membiarkan orang zalim sebagai pejabat dalam sejam. Mengganti gubernur lebih mudah daripada merubah rakyat.” (Umar Ibn Khattab)

Politik berasal dari bahasa Belanda politiek dan bahasa Inggris politics, yang masing-masing bersumber dari bahasa Yunani politika—yang berhubungan dengan negara dengan akar katanya polites—warga negara, dan polis—negara kota. Secara etimologi kata "politik" masih berhubungan dengan polisi, kebijakan. Kata "politis" berarti hal-hal yang berhubungan dengan politik. Kata "politisi" berarti orang-orang yang menekuni hal politik.[1]

Miriam Budiardjo, Guru Besar Ilmu Politik Universitas Indonesia, berpandangan bahwa olitik adalah bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistem politik atau Negara yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan sistem itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu. Politik diartikan sebagai usaha-usaha untuk mencapai kehidupan yang baik.

Dari namanya aja sudah jelas. Politik berasal dari akar kata yang sama dengan polisi yang artinya bijaksana. Hari-hari seorang politisi penuh dengan kebijaksanaan. Coba kita perhatikan, partai-partai politik yang ada di Indonesia sering melakukan kebijakan-kebijakan untuk kepentingan orang banyak.

Memberikan manfaat kepada orang banyak merupakan kebijaksanaan paling tinggi. Sebagaimana sabda Rasulullah, sebaik-baik manusia adalah yang baik akhlaknya dan bermanfaat untuk orang lain. Jadi seharusnya, seorang anak muda itu menjadi agen penyebar kebijaksanaan agar bisa bermanfaat bagi orang banyak.

Tetapi sayang, sikap seseorang sebagai politisi kadang tidak mencerminkan prinsip-prinsip politik. Sehingga orang tidak bisa melihat prinsip-prinsip politik yang adil dan penuh kebijaksanaan karena terhalangi perangai politisi yang rakus dan tidak amanah. “Political wisdom was overshadowed by the behavior of politicians” Kebijaksanaan politik itu tertutupi oleh perilaku politisinya. Suka gak suka, citra politik jadi identik dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme serta sederet citra buruk lainnya.

Mungkin kita bisa menyalahkan media yang rajin membangun citra buruk politik. Tapi tak ada asap kalau tak ada api. Citra itu muncul karena perilaku sebagian politisi juga kok. Dari konflik Gaza tahun 2014, Security dilemma Asia Timur, hingga aksi penyadapan pejabat-pejabat Indonesia oleh Australia pada tahun 2013. Dengan banyaknya pemberitaan negatif dari dunia politik, menjadikan kita tidak heran akan persepsi politik menjadi sangat negatif bagi kita.

Di negeri kita saja semakin banyak kelompok yang mengatasnamakan kepentingan rakyat, tapi melakukan aksi korupsi. Para elit politik juga sudah tidak malu-malu lagi memuaskan hasrat akan kekuasaan dan keserakahannya meskipun itu bertentangan dengan kepentingan rakyat.

Sebetulnya jumlah mereka sedikit, tapi suara mereka keras dan lantang mengatasnamakan kepentingan rakyat. Mereka jadi wakil rakyat, mewakili dua ratus lima puluh juta kepala manusia se-Indonesia. Jangan heran kalau politik identik dengan korupsi dan keserakahan.

Karena duta yang mewakili rakyat Indonesia berperangai kasar, keras, dan suka korupsi. Ini juga yang membuat kita seringkali lupa bahwa akar permasalahan dari situasi di negeri ini salahsatunya adalah para pengambil keputusan dan kebijakan yang tidak benar-benar menjalankan tanggung jawabnya untuk mensejahterakan rakyat.

Salah satu akibat dari buruknya citra politik di negeri ini adalah perginya anak-anak muda dari ranah ini. Bayangkanlah, apa yang akan terjadi dengan negeri ini jika seluruh generasi mudanya yang cerdas dan memiliki idealisme itu enggan berkiprah di dunia politik.

Apa yang akan terjadi jika seluruh anak muda yang cerdas dan memiliki idealisme itu meninggalkan politik, tentunya dunia politik akan diisi oleh orang-orang dengan kemampuan seadanya dan parahnya tanpa idealisme. Persis dengan kondisi politik Indonesia hari ini. Politik kita sekarang dipenuhi oleh orang-orang yang seringkali bukan orang terbaik di bidangnya.

Daripada masuk ke dunia politik, kebanyakan dari kita tentu akan memilih bekerja di korporasi atau perusahaan multi-nasional yang kita yakini mampu menjamin masa depan kita dan menjauhkan kita dari kebobrokan politik maupun pemerintahan negeri ini.

Bertolt Brecht pernah berkata, Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu, dan obat, semua tergantung pada putusan politik.

Orang yang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga menyatakan bahwa ia membenci politik. Dia tidak tahu bahwa, dari kebodohan politiknya lahirlah pelacuran, anak terlantar, dan pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi busuk, rusaknya negara oleh perusahaan nasional dan multi nasional.

Apakah kamu rela wajah politik Indonesia diwakili oleh duta-duta politik yang berperangai kasar dan identik dengan korupsi. Karena itu setiap kita harus jadi duta politik. Menampilkan wajah politik yang indah dan penuh kebijaksanaan.

Apa yang harus kita lakukan agar layak menjadi duta politik? Simpel, lihat saja sales atau duta sebuah produk. Misalnya produk kesehatan. Duta produk tersebut, pastilah tampil sehat dan mengetahui seluk beluk produk tersebut sampai detail. Nah, demikian juga untuk menjadi duta politik.

Pertama kita harus kenali lebih dalam prinsip-prinsip politik. Pelajari dari sumber yang dapat dipercaya. Pelajari sampai tuntas. Jangan setengah-setengah. Pemahaman yang salah tentang politik kebanyakan karena ilmu yang masih dangkal. Lalu tunjukan prinsip-prinsip politik yang adil dan bijaksana itu dengan akhlak serta perilaku kita sehari-hari.

Rasulullah membangun Islam bukan dengan keserakahan akan kekuasaan, tapi dengan akhlaknya yang mulia. Ayo, tunggu apalagi pelajari politik lebih dalam, jadi duta politik, dan jadi duta kebijaksanaan.

#Lomba Esai Politik

[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Politik