Salah satu aliran musik yang paling ramai diminati remaja indonesia saat ini adalah musik indie. Konsep musik serta kandungan lirik yang bernuansa melankolis dan puitis acapkali mampu membuat para penikmatnya terhipnotis. 

Bahkan tak jarang musik ini menyihir seseorang yang tadinya berkepribadian sinis menjelma puitis.

Tak hanya itu, anak muda di Indonesia yang menggemari aliran musik ini lebih melihat indie sebagai sesuatu yang bukan lagi hanya sebatas aliran, tetapi sesuatu yang dapat mendefinisikan karakter dan kepribadian mereka. 

Bagi mereka, indie menggambarkan seseorang yang menyukai kesendirian, seseorang yang tersakiti, seseorang yang telah berdamai dengann masa lalu dan sebagainya.

Memang, diakui atau tidak, eksistensi musik indie di Indonesia semakin mencuat ke permukaan. Banyak dari band serta musisinya mampu menjamah gendang telinga masyarakat mainstream. Oleh para penikmatnya, mereka bahkan dijadikan kiblat permusikan Indonesia. 

Beberapa nama besar yang karib dengan musik indie di antaranya: Fiersa Besari, Payung Teduh, Four Twnty dan lainnya.

Dalam dunia permusikan, indie sejatinya  bukanlah sebuah aliran. Seperti yang sudah saya terangkan pada tulisan saya sebelumnya yang berjudul Fenomena Musik Indie, indie adalah singkatan dari kata independent, yaitu sesuatu yang bersifat mandiri serta bebas dan merdeka. 

Dimana para musisinya akan melakukan mendirikan label tersendiri dalam melakukan proses perekaman hingga perilisan. 

Mereka lalu akan mendistribusikan hasil karya mereka kepadakeluarga, kerabat, teman kerja hingga bergerak untuk melakukan promosi secara mandiri tanpa bantuan dair label rekaman besar manapun. Tapi masalahnya, banyak dari mereka belum sepenuhnya memahami makna dari kata indie itu sendiri. 

Oleh para penganutnya, indie dianggap sebagai sebuah genre, fashion style serta simbol yang jika ketiganya dikombinasikan akan melahirkan sebuah generasi baru yang disebut anak indie – generasi yang katanya memiliki hobi mahal.

Seiring dengan pergeseran makna, saat ini, indie seolah dijadikan sebagai gaya hidup. pergeseran makna kata itu sendiri dijadikan stigma untuk menggambarkan fashion seseorang atau jenis musik folk dengan kandungan lirik yang seolah merepresentasikan keadaan hati para penikmatnya. 

Realitanya, pergeseran makna indie malah menjadikan malah menjadi suatu tingkat eksistensi seseorang.

Indie menjadi semacam konsep manusia bebas, cinta alam dan kasing sayang sesama manusia, sudah berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan masa lalu, sudah merelakan kesakitan, sesekali mengutuk hidup, serta mengutuk diri untuk tidak lagi dicintai atau cukup mencintai diri sendiri.

Belakangan, acapkali kita melihat orang menjadikan indie sebuah gaya. Baik dari cara berpakaian hingga ikut serta pada perhelatan musik yang menghadirkan musisi-musisi indie yang dia sendiri tidak tahu namanya. 

Motivasinya tak lai hanya sekadar untuk menjaga entitas dan eksistensi sebagai seorang yang benar-benar indie.

Ada beberapa hal yang umumnya disematkan pada anak indie saat ini serta begitu karib dengan kehidupan mereka. Hal ini juga menjadi sesuatu yang lumrah untuk diketahui oleh sebagian besar masyarakat kita: senja, kopi, dan puisi. 

Saya sendiri sering bertanya mengapa musik indie harus selalu disandingkan dengan senja dan kopi? Mengapa  bukan boba atau thai tea?

Pertama, anak indie begitu berkarib dengan kopi. Berbicara perihal anak indie tentu kurang afdol jika tanpa kopi – no kopi, no indie. Kopi menjadi alah satu keabsahan untuk dianggap sebagai seorang indie. 

Semisal sebuah lagu tanpa adanya kandungan lirik kopi, senja, dan hujan, maka lagu itu belum sah dikategorikan sebagai lagu indie.

Selain itu, senja juga menjadi salah satu hal yang berkarib dengan anak indie. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa anak indie sangat dekat sekali dengan senja. 

Oleh anak indie, senja dimaknai sebagai sesuatu yang mengandung estetika, kebijaksanaan, kedewasaan, serta sebuah keinginan terjauh dari hidup yang pada akhirnya selalu redup.

Bahkan bisa dikatakan bahwa anak indie adalah simbol keindahan senja itu sendiri. Tanpa adanya senjai, indie hanyalah kata-kata yang diperdebatkan dan tak kunjung solusinya. 

Dengan adanya senja, anak indie menemukan entitasnya yang paling sejati. Dengan hadirnya anak indie,keindahan senja tentu akan selalu bermakna untuk dinikmati meski pada akhirnya hilang dan melenyapkan diri.

Secara ilmiah, ternyata kopi bukan sekadar teman nongkrong di kedai saja, kopi adalah sebuah energi yang dapat menyuntik semangat. Meminum kopi kopi dapat membuat kemampuan otak meningkat sekitar 100% berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan. 

Lebih tepatnya, kafein yang terkandung dalam kopi dapat membuat otak lebih fokus. Maka dari itu, kopi selalu dijadikan karib di kedai-kedai dengan topik-topik yang penuh perlawanan. 

Orang-orang zaman dulu yang resah dengan kondisi sosial dan ketimpangan moral para penguasa selalu menjadikan kedai sebagai majlis diskusi dan kopi sebagai instrumen mencari ide dan solusi. Sejak saat itu kopi menjadi identik dengan semangat perlawanan.

Sebenarnya kalau dilihat dari konteks tersebut memang cukup relevan jika mengasosiasikan kopi dengan musik indie. Musik indie adalah musik yang dikenal melawan pasaran karena karena tidak ingin terkekang oleh keinginan pasar. 

Sehingga rasanya tidak salah jika menempatkan kopi sebagai pendamping musik indie. Meski begitu, kita tidak harus menyukai kopi untuk menjadi anak indie.

Sedangkan senja merupakan salah satu diksi yang paling sering muncul di lirik puitis musik indie – bahkan tak jarang kita dapati di beberapa judul lagu pada musik indie. 

Melihat fenomena ini, tak heran jika musik indie begitu terasosiasikan dengan kata senja. Tentu tidak ada yang salah dengan hal ini, pergeseran makna berdasarkan tren di suatu waktu tertentu merupakan hal yang lumrah.

Tapi satu hal yang perlu dikethui bahwa senja memang salah satu fenomena alam yang sangat indah. Tidak jarang fenomena langit menjelang petang ini menjadi inspirasi hidup anak indie – mungkin juga menjadi inspirasi terciptanya sebuah lagu. 

Tidak ada yang perlu diragukan dari keindahan sebuah lanskap langit berwarna jingga semburan keemasan di ujung sore.

Pada akhirnya, tidak ada salahnya menjadi anak indie selama kita mafhum dengan makna kata indie itu sendiri. Menjadi indie bukan berarti harus folk, gaya bajunya harus retro, hidupnya harus menyendiri. 

Menjadi indie berarti mengetahui, mendalami serta siap mengapresiasi musik dan musisi indie itu sendiri.

Menjadi anak indie tidak harus melulu menunggu datangnya senja di sore hari. Tidak harus melulu mengkonsumsi kopi. Tidak harus bersusah payah menapaki gunung lalu berbagi indomie. Ini sungguh jatuhnya menyiksa diri. Niat hati ingin menjelma anak indie, yang ada malah sedia promag setiap hari.