Langit selalu dipandang sebagai sesuatu yang tinggi dan memang begitu faktanya. Setiap pribadi acap kali menengadahkan kepala tatkala membayangkan mimpi-mimpinya, atau mungkin menantikan ilham itu datang dari atas.

Mimpi adalah milik setiap orang. Lewat mimpi manusia menjadi pribadi yang merdeka dan bebas. Sementara bagi anak-anak, mimpi bak asa yang memelihara hidup. Mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa kelak kan beroleh apa yang didamba. Lalu, bagaimana mengajak anak-anak untuk mencipta impiannya dan memelihara terus harapan itu?

1000 Guru Jogja bersama para volunteer muda menyambangi MI Guppi Legundi, Gunung Kidul pada akhir pekan kemarin tepatnya 27-29 April 2018. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Traveling & Teaching memperingati Hari Pendidikan Nasional.

Momen kali ini menjadi spesial karena diadakan pula pelayanan kesehatan gratis. Kegiatan menyasar para orang tua dan lansia untuk akses kesehatan yang mudah dan terjangkau. Kurang lebih 40-an orang ikut dalam pelayanan kesehatan yang meliputi pemeriksaan gula darah, asam urat dan kolesterol.

Penyuluhan kesehatan dan pencegahan kejahatan seksual terhadap anak juga diberikan sebagai bekal bagi orang tua untuk mengawasi apa yang terjadi di lingkup kehidupan anak sehari-hari.

Dua hingga tiga sukarelawan masuk di tiap kelas untuk mengajar anak-anak dengan materi ajar yang beragam. Beberapa dari mereka belajar tentang tema kebangsaan; lagu nasional, pahlawan hingga peta Indonesia dan dunia. Anak-anak belajar melihat dunia yang lebih luas, dunia yang mungkin bagi sebagian dari mereka masih terasa asing. Selain itu, ada pula yang belajar mengenal profesi-profesi seperti di bidang pertanian dan teknisi.

Seusai kelas, anak-anak diajak menuliskan cita-cita mereka pada sebuah kertas berbentuk bintang. Kertas itu lalu ditempel pada tempat yang telah disediakan, Langit Impian namanya. Biarkan mimpi-mimpi itu terus mengangkasa. Ia tumbuh di hati dan terus dipandang oleh jagoan-jagoan cilik itu.

Kegiatan edukasi menyikat gigi menjadi pengisi di sela-sela kegiatan. Program kerjasama dengan Formula ini menyasar anak TK dan MI dengan harapan anak-anak dan orang tua mawas akan kesehatan gigi dan mulut. 

Di akhir kegiatan, setiap anak mendapat donasi sikat dan pasta gigi. Ada pula donasi untuk anak-anak berupa tas, sepatu dan alat tulis, serta sembako untuk para tenaga pengajar di sana. Setiap sukarelawan akan memberi donasi pada satu anak, mengambil waktu berdua, berbicara dan saling berbagi kisah, kasih dan harapan.

Program kerja sama 1000 Guru Jogja dengan Double-Cabin Indonesia Chapter Jogja ini juga memberi donasi ke pihak sekolah berupa papan tulis dan pintu toilet yang baru.

Di akhir kegiatan diadakan penanaman pohon dengan harapan pohon itu terus bertumbuh seiring perjuangan anak-anak mencipta dan mengejar mimpinya sekaligus pengingat akan dinamika bersama yang dilalui.

Memang benar bahwa kegiatan ini hanyalah kegiatan sehari. Waktu bercengkerama dengan anak-anak hanya terjadi di hari itu. Tapi sesungguhnya kebersamaan yang singkat ini menumbuhkan asa bagi para sukarelawan. Asa akan pendidikan yang layak dan pembelajaran akan pentingnya sebuah rasa syukur.

Anak-anak di sana tidak semuanya hidup bersama orang tua mereka, ada yang hidup bersama kakek dan nenek mereka, ada pula yang merupakan anak yatim. Sesuatu yang tidak mudah, terlebih itu terjadi di usia mereka. Usia di mana mereka perlu merasakan kegembiraan anak-anak, kegembiraan akan kasih sayang orang tua. Sesuatu yang tidak hanya menenangkan tapi juga memberi rasa aman.

Seusai kegiatan di sekolah, para tim dan sukarelawan beranjak ke Pantai Butuh. Pantai yang terletak di Gunung Kidul ini menjadi saksi lahirnya tawa, kisah dan keakraban setiap sukarelawan yang terlibat dalam kegiatan kali ini.

Tidak semua yang terlibat dalam kegiatan ini saling kenal pada awalnya. Ada yang baru pertama kali bertemu, namun berkat hasrat yang sama akan pendidikan daerah terpencil, suasana lebih mudah cair. Latar belakang yang beragam dan pengalaman-pengalaman tatkala berdinamika dengan anak-anak MI menjadi topik utama pembahasan.

Kebingungan menghadapi anak-anak yang awalnya pendiam, ataupun bertemu dengan anak yang belum bisa membaca menjadi tantangan tersendiri. Namun, tantangan hanya bisa terselesaikan jika dilalui, tidak dengan bersungut-sungut. Kepedulian yang sama membuat para tim dan sukarelawan dapat lebih mengenal satu sama lain secara lebih mendalam.

Para sukarelawan belajar banyak lewat perjumpaan singkat itu. Satu hal yang perlu disadari adalah, mereka yang belajar untuk hidup, pastilah kan mengalami tantangan atau penderitaan. Maka mimpilah yang menjadi sumber sukacita, bahwa setiap kita termasuk anak-anak itu punya tujuan yang ingin mereka capai.

Maka biarlah mimpi itu terbang perlahan, sampai ia mengangkasa. Jauh namun tetap terpandang. Tinggal memilih, diam terpaku mengaggumi mimpi itu, atau melakukan sesuatu untuk meraihnya. Jangan biarkan anak-anak berusaha sendirian, mereka butuh tangan dan hati yang peduli. Mungkin dari kita yang membaca ini, mungkin.