Latar belakang penulis membahas ini berawal dari tugas mata kuliah “Tafsir Ayat Hukum”. Penulis mendapat jatah kajian tentang penafsiran ayat Alquran terkait tentang korupsi. Dan kebetulan, wacana akhir-akhir ini yang sedang hangat, salah satunya adalah korupsi.

Adalah Romahurmuziy (Romi), selaku Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) terlibat Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada tanggal 15 Maret 2019 di Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama Jawa Timur, Juanda, Sidoarjo.

Semenjak itu, penyebutan nama Romahurmuziy semakin ramai diperbincangkan, karena diduga sebagai terpidana korupsi dalam hal jual beli jabatan di Kementrian Agama (Kemenag).

Dalam hal ini, Romi secara tidak langsung menambah daftar kasus korupsi yang terjadi di Kemenag. Salah satu lembaga Pusat Kajian Antikorupsi Fakultas Hukum (PUKAT FH) UGM memberikan beberapa pernyataan terkait kasus Romi (19/03/2019):

Pertama, bahwa suatu lembaga yang mengurus bidang ukhrawi ini ternyata berulang kali terseret kasus korupsi. Mulai dari dana abadi umat, dana haji, pengadaan kitab al-Qur’an, komputer madrasah, hingga terakhir jual beli jabatan.

Hal ini jelas sebuah ironi. Romahurmuziy yang menjabat sebagai Ketua Umum PPP dikenal sebagai pribadi sekaligus partai politik yang religius. Di sisi lain, ia menggunakan kekuasaannya dengan melibatkan lembaga Kemenag.

Dua lembaga tersebut memiliki simbol yang terpancar jelas akan keagamaannya, yaitu Islam. Parahnya, dua lembaga tersebut ternodai oleh kasus korupsi Romi dan menambah rentetan kasus korupsi di Kemenag sekaligus partai politik PPP (pasca Suryadharma Ali).

Dari sini jelas menjadi tugas berat pihak Kemenag, bahwa program reformasi birokrasi di Kemenag tidak berjalan baik dan perlu lebih ditingkatkan lagi. Menarik dicatat, sebagaimana ungkapan M. Yasin selaku mantan Irjen Kemenag dalam acara ILC (19/03/2019) mengakui, bahwa sistem birokrasi dalam Kemenag terjadi krisis integritas pasca 2016.

Kedua, persoalan institusi partai politik. Romi telah membawa partai PPP terjerat dalam deretan kasus korupsi double strike pasca Suryadharma Ali (mantan Ketum PPP). Dan ini juga menjadi tugas bagi parpol PPP, khususnya, untuk mereformasi birokrasi dan juga regulasi.

Secara umum, parpol-parpol selain PPP, juga patut dipertanyakan. Karena hal ini menyangkut kepercayaan publik terhadap partai politik sebagai salah satu agen mobilisasi kesejahteraan masyarakat.

Sebut saja misalnya, Setya Novanto (mantan ketum Golkar), Anas Urbaningrum (mantan Ketum Demokrat), dan Luthfi Hasan Ishaaq (mantan Ketum PKS). Yang dalam hal ini tertangkap oleh KPK terlibat terpidana korupsi.

Ketiga, persoalan bangsa secara universal. Menarik mengutip Bapak Karni Ilyas di akhir acara ILC (19/03/2019), bahwa korupsi lebih berbahaya daripada prostitusi. Prostitusi merusak moral individu, sedangkan korupsi merusak moral seluruh bangsa.

Inilah tugas bersama-sama bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan untuk melakukan berbagai tawaran solusi terhadap kasus korupsi ini. Perlu ditegaskan dan saran pribadi dari penulis, mari bersama-sama berusaha melawan korupsi ini, jangan terlalu mengedepankan egoisme berlebihan dengan tidak ikut berkontribusi melawan korupsi.

Dalam hal ini, penulis mencoba merelevansikan dengan ayat-ayat Alquran. Meski tidak bisa dipungkiri bahwa aktor koruptor pastinya sangat paham akan larangan adanya tindakan korupsi dalam perspektif agama manapun.

Ayat Alquran Tentang Korupsi

Kata korupsi yang sebagaimana didefinisikan oleh Klitgard (2002) sebagai the abuse of public power for private benefit, tidak disebutkan secara eksplisit dalam Alquran, melainkan secara implisit. Sebelum menyebutkan frase terkait maksud daripada korupsi, ada kisah unik dari Nabi Daud yang tercatat dalam tafsir Jawad Mughniyyah Q.S. al-Anbiya’ ayat 80, di mana peristiwa ini tercatat jauh sebelum adanya Nabi Muhammad.

Nabi Daud adalah orang pertama yang membuat baja besi atas anugerah pemberian dari Allah. Sebagaimana riwayat menyebutkan, hal tersebut disebabkan karena Daud adalah Raja Bani Israel. Kebiasaan seorang Raja – Daud berkeliling melihat berbagai perilaku yang dikerjakan oleh manusia.

Suatu hari Daud bertemu dengan seorang laki-laki yang menanyakan perjalanan kehidupan Daud. Ia berkata kepada Raja (Daud): “Sebaik-baik perjalanan adalah apabila seseorang tidak makan dari Bait al-Mal (Lembaga yang menangani segala harta umat, baik berupa pendapatan maupun pengeluaran Negara)”.

Maka bersumpahlah Daud tidak akan makan selamanya kecuali hasil dari kerja keras tangannya. Cerita tersebut menunjukkan kewajiban seorang Raja untuk menjaga dan memelihara kemaslahatan manusia beserta harta bendanya (Tafsir Alkasyif, Vol. V: 292).

Apabila berpacu pada etimologi awal terkait arti korupsi, maka terdapat term fasad (kerusakan) dan ifsad (merusakkan), yang di dalam Alquran terdapat 50 kali penyebutannya dengan berbagai derivasi dan maksud ayatnya. Sebagian di antaranya dihubungkan dengan persoalan kejahatan dalam bidang ekonomi (Bahri, 2017: 341-2).

Semisal Q.S. al-Syu’ara (26): 183 yang berbunyi; “Dan janganlah kamu merugikan manusia dengan mengurangi hak-haknya dan janganlah membuat kerusakan (mufsidin) di bumi”. Dalam tafsir al-Razi (1981, Vol. 24: 163-4)), maksud daripada kerusakan adalah merampok (qath’u al-tariq), penyerbuan (al-gharah), dan merusak tumbuh-tumbuhan (ihlak al-zar’i).

Pernyataan dari tafsri al-Razi yang sangat kental dengan eksistensi kejahatan dalam bidang ekonomi adalah perampokan, meski tidak bisa disalahkan maksud daripada selain perampokan yang apabila dikaitkan dengan persoalan ekonomi bisa juga dibenarkan. Namun, perampokan jelas berbeda dengan korupsi secara sistemik. Korupsi lebih halus daripada perampokan maupun penyerbuan.

Berbeda halnya dalam tafsir Kemenag (versi 1.3.3.9), yang menyatakan bahwa ayat ini menjelaskan peristiwa Nabi Syuaib yang menyeru kaumnya untuk menghentikan kejahatan yang biasa mereka lakukan, salah satunya menyempurnakan takaran dan timbangan baik di waktu menjual maupun membeli. Syuaib juga mengingatkan kaumnya bahwa harta yang halal lebih baik bagi mereka untuk berkehidupan lebih baik.

Ayat ini menandakan bahwa sikap kehati-hatian dalam persoalan ekonomi yang terdapat hubungan antara penjual maupun pembeli atau raja dengan rakyat perlu ada komitemen tinggi, agar tidak terjadi kerusakan baik moral maupun alam.

Di samping itu, padanan kata yang serupa dengan korupsi, ditemukan kata berkhianat (ghulul) dalam Q.S. Ali Imran [3]: 161, mencuri (saraq) dalam Q.S. al-Maidah [5]: 38, dan memakan barang haram (akkaluna al-suht) dalam Q.S. al-Maidah [5]: 42.

Maksud daripada berkhianat (ghulul) dalam Q.S. 3:161 adalah mengambil sesuatu yang halus, semisal mencuri sesuatu. Dan konteks historis ayat ini berkaitan dengan mengambil harta rampasan perang di saat perang Badar.

Sedangkan maksud daripada mencuri (saraq) dalam Q.S. 5:38 adalah mengambil harta orang lain secara sembunyi-sembunyi. Dan konteks historis ayat ini terjadi ketika seorang wanita mencuri perhiasan dan oleh Rasulullah diperintah untuk dipotong tangannya.

Adapun maksud daripada memakan barang haram (akkaluna al-suht) dalam Q.S. 5:42 adalah suap yang diberikan pada seseorang dalam urusan tertentu. Hal ini bisa diperjelas dengan seseorang yang makan harta melalui kekuasaannya dengan cara suap (risywah) menyuap (Ilmi, 2011: 3-8).

Term-term yang penulis catat yang mempunyai relevansi dengan perihal korupsi dapat disimpulkan bahwa korupsi adalah kejahatan luar biasa (extra-ordinary crimes) yang dapat merusak pribadi dan juga moral bangsa secara keseluruhan.

Persoalan integritas, moralitas, dan transparansi yang dalam hal ini menjadi persoalan pokok masalah korupsi perlu adanya kesadaran (consciousness) tinggi yang memadai secara eksklusif, sistematis, dan kreatif bagi para stakeholder.

Manusia dan Uang

Dialektika manusia dengan uang merupakan fenomena sosial yang tidak asing bagi kalangan manapun. Namun, ketika hal ini dihubungkan dengan kekuasaan, nilai-nilai luhur seperti membangun integritas, moralitas, dan transparansi menjadi mudah luntur dan hanya orang-orang tertentu yang tahan banting akan hal ini.

Menarik pernyataan dari Prof. Musa Asy’ari dalam buku Penderitaan Memburu Uang (2017: 129) bahwa “sebagai subjek yang menciptakan uang, seharusnya kita tidak boleh dikuasai uang, tetapi sebaliknya kita seharusnya menguasai uang”.

Jebakan materialisme, hedonisme, dan konsumerisme yang lekat dengan kehidupan modern, semakin mengkerdilkan makna spiritualitas menjadi sebuah kemasan komoditi yang tak pandang bulu. Mereka rela mempertaruhkan harkat dan martabatnya untuk memenuhi hajat yang kebanyakan diperuntukkan bagi dirinya sendiri.