Percayakah kita bahwa setiap kitab suci sanggup menjelaskan dirinya atas berbagai pertanyaan yang muncul? 

Jaksa Penuntut Umum dalam sidang pengadilan penistaan agama dengan tertuduh Ahok tidak percaya. Buat dia, Alquran rapuh, harus dilindungi, tidak boleh dibaca umat agama lain. Katanya, “…terjemahan dan interpretasinya menjadi domain bagi pemeluk dan penganut agama Islam, baik pemahamannya maupun dalam penerapannya.”

Ali Mukartono dan rekan-rekan mengira Alquran tak layak menjadi rahmat bagi alam raya, kedér berhadapan dengan syak—padahal syak adalah langkah pertama menuju percaya, cuma mampu berbicara kepada sekumpulan robot yang disetel untuk manggut, menerima, dan menghamba. Bagi para jaksa, pertanyaan ekstrem terhadap Alquran adalah kejahatan keji.

Ada, memang, reaksi beberapa teman terhadap dakwaan tersebut, tapi umumnya sembér, nyinyir, centil, dan menyebalkan. Saya tidak menemukan tanggapan argumentatif yang melihat dakwaan itu sebagai pelecehan Alquran. 

Teman-teman dari JIL biasanya aksentuatif, gagu. Entah sedang ngopi di mana Ulil Abshar Abdalla, Luthfi Assyaukanie, Abdul Moqsith Ghazali pada waktu dakwaan itu dibacakan dan diberitakan.

Selama seribuan tahun, halaman-halaman Alquran berkibar membuka diri untuk dibaca dunia. Ratusan percakapan agung lahir darinya mengisi zaman cemerlang Islam. Atas polemik dan diskusi itu, puluhan ribu buku hadir menghuni peradaban. Sejarah mencatatnya. Manusia diperkaya. Ternyata masa itu sudah usai—setidaknya menurut Ali Mukartono.

Jika pada tanggal 27 Desember 2016 Majelis Hakim memutuskan sidang dilanjutkan, maka penghinaan terhadap Alquran resmi menjadi fakta hukum: Alquran dinyatakan sebagai buku terlarang bagi sebagian umat manusia. Dan bukan pendeta, atau pastor, atau Ephorus, atau Uskup, atau Kardinal, atau Paus, atau Dalai Lama yang menyatakannya, tapi lembaga yudikatif di negeri yang 85% penduduknya beragama Islam.

Semua kitab suci memang memunculkan pertanyaan. Beberapa darinya pernah mengisi hidup saya bertahun-tahun. Sampai saat ini tidak ada yang berhasil menjelaskan kepada saya, misalnya, mengapa Alquran memanggil kaum Kristiani dengan sebutan umat Nasrani?

Pada tahun 1993, Joop Ave menjalani pelantikannya sebagai Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi. Presiden Soeharto minta Joop mengangkat sumpah sesuai agama Nasrani. Joop kontan memotong, “Maaf, Pak Presiden, agama saya Kristen Protestan, bukan Nasrani.” Presiden Soeharto tersenyum kecil lalu meralat ucapannya.

Koreksi yang terhitung langka disampaikan secara langsung pada masa pemerintahan Soeharto tidak bergema sama sekali. Semua orang membiarkannya berlalu begitu saja. Padahal itu koreksi penting karena Nasrani dan Kristen berbeda besar.

Umat Kristen adalah pengikut Kristus yang memegang teguh doktrin tritunggal: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Agama ini berdiri pada abad ke-4, secara resmi menjadi institusi melalui konsili Nicea.

Kaum Nasrani (Nazareat, Nazarene) bukan pengikut Kristus. Yesus memang dijunjung sebagai pemimpin dalam kelompok ini, tapi dia bukan satu-satunya. 

Kaum Nazarene sudah lebih dulu ada sebelum Yesus lahir. Beberapa cendekiawan berpendapat: kelompok ini bermula dari sekte Esseni yang garisnya bisa ditarik ke sebelum Samson (and Delilah). Sebagian lain menariknya lebih jauh ke leluhur mereka: Henoch.

Apa pun itu, satu hal yang pasti, kaum Nazarene tidak mengakui Yesus sebagai Anak Allah dan, karenanya, menolak doktrin Tritunggal. Yesus adalah Sang Cahaya. Semua ucapan Yesus tentang terang, dan anak-anak terang, adalah bagian dari kepercayaan Nazarene. Dan ajaran Nazarene adalah hidup yang bersesuai dengan kehendak Allah—tidak makan daging adalah salah satunya.

Beberapa komunitas Nazarene menyebut kepercayaan mereka "Jalan Nazarene" dan mengaku Yesus-lah yang menyempurnakannya. Mereka haqul-yaqin ucapan Yesus, “Akulah Jalan, Kebenaran, dan Hidup” setepatnya merujuk kepercayaan Nazarene. Maksudnya, dengan ucapan itu, Yesus menyatakan diri sebagai bagian dari, dan pemimpin, sekte Nazarene.

Tentu saja semua itu memantik rasa asing yang sangat mengganggu saya setiap kali Alquran menyematkan kecaman atas Allah yang beranak, doktrin Tritunggal, kepada kaum Nasrani—padahal segenapnya kaum ini justru menolak kepercayaan tersebut. Bagaimana mungkin Allah dalam Alquran bisa 'keliru' dan 'ceroboh'?

Kepusingan saya bertambah-tambah ketika berjumpa dengan 'kecerobohan' lain dalam Surah Almaidah 116:

...Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?." Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau...

Doktrin Tritunggal orang Kristen seturut Konsili Nicea: Bapa, Putera, dan Roh Kudus; bukan Allah, Yesus, dan Bunda Maria. Harus diakui, memang, tafsir atas ucapan Yesus, yang menjanjikan Penolong pasca-kepergiannya, bermacam-macam.

Lema Ibrani yang dipercaya telah digunakan Yesus untuk sebutan Penolong adalah Ruah, bergender feminin, paralel dengan Shekinah dalam tulisan para rabi Yahudi; dalam Islam kita temukan Sakinah, bentuk feminin dari kehadiran Allah.

Karena itu, tak perlu heran kalau sebagian kaum Kristen di daerah Turki pada masa lalu percaya bahwa yang dimaksud dengan tritunggal adalah Allah, Yesus, dan Bunda Maria. Namun buat kaum Nazarene, tritunggal mereka adalah Yesus, Maria Magdalena, dan Sarah (putri Yesus).

Kalau Alquran mengira pemangku doktrin tritungggal adalah kaum Nasrani, kecerobohan jadi berlipat ganda. Kalau yang dimaksud adalah Allah-Yesus-Bunda Maria, yang dianut sekte Collyridians sebagaimana disinggung Mun’im Sirry dalam tulisannya, Memahami Kritik Alquran terhadap Kristen, Alquran seolah menerima dan karenanya tidak berkeberatan dengan doktrin Tritunggal Kristen arus utama: Allah-Yesus-Roh Kudus.

Tiga kemungkinan tersebut memerangkap Alquran di jalan buntu. Tak ada jalan keluar, dalam arti pilihan aman, yang tidak bertolak belakang dengan doktrin Tauhid Islam. Itu bahaya.

Tapi saya percaya, sebagaimana kalimat pembuka tulisan ini, seluruh kitab suci mampu menjawab syak, pertanyaan, wasangka, dan kecaman, yang lahir dari dirinya. Dan semua jawaban selalu bermula dari pertanyaan, tak jarang malah kecaman atau sinisisme. 

Apa pun, itu adalah inisiasi sebuah dialog. "Ketuklah, maka pintu akan dibukakan," kata Yesus. Ketukan orang Batak sering dipersepsi orang Jawa sebagai penggeledahan.

Mun’im Sirry secara gemilang mendamaikannya. Ia menyebut itu ayat-ayat polemik. Maksudnya, ayat tersebut turun untuk keperluan berpolemik dalam tujuan memenangkan sebuah gagasan. Ini menarik. Konsekuensi yang dihasilkannya bakal sangat serius, terutama ketika kita artikulasikan ke dalam gagasan tentang Allah.

Sangat lazim kalau bahasa kaum polemicist kerap berlebih (exaggerated) dan keruh (distortive). Dalam upaya memetakan posisi polemicist di seberang, seseorang sering menembakkan peluru ke sejumlah daerah kosong untuk akhirnya menyimpulkan bahwa lawan kita berada di wilayah yang belum kita hujani tembakan.

Atau, misalnya, saya ragu apakah dia dari negara Australia atau Inggris. Untuk memastikannya saya sodorkan kalimat berikut ini:

“Jangan bilang bahwa Anda dari Australia sebab saya telah melihat peluru yang Anda tembakkan sedang menyasar sang pemilik senjata.”

Reaksi yang saya petakan adalah sebagai berikut:

Kalau dia betul berasal dari Australia, saya dengan ringan telah meyakinkan dia bahwa argumennya lemah dan malah berpotensi membunuh dirinya sendiri sebagaimana boomerang, senjata kaum Aborigin, suku asli Australia. Itu sinisisme yang perlu saya lontar agar lututnya gontai, sekaligus membeli waktu untuk menyusun counter-argument yang kokoh.

Kalau dia berasal dari Inggris, dan itu perlu saya pastikan, saya sudah siap dengan counter-argument lain di saku saya sehubungan dengan posisi Inggris di PBB dalam topik termaksud, misalnya.

“Australia” dalam kalimat tersebut adalah sejenis distorsi. Tak penting apakah itu tepat atau keliru. Reaksi terhadapnya yang saya butuhkan.

Dalam konteks itu, apa yang dilontar Alquran bukan kecerobohan, melainkan ketangkasan adiluhung dalam mengurai benang kusut. Saya hentikan di situ, belum berminat untuk masuk lebih jauh guna mendalami dugaan mendebarkan: apa yang ingin dipetakan Alquran melalui ayat-ayat polemik tersebut dan gagasan apa yang ingin dimenangkannya?

Sebaliknya, saya ajak Anda membayangkan karakter umum para polemicist.

Polemicist paling masyhur sepanjang masa adalah Plato. Saya menyebutnya lelaki petentengan yang berjalan ke sana-kemari sekadar menimbulkan huru-hara dengan pertanyaan-pertanyaannya. Dia mendirikan Academy, circa 387 BC di Athens. Apa yang diajarkan di sana? Tak jelas. Adakah program studi atau silabus yang jadi pandu pengajaran? Tidak ada.

Para nara didik datang dengan kesadaran penuh bahwa ilmu didapat berbekal pertanyaan-pertanyaan abadi. Plato menginisiasi pertanyaan fundamental; mereka meneruskannya dengan pertanyaan lanjutan. Tak jarang suasana jadi kacau. Sebuah rumusan atau definisi, yang dilontar Plato pekan lalu, dibongkar lagi pekan ini oleh Plato sendiri. 

Sebagian cendekiawan menyimpulkan bahwa Academy adalah melulu tentang serangkaian polemik gagasan Plato, atau polemik melawan Plato. Singkat kata, bahan bakunya adalah polemik.

Kalau karakter semacam itu kita gunakan untuk membayangkan Nabi Muhammad, yang melaluinya Alquran diturunkan, tak ada masalah. Sang Nabi malah terbayang segar, rileks, enerjetik, kaya akan elokwensi, dan cemerlang.

Masalahnya, sebagian besar umat Islam, kalau tak mau dibilang semua, percaya bahwa Nabi Muhammad hanya sebagai medium. Pengucap semua ayat itu adalah Allah sendiri. 

Untuk posisi seperti ini, kita tak mungkin memberi permakluman, misalnya: konsep tritunggal Allah-Yesus-Bunda Maria ditunjuk Alquran karena lahir dari komunitas Kristen yang mukim di tanah Arab sehingga kepercayaan pengikut Kristus seperti itulah yang dikenal Muhammad.

Tapi Allah yang berpolemik?

Kita pindah sejenak ke tulisan Natal: Allah Yang Takut Terjebak Korupsi yang ditulis Sahat Siagian di situs Qureta.com.

Dalam tulisannya, Sahat menyoal gempa bumi dan tirai Bait Suci terbelah dari atas ke bawah, yang membarengi peristiwa kematian Yesus. Semula dengan tegas dia berkata, ini kelakuan Alay: menghubungkan dua hal yang tak ada kaitannya sama sekali. Gempa ya gempa, tak berhubungan dengan kematian Yesus.

Tapi ketika Sahat masuk lebih jauh dengan merinci dimensi tirai Bait Suci, yang diketahui berketebalan 10 sentimeter, dia mulai berpikir lain. Singkatnya, tak mungkin tirai setebal 10 senti terbelah kalau 2 tiang utama Bait Suci tidak bergerak berlawanan arah. Kalau itu terjadi, Bait Suci rubuh. Kenyataannya, tidak. Berarti tirai Bait Suci tidak terbelah. 

Pada akhirnya Sahat menyimpulkan bahwa gempa bumi dan tirai Bait Suci yang terbelah sebetulnya menyampaikan pesan utama Lukas: kekuasaan dijungkirbalikkan, batas antara Sang Maha Kudus dan yang kudus—antara Allah dan manusia, ditiadakan.

Kalau kebanyakan teolog tetap percaya bahwa gempa dan tirai Bait Suci terbelah merupakan peristiwa sungguhan, Sahat tidak. Itu pesan terselubung, yang justru terkuak karena Lukas menaruh enigma di sana..., enigma yang memancing kita menemukan pesan di baliknya. Yang patut kita kejar di kesempatan berikut: mengapa Lukas perlu melesapkan pesan penting tersebut?

Sekarang, saya ajak Anda membayangkan karakter Allah sebagai konsekuensi yang lahir dari tafsir Sahat.

Seperti kata Sahat, Allah model begitu adalah Allah yang begajulan. Karena tak ada batas lagi, Allah bercengkerama dengan koruptor, dengan pelacur, dengan penjahat, dengan para kafir, minum anggur di rumah pejabat penindas, dan macam-macam kalangan lain. 

Rubuh sudah pemisah antara Allah dengan orang berdosa. Dan ternyata Allahnya Sahat juga doyan berpolemik. Saya beri satu contoh dari Injil Matius pasal 5:

5:27 Kamu telah mendengar firman: Jangan berzina.  

5:28 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya.  

5:29 Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka.

5:30 Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa daripada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.

Dibaca secara literal, ayat-ayat di atas terdengar mengerikan: saya harus mencungkil mata kalau karenanya saya jadi berhasrat kepada Brad Pitt. Lalu bagaimana saya melanjutkan hidup? Setiap kali melihat jemarinya saja saya langsung kepingin dibelai. Saya butuh persediaan lebih dari 100 pasang mata.

Ternyata bukan begitu maksudnya. Sebagai seorang polemicist, gemar berpolemik, Yesus kadang juga menggunakan kalimat-kalimat yang exaggerated dan distortive

Yang ingin Yesus katakan adalah: bukan matamu yang menyesatkanmu; kalau itu yang terjadi, cungkillah. Bukan tanganmu yang menyesatkanmu; kalau itu penyebabnya, penggallah. Tapi hati dan pikiranmulah yang menjerumuskanmu. Lalu apa yang dapat kau lakukan untuk menghukumnya?

Dengan dibantu tulisan Sahat, sekarang saya berani membayangkan Allah yang berpolemik dalam Alquran. Dada saya mulai berdebur kencang. Mungkinkah Mun’im Sirry dan Sahat Siagian bertutur tentang 2 hal yang seolah berbeda tapi sebetulnya sama: Sang Sabda? Sabda yang berani-salah untuk menuntun kita menemukan bukan semata kebenaran tapi damai dan sejahtera.

Habitat Sabda tentulah gagasan. Kadang bermunculan secara liar, kadang bercengkerama dengan jenaka, kadang bertumburan untuk mengubah prasangka menjadi penerimaan. Semuanya bermula dari gairah, yang lalu mengada. Dan gairah itu adalah sekumpulan tanda tanya.

Tapi para jaksa berniat untuk membungkam tanda tanya. Sebentar lagi, berbasis fakta persidangan Ahok sebagai konsiderans, pemerintah Republik Indonesia mungkin menganggap perlu untuk menerbitkan peraturan yang menyatakan Alquran sebagai kitab terlarang bagi sebagian rakyat. Astaghfirullah.

Sebagai penutup, daripada saya menunggu dengan sia-sia ucapan Selamat berhari Natal dari Anda semua pada tanggal 25 Desember nanti, mending saya yang mengucapkannya: Selamat Menyambut Natal, apa pun agama Anda. Sebab bukankah yang sedang kita sambut adalah Sang Sabda?

Maka terimalah Kidung Natal saya. Sila klik Mari Pulihkan Dunia.

reff:
mari pulihkan dunia
dengan sepenuh jiwa
sepenuh hasrat
hingga semburat
cahaya berpendar di s'k'lilingmu

mari getarkan cinta
dengan keringat kerja
mari ucapkan,
juga lakukan
hingga kau rebah

1/
ayunkan langkah kakimu
gerakkan juga bahumu
kita muliakan bumi
dalam sebuah guci
untai kata dan nada
tarian bernama cinta ==> reff

2/
kepada m’reka yang kalah
tarian kita bersembah
kita kabarkan warta
bahwa surga t’lah sunyi
s’bab Tuhan ada di bumi
menari bersama kita ==> reff

3/
satu tepukan di bahu
adalah embun penyembuh
sungguh tak ada kubu
cuma hasrat merindu
Tuhan melompat riang
bersama kita berdendang ==>reff