Bahwa lakon Visa yang ditulis Goenawan Mohamad dipentaskan pada Juli 2016, usai konvensi Partai Republik dan Demokrat di Cleveland dan Philadelphia, Amerika Serikat, beberapa hari lalu, mungkin hanya kebetulan saja.

Tetapi menonton lakon ini pada situasi sekarang jelas menambahkan pengertian yang berbeda, sekurang-kurangnya pada diri saya, mengenai pementasan ini. Andai lakon ini dipentaskan di bulan dan tahun yang lain, tentu akan membawa pengertian yang berbeda bagi saya.

Kata “saya” penting diberikan tekanan di sini. Pengalaman saya sebagai penonton jelas berbeda dengan orang-orang lain. Mereka yang tak terlalu peduli dengan peristiwa terakhir di Amerika Serikat pada minggu-minggu ini, mungkin akan menonton lakon ini dengan “horison hermeneutis” yang berbeda. Mereka mungkin lebih membaca lakon ini sebagai semacam alegori tentang Indonesia, ketimbang tentang Amerika.

Saya membaca dengan cara lain: lakon ini, secara tak langsung, adalah alegori mengenai Amerika. Lakon ini adalah sebuah percakapan tentang rasa waswas yang lahir dari situasi ketidakpastian – situasi sosial-politik yang hari-hari ini memang sedang meliputi bangsa Amerika. Dengan cemas bangsa ini sedang menunggu sesuatu yang susah dipastikan: Siapakah pemenang pada pemilu presiden bulan November mendatang – Donald Trump atau Hillary Clinton.

Siapa yang menang di antara dua sosok ini akan menentukan secara signifikan gambar Amerika di masa mendatang. Bangsa Amerika menanti dalam ketidakpastian sesuatu yang merupakan “game changer” dalam kehidupan kebangsaan mereka. Poll saat ini menunjukkan bahwa Trump dan Hillary memiliki dukungan elektoral yang nyaris sama kuat.

Situasi ini mirip dengan keadaan orang-orang yang sedang menunggu visa di sebuah kantor kedutaan asing. Ada rasa ketidakpastian yang akut dalam dua situasi itu. Bangsa Amerika benar-benar tidak tahu saat ini siapa yang akan menang dalam pemilu mendatang.

Orang-orang yang mengurus visa di Konsulat Kedutaan Amerika seperti digambarkan oleh lakon ini juga tak tahu dengan pasti: apakah mereka akan memperoleh visa atau tidak. Dalam dua situasi itu, ada suasana murung dan kecemasan yang tak bisa disembunyikan. Lakon ini memang lakon yang cemas, tetapi juga sekaligus komis, lucu.

Mereka yang pernah mengurus visa Amerika Serikat pada tahun-tahun setelah peristiwa 9/11 akan tahu benar bahwa itu bukan pengalaman yang menyenangkan. Terutama mereka dengan nama yang berbau-bau Arab. Perasaan was-was begitu akut: dapat visa atau tidak.

Pengalaman serupa juga kita rasakan bahkan beberapa meter sebelum melangkah ke tanah Amerika, pada saat kita berdiri di depan meja pegawai imigrasi. Entah di New York, Chicago atau tempat-tempat lain yang menjadi “point of entry”.

Saat sudah berada di konter imigrasi pun, kita tak yakin benar, apakah kita bisa masuk ke negeri itu atau tidak. Sejumlah orang harus menunggu berjam-jam, karena di-single out untuk menjalani “interogasi” yang menjengkelkan, hanya karena paspornya mengandung nama Ahmad, Abdullah, Ali, atau Mustafa. 

Tetapi saya jelas berbohong jika tak mengatakan hal ini. Lakon Visa yang ditulis oleh Goenawan Mohamad, disutradarai oleh Iswadi Pratama, dan dipentaskan oleh Teater Satu Bandar Lampung dan Kelas Akting Salihara di Teater Salihara pada 29-30/7/2016 ini bukanlah lakon yang dengan mudah bisa diringkaskan dalam sebuah ulasan yang definitif.

Ulasan saya di atas seolah-olah mengesankan bawa lakon ini mudah ditafsirkan, dijelaskan, diringkaskan, dan dipahami. Terus terang, saat keluar dari gedung teater Salihara, saya diliputi oleh ketidakpastian tentang apa yang sesungguhnya mau dikatakan oleh lakon ini.

Tema tentang ketidakpastian, penungguan, keragu-raguan, kecemasan –situasi-situasi yang juga mengandung dimensi komedis-nya sendiri—jelas sangat kuat mewarnai lakon ini. Tetapi apa yang sesungguhnya mau dikatakan oleh lakon ini tidak bisa dengan mudah dirumuskan.

Pertama-tama, ini jelas lakon yang (istilah saya sendiri; saya tak yakin tepat atau tidak) “non-naratif”. Maksud saya: ini bukan lakon yang mirip dengan sebuah novel atau roman yang mengandung plot penuh: ada masalah, ada konflik, ada resolusi, ada akhir yang sedih atau menyenangkan.

Lakon Visa ini lebih mirip sebuah lukisan abstrak yang hanya memanjakan mata kita dengan hamparan ruang kanvas, dengan warna-warna yang tak membentuk sosok atau bentuk yang terang. 

Di hadapan lukisan semacam ini, kita tidak sedang melihat sebuah sosok “naratif” yang jelas, melainkan hanya hamparan warna yang secara serentak memenuhi ruang, dan memaksa kita untuk memberi pengertian sendiri pada “kegelapan” yang terhampar di depan kita.

Lakon ini dibuka dengan hamparan orang-orang yang bergerak menuju ke Kantor Konsulat Amerika. Mungkin di Jakarta, mungkin di Surabaya. Mereka berjalan dengan pelan, menggambarkan rasa masygul yang menghantui mereka. Melalui hand-phone masing-masing, mereka sibuk dengan percakapan yang kurang jelas – dengan siapa, tentang apa.

Ini pemandangan yang kerap kita lihat di sudut manapun di Indonesia saat ini – orang-orang serentak berbicara melalui hp, tanpa ada koneksi dan komunikasi antara satu dengan yang lain. Mirip hamparan warna dalam lukisan abstrak: tanpa sosok yang dominan, tanpa “tema” pembicaraan yang jelas. Di pembukaan lakon ini, kita disuguhi pemandangan solipsisme sosial.

Apakah ini semua menggaungkan tendensi dominan dalam seni modernisme yang “ikonoklastik” atau menghancurkan koherensi dan totalitas, saya kurang tahu. Yang jelas, tak ada koherensi atau totalitas dalam lakon ini. Karena itu, amat susah kita memastikan apa  yang hendak dikatakannya. Atau mungkin kita sedang tersesat ke lorong yang keliru jika bertanya tentang apa yang mau ia katakan?


Di tengah-tengah penungguan itulah, seluruh lakon ini beroperasi dan “berkisah”.Tetapi lakon ini tak ingin membangun kisah utuh tentang orang-orang yang menunggu visa. Tak ada narasi yang lengkap dalam lakon ini.

Yang kita lihat hanyalah “situasi sporadik” dari masing-masing individu yang sedang menunggu. Antara mereka tak ada kaitan yang koheren. Mereka memang saling bercakap-cakap satu dengan yang lain, tetapi itu bukanlah percakapan “diskursif” yang berujung pada sebuah kesimpulan. 

Lagi-lagi, metafor lukisan abstrak sangat membantu saya untuk memahami pemandangan ini. Orang-orang yang menunggu visa itu tidak membentuk cerita yang utuh. Masing-masing adalah individu dengan pengalaman privat yang terisolasi satu dari yang lain, seperti hamburan warna tak bersosok dalam lukisan-lukisan non-figuratif.

Meski tak ada kisah utuh, dalam lakon ini kita disuguhi sejumlah individu yang membawa sejarah dan kisahnya msing-masing. Ada penunggu yang gagu, susah berbicara dengan normal. Mungkin karena pengalama traumatik di masa lampau, terkait dengan pembantaian PKI di Bali pada 60an.

Ada penunggu, seorang perempuan, dengan latar budaya Jawa yang kuat, yang hendak menengok cucunya di Honolulu. Ada penunggu lain, seorang pria, berlatar etnik Cina, yang gemar sekali menyitir amsal, peribahasa dan kutipan (mengingatkan saya pada masyarakat Amerika yang menggemari “quotes” dengan pelbagai jenisnya; masyarakat Amerika, kita tahu, begitu “addicted to quotes and sound bites”.)

Ada penunggu lain, sepasang suami-isteri, yang sudah agak tua. Sang suami gemar mengucapkan puisi, sebagian dalam bahasa Inggris. Mereka saya bayangkan sebagai Marno dan Jane, dua sosok dalam “Seribu Kunang-Kunang di Manhattan”, cerpen klasik Umar Kayam. Hanya saja mereka adalah Marno dan Jane yang sudah mulai menua. Atau mereka adalah suami-isteri pada umumnya yang sedang menunggu visa saja. Kisah personal mereka, dalam lakon ini, kurang begitu jelas. Juga tak terlalu penting.

Ada pula sosok yang lucu, selalu bergerak serempak, mirip pesenam koreografi. Siapa pun yang pernah membaca kisah petualangan Tin Tin, sudah pasti akan mengaitkan dua sosok ini dengan Thompson dan Thompsons. 

Sosok lucu yang lain adalah seorang laki-laki, pemain sulap (dia memeragakan meja yang bisa terbang dan kertas koran yang setelah ia robek tiba-tiba menjadi utuh kembali). Kehadirannya mencairkan suasana tegang di ruang tunggu konsulat.

Ada sosok laki-laki yang “effeminate”, keperempuan-perempuanan, yang tampaknya (mungkin saya salah) berlatar etnik Minang. Saya tak tahu kenapa GM (begitu Goenawam Mohamad kerap dipanggil di lingkungan terdekatnya) memilih sosok semacam ini dari etnik Minang. Ini jelas bisa mengundang pelbagai tafsiran yang menarik. Mungkin semacam “counter-narrative” terhadap citra keminangan yang identik dengan corak Islam yang ketat dan seragam?

Ada sosok-sosok lain yang kurang jelas siapa mereka. Siapakah yang peduli dengan identitas para penunggu visa? Dan apa perlunya mengetahui identitas mereka? Di ruang konsulat, setiap orang hanyalah penunggu saja, anonim. Satu-satunya identitas mereka, mungkin, hanyalah nomor urut antrian. 

Salah seorang penunggu, lelaki muda, dengan hand-phone yang selalu mengalami masalah dengan koneksi yang selalu terputus-putus, bahkan bingung saat harus mengisi formulir pendaftaran visa: di mana dan kapan dia lahir. Ia bahkan harus bertanya kepada sekretarisnya di kantor melalui sms.

Akhirnya, menonton lakon ini tak bisa lain kecuali mengingatkan saya pada esei-esei Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir. Kita tahu, esei-esei GM selalu bergulat dengan tema-tema ini: ketidakpastian, keragu-raguan, penolakan segala bentuk tendensi ke arah totalitas dan struktur yang padat dan keras. 

Dengan kata lain, ada tendensi “ikonoklasme” dalam tulisan-tulisan GM, meskipun tidak dikatakan dengan nada heroik dan kepalan tangan. Keraguan GM selalu cenderung ikonoklastik, menghancurkan pretensi atas kepastian yang ada pada pikiran-pikiran “totalistik”. 

Saya selalu menjumpai “authorial opponent” pada esei-esei GM melalui sosok-sosok semacamTakdir Alisyahbana – tokoh yang mewakili tendensi modernisme dalam debat kebudayaan Indonesia di tahun 30an. Yang saya maksud dengan “authorial enemy” di sini adalah pengarang lain yang dibayangkan sebagai “lawan debat”. 

Setiap pengarang biasanya mengandaikan seorang “authorial opponent” di seberang sana sebagai lawan debat imajiner. Lawan debat GM adalah sosok-sosok seperti Sutan Takdir Alisjahbana, Sayyid Qutb, seni propaganda, dsb.

Sementara simpati GM cenderung terarah pada sosok-sosok “janggal” yang melawan tendensi totalitas; sosok-sosok semacam Otto Dix, Max Ernst, dan Max Beckmannyang di era Nazi dulu diejek oleh Hitler sebagai ikon seni bobrok (entartete Kunst).

Dalam lakon Visa ini, kita masih bisa mendeteksi pergulatan GM dengan sesuatu yang bersifat totalistik. Situasi orang-orang menunggu visa tampaknya hendak dijadikan oleh GM sebagai alegori atas situasi ketidakpastian, ambiguitas, ekuivokalitas yang bahkan masih menghantui setiap bentuk-bentuk (structures) definitif yang diandaikan solid. 

Amerika yang bisa dipandang sebagai ikon dari konstruksi besar yang definitif dan solid (dalam penggambaran Fukuyama: sejarah berakhir di Amerika Serikat dalam bentuk yang sudah final – kapitalisme dan demokrasi liberal!); ya, Amerika yang solid pun menghadapi ambiguitas dan ketidakpastian pula.

Dalam salah satu adegan di lakon ini, Amerika digambarkan dengan sebuah satir: struktur besar yang secara arogan memandang dirinya sebagai “pemberi visa”, sementara orang-orang yang menunggu visa hanyalah sosok-sosok pasif yang menunggu belas kasih dari pejabat kedutaan. 

Tetapi Amerika sendiri tak terlalu yakin dengan “kesolidan” dirinya sendiri. Lakon ini menggambarkannya melalui pengumuman pejabat kedutaan via loud-speaker yang agak kurang beres, bahkan nyaris rusak, dengan suara-suara kresek-kresek.

Seluruh lakon ini, tampaknya, memang sindiran atas Amerika yang merasa pasti tentang identitas dirinya yang kokoh. Lakon ini sepertinya hendak mengatakan: America is not that solid. Melalui mulut salah satu penunggu, lakon ini menggambarkan Detroit sebagai kota hantu yang sedang tersuruk ke dalam krisis ekonomi. Seperti para penunggu visa di ruang tunggu konsulat itu, Amerika juga berada dalam limbo ketidakpastian. Juga kecemasan.

Hanya satu hal saja yang membuat saya agak sedikit terobati dari perasaan ketidakpastian karena lakon ini: pesta ulang tahun GM yang berlangsung di roof-top teater Salihara, setelah pementasan ini usai. Selamat ulang tahun, Mas Goen!***