Di punggung kasur, Abdun telentang. Menerawang cahaya purnama yang menerobos lewat sebuah genting kaca. Temaram dalam kamar. Istrinya telah jatuh dalam tidur. Mungkin lelah yang berat. Sepanjang siang diombang-ambingkan oleh tingkah-polah dan perilaku tak terduga seorang balita perempuan sepuluh bulanan yang kini tengah pulas di sampingnya. 

Sejenak dilihatnya anak pertamanya itu. Mimik wajahnya melukis senyum. Apakah dalam tidurnya, seorang balita juga punya mimpi?! pikirnya.

Abdun memeriksa diri. Tak satu pun peristiwa tersangkut di dinding ingatannya saat balita. Termasuk sebuah kisah yang didengarnya beberapa jam yang lalu. Cerita dari laki-laki tua, saudara jauh bapaknya yang datang berkunjung. Konon, dia pernah basah. Dipipisi ketika menggendong Abdun. 

Setelah bercerita, laki-laki tua itu tertawa. Sementara Abdun, kecut dalam senyumnya. Pikirannya dipenuhi tanda tanya. 

Ya, peristiwa apa yang diingat oleh anak manusia saat balita?! Tak satu pun yang mengingatnya. Kecuali penggal demi penggal yang diceritakan oleh para orang tua saat jumpa. Lantas, apakah anak manusia akan menyanggahnya dengan cerita lain versi dirinya sendiri?! Tak seorang pun yang akan nekat melakukannya. Karena pasti, itu adalah dusta dan mengada-ada. 

Barangkali inilah salah satu kondisi absurd dari hidup manusia. Terpasak dalam kondisi yang entah dan tak berdaya. Mungkin hanya senyum yang bisa jadi penawarnya. Maka, Abdun pun berusaha tersenyum. Sepanjang dia tahu, tak sepantasnya juga seorang tua disanggah dalam kisahnya. Karena hanya itu, sesuatu yang berharga dan dimiliki terkait waktu manusia di dunia. 

Abdun kembali menerawang cahaya purnama. Teringat sodokan dan jendulan di tangannya saat meletakkan tangan di perut istrinya. Gerak anggota tubuh anak perempuannya ketika dalam kandungan. Sejenak pikirannya pun tergerak.

Dari manakah anak manusia mengetahui keberadaannya saat dalam rahim ibu, jika dia saja baru bisa mengetahui masa kecilnya—balita dan seterusnya—dari penggal-penggal kisah yang diceritakan orang lain?! Bukankah telah ada kehidupan yang dijalaninya ketika dalam rahim?!  

Tidak ada manusia yang tahu. Bantuan teknologi pun, USG misalnya, tak mampu mengungkap kejadian sebenarnya yang dialami bayi yang akan lahir ke dunia. Lantas, jika diungkapkan sebuah peristiwa, bahwa telah terjadi sesuatu di dalam rahim—juga sebelumnya—, bagaimana manusia akan menyanggahnya?! 

Peristiwa yang diungkapkan dan bersumber dari wahyu inilah yang dikemukakan Alang Khoiruddin, sebagai pintu masuk dalam puisi berjudul “Makrifat Purba”, pada buku Kabar Debu, antologi kostela, Lamongan: Kostela bekerja sama dengan Pustaka Ilalang, 2011, hlm. 124. 

sebelum ada sesuatu
Tuhan telah bercakap dengan begitu salju
‘Aku adalah kabar bagimu’
            Lantas aku
serupa pecinta yang gemulai
membikin senyum di dataran pipi
                                                          merona
            tanda syahadah atasmu
                          Kemudian
saat rahim membuka kelopaknya
aku menjejaki lembah demi lembah
aku menyusuri sepi demi sepi
berharap saut mesra denganmu
               Adakah terlalu lampau
semesta makrifat purba ini
sampai pengetahuan atasmu
terjajah 

Umumnya, makrifat dipahami sebagai pengenalan. Lebih jauh dari sekadar tahu. Kalau pun itu pengetahuan, tarafnya utuh. Bukan tahu-tahuan, serta mengarah pada pengenalan. Sebuah adagium pun menyebutkan, “tak kenal maka tak sayang". Tak kenal, maka biasa saja dan “tak ada rasa”.

Barangkali inilah yang hendak diungkapkan Alang, bahwa tidak hanya pengenalan dan penyaksian, tetapi “ada kondisi rasa”—(begitu salju)— dalam perjanjian antara Tuhan dengan ruh-ruh sebelum diturunkan ke alam jasad, sebagaimana dijelaskan al-Qur’an. 

Tuhan berfirman: “Alastu birabbikum?” —Bukankah Aku ini Tuhan kalian?— 

Dan ruh-ruh menjawab: “Qaaluu balaa, syahidna.” —Benar, Engkau adalah Tuhan kami—. (QS. al-A’raf: 172)

Pada episode di atas, “kondisi rasa” itu digambarkan …serupa pecinta yang gemulai/ membikin senyum di dataran pipi/ merona/ tanda syahadah atasmu// Barangkali, kondisi rasa yang tenang dan damai, sebagaimana yang juga digambarkan dalam, “Hai, jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridlai-Nya.” (QS. Al-Fajr: 27-28), dengan level yang berbeda, yaitu awal perjalanan dan akhir perjalanan bersama jasad. 

Kemudian, inilah yang dialami “aku” dalam perjalanannya di dunia. Seperti pengembara yang …menjejaki lembah demi lembah…/ …menyusuri sepi demi sepi/ dengan harapan dapat merasakan “kondisi rasa” itu, yakni …saut mesra denganmu//

Keberadaan manusia bersama jasad dan alam materi, menempatkannya pada kondisi dan upaya pencarian dan pengenalan lagi tentang-Nya, dengan penuh kesadaran. Namun, juga kerap menjadikan manusia lebih terjerumus dalam kebutaan dan perilaku membabi-buta. Bukan jiwa yang tenang, melainkan terjajah oleh nafsu manusia.

Lantas, Adakah terlalu lampau/ semesta makrifat purba ini/ sampai pengetahuan atasmu/ terjajah//, tampak lebih merupakan pernyataan retoris, tidak lain untuk menunjukkan bahwa hal pertama yang harus dimiliki oleh manusia sebagai hamba adalah mengenal Tuhannya.