Alam dan lingkungan sekitar (bumi)  adalah sumber kehidupan terbesar dalam berlangsungnya  hidup manusia. Dengan keberadaan makanan, bahan sandang dan bangunan yang dihasilkannya membantu manusia dalam menjalankan hidup dan membangun tempat tinggal. Dari segala makhluk penghuni bumi ini, manusia adalah makhluk yang paling banyak memanfaatkan bumi yang merupakan ibu yang telah menyusui dan melindungi semua makhluk yang ada di pangkuannya.

            Bumi adalah rumah bagi makhluk hidup terutama manusia, sehingga yang harus dilakukan adalah merawatnya. Namun kesadaran tersebut hanya ada dalam sebagiannya saja. Jika kerusakan menimpa bumi, tidak ada lagi tempat yang bisa dijadikan wadah berkembang biak bagi manusia. Karena bumi adalah satu-satunya tempat yang bisa di tempati oleh makhluk hidup sebagai wadah untuk memperbanyak keturunan dan memperluas ilmu pengetahuan.

            Kerusakan yang terjadi akibat ulah manusia yang telah melakukan eko-anarkis dalam berbagai bentuk seperti aksi deforestasi hutan tropis, penambangan liar dan alih fungsi lahan menjadi non-pertanian. Padahal sejak sekolah dasar kita telah di ajarkan bahwa salah satu sumber daya alam adalah sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui.

            Contoh sumber daya alam yang tidak bisa diperbaharui seperti emas, batu bara, minyak bumi, perak, dan besi. Sumber daya alam ini  di eksplorasi terus menerus dan secara besar-besaran oleh manusia sehingga generasi selanjutnya tidak akan bisa menikmati sumberdaya ini. Dan dampak lain yang akan dirasakan adalah perubahan iklim yang tidak menentu dan pemanasan global.

            Kesadaran terhadap lingkungan baru disadari pada akhir abad 21 dengan munculnya berbagai gerakan dan organisasi lingkungan hidup. Selain organisasi dan gerakan juga bermunculan barang-barang recycled sehingga menjadi gaya hidup dan anak-anak pun sejak dini di ajarkan untuk mencintai lingkungan hidup dengan menyediakan wisata alam agar lebih mengenal lingkungan, menyayangi binatang dan mengetahui tumbuhan-tumbuhan langka yang perlu di lindungi.

            Namun kesadaran akan isu lingkungan berkaitan erat dengan perempuan masih sangat minim. Padahal sering kita jumpai, dalam puisi, pantun, sajak dan karya sastra lainnya banyak yang mengandaikan perempuan dengan bumi, bunga, bulan, malam dan padi. Metapora dari kata-kata tersebut banyak ditafsirkan dalam makna yang negatif hingga melemahkan keberadaan perempuan. Karena alam adalah benda, barang, lahan yang dikuasai dan dieksplorasi manusia, bahkan di eksploitas.

            Hingga implikasi dari analagi perempuan dengan alam maka perempuan juga menjadi yang di kuasai oleh manusia lain, terutama oleh kaum laki-laki. Di dalam buku yang di tulis oleh Zainal Abidin yang berjudul filsafat manusia’memahami melalui filsafat’ menyatakan bahwa kejahatan yang sebenarnya dilakukan oleh kaum perempuan ketika pengetahuan telah sampai pada tiadanya kehendak, pesona yang bodoh dari perempuan menggoda lagi laki-laki untuk beranak-pinak. 

Anak-anak muda tidak cukup cerdas untuk melihat betapa singkatnya pesona perempuan tersebut, dan ketika akal sehat mulai berfungsi lagi,ia sudah lama terperosok.

            Karena itulah perempuan perlu di kuasai dan di atur. Yang terjadi di lingkungan rumah tangga, sebaliknya. Dimana pengaturan gerak gerik, tingkah laku dan kerja perempuan adalah akan berdampak negatif terhadap lingkungan sekitar. Mengingat perempuan adalah manusia yang sering berhubungan langsung dengan lingkungan dan alam.

Sebagai upaya pelestarian lingkungan, perlu adanya pengetahuan yang disebarluaskan kepada ibu-ibu rumah tangga. Contohnya dengan memberikan arahan dan sosialisasi mengenai dampak lingkungan yang terjadi akibat dari segala macam kosmetik, parfum, dan juga berbagai barang yang tidak mudah untuk di musnahkan seperti plastik, timah dan lain sebagainya.

Yang merasakan perubahan dampak di alam adalah perempuan karena hubungan yag telah dijalin sejak awal diantara keduanya. Saling memberi dan berbagi menjadikan alam akan terasa lebih nyaman, sejuk dan segar untuk dirasakan.Pelestarian ini sering digunakan oleh perempuan dan anak yang tinggal di pinggiran dan terisolasi oleh hiruk pikuk ibu kota.

Mereka (perempuan) dapat melakukan bermacam tindakan untuk pelestarian itu. Contohnya yang terjadi Di Papua ada seorang perempuan bernama Yosepha Alomang,  Koordinator lembaga Hak Asasi Manusia Amungme, Papua. 

Banyak perjuangannya dalam membela hak asasi kaum perempuan, yang terkait dengan lingkungan adalah ketika pada tahun 1992 dia pernah menggerakkan ratusan kaum perempuan Amungme untuk membuat tungku api besar-besaran di bandara Timika .

Aksi ini dilakukan adalah merupakan bentuk protes atas perampasan tanah dan kebun sayur masyarakat Timika oleh PT Freeport yang berkepentingan membangun sejumlah gedung dan hotel di daerah Timika. Dari kasus yang tidak terselesaikan selama bertahun-tahun.

Di Kalimantan yang memiliki hutan hujan yang sangat luas dan masih bisa dikatakan asri dari kepulauan yang lain pun, anggota adat yang tinggal di pedalaman atas di daerah dataran tinggi Meratus. Masih melakukan kegiatan ritual adat yang di yakini masih mampu menjaga kelestarian hidup alam.

Ritual yang dilakukan ini pun pasti akan selalu melibatkan perempuan baik itu dalam inti acara peradatan atau pun dalam tahap persiapan ritual adat. Untuk itu, sistem yang mendriskriminasikan perempuan (Patriarki) sudah saatnya tak di kenal kan lagi kepada anak cucu bangsa di masa Millenial ini. Sebab peran yang di emban oleh perempuan dan laki-laki bisa dikatakan sama rata, dan akan sangat ringan jika saling membantu tanpa pandang gender dan jenis kelamin.