Kualitas Nabi Muhammad dalam Islam sangatlah istimewa baik secara pribadi maupun sosial. Diantara kualitas pribadi yang mampu diperolehnya adalah pribadi yang mulia, jujur, pertanggung jawab, cerdas, bahkan kemuliaan Nabi mendapatkan pujian langsung dari Allah yang diabadikan dalam al-Qur’an, wainnaka la’alaa khuluqin adziim (sesungguhnya engkau memiliki budi pekerti yang agung). Hal ini tidaklah aneh, mengingat Nabi di utus adalah untuk menyempurnakan akhlak, “innamaa bu’itstu li utammima makaarim al-akhlak (sesungguhnya saya diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang terpuji). 

Sedangkan kualitas kolektif dan sosial adalah kemampuan nabi untuk menyatukan bangsa yang sebelumnya terpecah belah karena fanatisme suku dan golongan menjadi umat yang bersatu “ummatan wahidatan”, membangun peradaban baru yang lebih maju sebagaimana di perhatikan dalam peradaban Madinah- selanjutnya karena kualitas dan kesuksesan ini praktis para penduduk madinah menjadi rujukan dalam memahami sebuah ajaran agama dalam Madzhab Malikiyah.

Pencapaiaan kualitas tersebut adalah sebab kenapa Muhammad bin Abdillah menjadi uswah al-hasanah (suri tauladan yang baik) dan cerminan umat islam dalam beragama. Kompleksitas kualitas pada diri Muhammad ini adalah sebuah pengakuan bahwa memang beliau di ciptakan sebagai manusia yang sempurna (al-insan al-kamil). Bahkan apa yang beliau katakan, perbuat menjadi refrensi utama dalam memahami maksud al-Qur’an (al-Qur’an yufassaru bi al-sunnah). Lebih lanjut, segala hal yang bersumber dari beliau adalah wahyu Tuhan, karena segala yang yang beliau latakan, lakukan adalah bukan atas dasar nafsu, keinginan personal, egoisme (wamaa yanthiqu ‘an al-hawaa, inhuwa illa wahyu yuhaa). Semua keputusan beliau adalah untuk kepentingan khalayak umum.

Dari sini dapat kita pahami bahwa al-Qur’an hanya memberikan gagasan tentang aturan dalam kehidupan yang masih butuh manusia yang berjuang untuk mengaplikasikan ajaran dan aturan yang tercantum dalam kitab suci ini. Usaha mengaplikasikan inilah yang akhirnya menuntut manusia untuk mengetahui maksud dan objek tujuan yang di buata Tuhan. Selanjutnya berkembanglah tafsir sebagai wujud upaya untuk mengurai maksud Tuhan dengan menjadikan kumpulan firmannya sebagai patokan dan buku babon dalam memahami agama.

Tafsir dalam rekaman Islah Gusmian dapat di klasifikasi menjadi dua, yakni, tekstualis dan kontekstualis. Kedua bentuk tafsir ini, konteks sejarah dan kronologi turunnya sebuah ayat tidak bisa di sampingkan. Hanya ada sedikat perbedaan diantara keduanya, yaitu, kalau yang pertama al-Qur’n di pahami sebagaimana ayat itu turun, dalam artian yang menjadi objek kajian dalam interpretasinya adalah budaya bangsa tertentu, Arab. Berbeda dengan model yang kedua, dimana konteks itu adalah konteks di mana penafsir hidup dan berdiam diri. 

Menurut penulis, kedua bentuk tersebut hanyalah bagai memandang sesuatu dengan satu mata, dalam artian keduanya adalah dua sistematika yang semestinya saling melengkapi tanpa perlu dipertentangkan. Karena kita memahami konteks dimana ayat diturunkan bertujuan dan sangat membantu kita untuk mengurai apa yang di kehendaki al-Qur’an dengan susunan dan bentuk prosa katanya sering ambigu, global, bahkan sangat diperlukan dalam rangka mengetahui gradualitas pemberlakuan sebuah aturan (syariah). 

Disinilah pentingnya gagasan yang di tawarkan oleh Fazlur Rahman yang disebut dengan double movement (gerak ganda) dimana kita memahami konteks di mana sebuah ayat turun untuk memahami maksud ayat tersebut kemudian setelah pemahaman itu digapai barulah kita kontekstualisasi dengan ruang dan waktu dimana sang penafsir hidup. Inilah yang menentukan gagasan al-Qur’an akan selalu hidup dalam kondisi, ruang dan waktu yang berbeda-beda (al-Qur’an shalih li kulli zaman wa al-makan).

Kepastian gagasan ini adalah karena konteks tertentu dapat mengakibatkan dan melahirkan penafsiran yang berbeda dengan konteks lainnya. Cara pandang dalam membaca-yang menurut Nadirsyah Hosen membaca adalah seni- karena diantaranya dipengaruhi konteks yang mempengaruhinya. 

Disamping itu, semangat al-Qur’an sebagai motoring spirit untuk melakukan pembebasan dari sikap negatif yang bersemayam dalam diri manusia tetap terjaga. Bahkan gagasan ini adalah upaya mengembalikan al-Qur’an pada fungsi dan khittah-nya. Al-Qur’an banyak di manfaatkan untuk kepentingan semu dan sementara, seperti politik, ekonomi kapitalisme dll.

Kesimpulannya, kesadaran tentang semangat kontekstualitas al-Qur'an dirasakan semakin langka karena terlalu menitik beratkan dalam konsentrasi -meminjam istilah Islah Gusmian- hermeneutik klasik sehingga wajah tafsir al-Qur'an terbatas sering dirasa kontradiksi dengan konteks kekinian khususnya keindonesiaan. Disamping itu, ke-al-insan al-kamil pada diri Muhammad terlalu membius kesadaran kita hingga terhipnotis yang akibatnya penafsiran al-Qur'an tidak pernah ter-refresh. Semangat Nabi yang selalu mengupayakan membaca al-Qur’an untuk menjawab dan memberi solusi problematika yang beliau dan masyarakat Arab hadapi semakin kering. Inilah yang menjadikan al-Qur’an semakin jauh dari khittahnya, karena hanya menjadi ajaran kaku. Masihkah al-Qur'am diperjuangkan agar selalu shalih li kulli zaman wa al-makan?

Akhirnya akhirul kalam adalah kalimat yang penulis sampaikan dengan harapan billahi taufiq wa al-hidayah selalu menyertai diri kita yang endingnya wallahu a'lam bi al-shawab adalah kalimat yang semestinya kita akui.