Deru knalpot yang meredam dan bunyi klakson dari standar peyangga motor, selalu memunculkan pertanyaan: Siapa yang datang? Seakan ada orang yang Aku tunggu, padahal tidak sama sekali.

Aku hidup di perantauan, jauh dari sanak saudara juga teman. Tapi kenapa, perasaan itu selalu mengusikku. Selalu Aku bertanya, dia pasti datang. Betapa bodohnya Aku, bertanya siapa yang datang. Memang Aku memiliki siapa? Bukannya kesepian adalah satu-satunya pasangan atau teman.

Pagi itu Aku menunggu, ya menunggu. Hidupku selalu dipenuhi dengan penantian. Aku menunggu dia datang, datang  membawa secarik kertas. Seperti nenekku yang setia menunggu, menunggu kematian tepatnya. Sepi adalah pasangannya, dan sesekali suara dari seberang menjadi penghiburnya. Ayat-ayat Ia lantunkan sebagai penenang kegelisahan.

Pagi agak siang, terik matahari sudah mulai menyengat. Kota industri membuat panas lebih kuat menancap, masuk ke pori-pori membawa kehangatan lama-kelamaan jadi panas membakar. Aku menunggunya lagi di lain hari, kemarin ia tak datang, hanya janjinya yang sampai pada ingatan. Sudah berapa jam? Ah jangan tanya jam, mungkin lebih tepatnya kau bertanya berapa hari, ya berapa hari Aku telah menunggu.

“Jam kelihatannya tak suka menunggu, ia terus saja berputar, sesekali berhenti dong, temani Aku menunggu,” gumamku dalam hati.

“Sudah berapa hari? Lama ya... tanya dan pernyataannya.

“Silahkan dihitung tanggalnya,” canda dalam seriusku dengan sedikit memalingkan muka.

“Aduh... lama sekali ya,” serius dalam candanya dengan menyungkurkan kepalanya.

“Anggap saja sebentar, hitungnya pakai hitungan akhirat, biar tidak terasa lama. Hitungan akhirat kan 1 tahun di bumi sama dengan 1 hari di akhirat. Jadi kalau cuma beberapa hari, mungkin di akhirat cuma beberapa menit saja,” masih canda dalam seriusku.

“Maaf ya... gimana ya, susah. Bingung juga cari solusinya,” keluhnya tak berhenti.

On time hari ini musuh bagi pemalas, mungkin juga esok dan selamanya. Alasan adalah benteng terbaik untuk menolak justificate, biar label pemalas tak bersarang di hati dan pikirannya.

Aku menunggu dengan sabar, di atas sini
Melayang-layang
Tergoyang angin, menantikan tubuh itu

Tiba-tiba saja nada itu bernyanyi di alam fikiranku. Mungkin itu gambaran penantian seseorang yang tak kunjung menemukan muaranya. Hanya menunggu, melayang-layang. Semuanya, pikiran, perasaan, kegelisahan melayang-layang menanti. Aku pernah mengemukakan pernyataan bahwa sabar ada batasnya, tapi dibantah oleh dia, sabar tidak ada batasnya, kita yang membatasi, katanya.

“Kapan kertas berisi tinta itu Kamu kumpulkan? Tanyaku dengan nada keras, sebab ia mulai menjauh dari pandangan.

“Sabtu besok, sekalian teman-teman kumpul,” jawabnya dengan keras.

Biasa, ya biasa saja Aku meresponnya. Perasaan ini mulai terlatih, terlatih untuk menunggu dan terlatih untuk tidak sakit hati. Telah menjadi kebiasaan bagi perasaan ini, kebiasaan stay cool ketika proses sosial berupa menunggu jadi jadwal. Suka pada kegiatan yang sering kita lakukan atau pada satu kegiatan adalah pilihan.

***

Sedikit non on time kedatanganku di hari sabtu. Ada niatan mencoba melatih kepribadian teman-teman komunitas, masihkah berjalan kegiatannya. Ini bukan tentang merasa, tapi tentang fakta. Sosial bisa dibaca geraknya melalui proses-proses sosial. Ternyata masih sama, tak ada tanggung jawab, ia menghilang dari pandangan, pandanganku dan teman-teman.

Perasaanku pun masih sama, stay cool, bahkan lebih. Sejak saat itu Aku  hobi menunggu dan inilah pilihanku, ketika menunggu adalah hal yang masih membosankan bagi selainku.

“Cak, sudah ketemu dengan Duwi?” tanya juniorku.

“Belum, Aku saja tidak tahu kalau Dia yang punya mobil,” jawabku sedikit meninggi.

“Duwi ya namanya, anak yang punya mobil itu,” tanyaku mencoba meyakinkan.

“Iya cak,” jawabnya santai.

“Suruh saja anaknya menghadap kepadaku,” pintaku.

“Oke cak,” balasnya pendek.

Sudah 24 jam sejak obrolan itu, tapi tetap kembali ke proses sosial tadi, menunggu. Lupa atau belum disampaikan kepada anaknya. Mengharuskan Aku menunggunya.

***

Paragraf demi paragraf telah Aku lewati, tombol demi tombol mengeluarkan suara berirama cetak-cetak, hp ku memang jadul. Kesibukanku hanya dua itu, membaca dan memainkan hp jadul, ketika duduk manis dalam penantian. Menunggu kedatangan dan kepastian. Jam terus berputar, lagi-lagi ia tak mau menemaniku menunggu.

“Apa Kamu tak mengenal cinta? Bukankah menunggu cinta adalah hal yang mengasyikkan. Bahkan Kamu akan rela meninggalkan segalanya, kesibukanmu, teman-temanmu juga keluargamu. Menunggu hari ini masih membosankan atau memang sudah benar-benar menjadi kesukaanmu? Kamu jangan berbohong kepada diri sendiri. Cerocosnya tak berhenti.

“Sudah jadi kesukaanku, dan inilah pilihanku. Memangnya Kamu tahu isi hatiku? Aku sudah memilih untuk menyukainya. Menunggu selalu ada untukku. Apa kamu tidak pernah mendengar pepatah, orang yang cinta akan kalah dengan orang yang selalu ada. Menunggu selalu ada untukku, jadi pantas saja Aku menyukainya.

Lagi pula Aku tak pernah mengenal cinta. Sudah berapa orang yang Aku tanya, apa itu cinta. Tak ada satu pun yang tahu tentang cinta, jadi  Aku kurang mempercayainya. Responsku tak kalah panjang.

“Kamu ini siapa? Seenaknya saja ikut campur urusan orang.” Tanyaku agak kesal

“Aku adalah dirimu,” jawabnya pelan.