Mataku mengerjap, terasa sayu dalam remangnya senja, aku mengucek-uceknya hingga berair. Rupanya kedua kornea mataku sedang lelah melamun di depan smartphone. Aku tahu hari ini penuh kepenatan. Sehingga aku bangkit dari katil (Opa, kakekku masih memakai istilah tua itu untuk menyebut dipan kecil), melonggarkan sendi dan otot malasku bersambung melempar smartphoneku bagai sampah –iya, itu memang seperti sampah. 

Aku menguap lagi, sembari menyapu pandang ke seluruh paviliun yang remang-remang hanya diterangi seberkas sinar mentari sore dari jendela bertingkap di sebelah mesin jahit Oma.

Tumpukan-tumpukan pakaian yang baru kering dijemur tampak bersiluet tertimpa cahaya matahari sore, teracak-acak oleh kedua kakiku yang menggeliat di tepian katil kecil ini. Sebuah ilham terbersit di kepalaku menyuruh untuk keluar menuju halaman rumah, memantau rona malu senja. 

Puas bersua, aku menyeberang jalan, berbalik ke belakang dan menampilkan muka seperti seorang ayah yang bangga melihat anaknya tumbuh besar demi menatap sebuah rumah tua besar di hadapanku.

Rumah tua ini terbilang antik. Dibangun sekitar sewindu sebelum era Orde Baru di sebuah wilayah tak bertuan berhias alang-alang, rerumputan tinggi, beringin, pepohonan galam dan tumbuhan lainnya. Tumbuhan-tumbuhan ini tak tinggal sendirian, mereka bersimbiosis menjelma menjadi tempat persembunyian teman-teman eksotisnya, berpuluh jenis serangga, kucing, kura-kura, bahkan ular. 

Mereka tumbuh rimbun dan liar seakan menunjukkan bahwa mereka juga jagoan di wilayah ini. Jika tak ada mereka, sudah pasti para binatang itu menjadi anak jalanan, tak punya rumah.

Malangnya, sekarang rumah itu malah diapit adik-adiknya, rumah-rumah baru nan modern yang ternyata lebih besar melebihi kakaknya. Ironisnya, mereka seperti membunuh kakak tertuanya itu secara perlahan, drainasenya tak keruan! Rumah-rumah baru itu dibangun tinggi tetapi tanpa tempat penyaluran air yang bagus. Sehingga rumah-rumah rendah seperti rumah Opa ini menjadi sasaran pembuangan. 

Namun, disinilah kiranya napas-napas pertamaku berhembus, sehingga aku selalu mencintainya walau bagaimanapun usangnya rumah bercat dominasi biru dan krem itu.  

…………..

Aku suka menguap. Entah itu menunjukkan betapa mengantuknya aku, atau sebagai "alarm" penanda kekurangan cairan, seperti yang sering kudengar di "kaset tua" ocehan Ayahku yang terulang-ulang.

…………..

Hari demi hari kulewati. Sejak pertama kali merasakan hangatnya senyum matahari, aku selalu suka berdiam di rumah tua itu. Hingga kini, setiap hari aku selalu berusaha menyempatkan diri mampir di rumah Opa sepulang dari kantor, walaupun sebenarnya aku sudah mempunyai istanaku sendiri yang masih sunyi tanpa permaisuri. 

Di sana pula, setiap hari aku selalu menguap, makin tumbuh akal sehatku semakin aku belajar untuk membuka mulut lebih luas dan melenguhkan ahh sebagai irama uapanku. Sehingga aku tiba di sebuah keadaan ketika seorang insan memiliki rasa iri, cemburu berapi dalam dirinya. Masih di masa kecil.

Pada awalnya aku bahagia memiliki teman hidup baru, seorang adik mungil cantik. Bangga aku berujar kesana kemari, “saya punya adik.” Minta difotokan om sewaktu bersenda gurau berpura-pura menegur sapa dengannya. Memang pura-pura, bukankah dia masih bayi? Dia tak paham apa-apa! Aku berpose ‘dadah’ dengan sebelah tangan terbungkus sarung tangan adikku, sebelahnya memeluk mesra bidadari mungil itu. Lucu sekali fotonya.

Minggu dan bulan berganti, aku kecil yang sedang belajar meniti tangga nalar rupanya memiliki kehendak-kehendak yang terbit begitu saja, alamiah. Kehendak untuk memiliki lebih, lebih disayangi, lebih diperhatikan, lebih dicintai, lebih segalanya membuatku "berimprovisasi" untuk sedikit bandel pada adik kecilku sendiri.

Suatu sore, adik kecilku melenggakkan kaki-kaki mungilnya diiring sorak-sorai bahagia Bunda dan tante-tanteku. Dia yang mulai mahir berjalan sedang melatih kebisaannya berkelok-kelok di antara pot-pot tanaman yang ditaruh Opa di ruang keluarga.

Sore itu pertama kalinya aku merasakan rasa cemburu yang bahkan pada saat itu aku tak tahu namanya muncul dan meronta-ronta dalam diriku. Aku marah dengan keadaan. Seketika itu pula entah mengapa aku menebaskan kakiku, melakukan tackling pada adik mungil cantikku hingga terjerembab sembari mengurai tangis. 

Sesuai akalku yang masih mungil, pastinya aku tahu Bundaku akan murka sehingga aku lari ke kamar Opa yang sedang kosong, bersembunyi di lorong kecil antara lemari tua dan ranjang yang baru tadi siangnya dibeli, takut omelan warga rumah.

Namun, ternyata "kreativitas" otak mungilku ini tak cukup untuk menyelamatkanku. Benar saja, sekejap kemudian Bunda muncul tiba-tiba dan mengusap kasar wajahku dengan telapak tangan bekas meremas cabai. Aku dilomboki, kalau dalam istilah keluargaku. Aku pun menangis sejadi-jadinya, menyandarkan diri ke dinding, berujung rebah dan banjir air mata, di satu sisi air mataku membanjir karena bekas cabai, di sisi lain aku menangisi kecemburuanku yang sia-sia, tak memancing simpati tante-tanteku maupun Bunda, dikacangin.

Bunda membiarkan saja aku terus tergeletak, mungkin Bunda pikir air mataku akan bermanfaat untuk membersihkan bercak-bercak keegoisanku yang terserak. Lelah menangis, perlahan akupun berhenti terisak-isak. Nanti Opa ikut-ikutan marah membawa-bawa "tongkat ajaib"nya, pikirku.

Selang beberapa saat kemudian, Bunda tersenyum dan menghampiriku, “sini mama mandiin yah,” ucap Bunda lembut. Akupun berdiri menggenggam tangan Bunda yang terulur, digandeng beranjak menuju kamar mandi. Di depan kamar mandi, Bunda menelanjangiku -­benar-benar telanjang bulat, kemudian serta merta ia melempar pakaian yang telah kutanggalkan ke dalam keranjang cucian. Kami melangkah masuk ke kamar mandi, masih diiringi sendatan-sendatan isakku.

Orang tua itu menyapu lembut bekas tangis dan lengketan sisa cabai di mukaku, terasa hangat oleh usapan lembut tangan penuh kasihnya yang memang mengusapi dengan air hangat, aku hanya tutup mulut, bisu tanpa kata. “Seharusnya kakak ga boleh gitu sama adek, kan katanya sayang? Kakak ga perlu marah-marah, ga perlu ngiri. Mama itu sayang kalian semua kok, mama gak ada ngebeda-bedain. Sayangnya mama buat kalian itu sama.

Kata-kata itu meluncur saja dari lisan Bunda, masuk dan menjalar ke dalam dadaku, seketika menghangatkan seluruh tubuh. Dalam sekejap aku merasakan ada sesuatu dalam diriku yang seperti akan menguap. 

Begitu setiap kelok tangan Bunda menjalar hangat sembari memandikanku diiringi gosokan lembutnya yang menggerayangi sekujur tubuhku, menyentuh jari jemari mungil tangan dan kakiku di kamar mandi yang dipenuhi semerbak aroma sabun madu kesukaan Oma, membilas dan mengelap tubuhku dengan handuk, menuntunku keluar serta mengenakan baju tidur kepadaku, aku benar-benar menguap.

Ya, aku benar-benar menguap. Mulutku menganga lebar menyuarakan "ahh". “Udah ngantuk ma.” Lalu Bunda berujar menimpali kuapanku, “Kalo nguap tutup dong mulutnya, terus baca a’udzubillah, suara "ahh"nya juga kalo bisa ditahan ya, pintar.” Seulas senyum tersungging lebar di wajahnya yang ayu. Aku balas tersenyum, saat itu amarahku juga ikut menguap.

……………

Aku suka menguap. Entah itu menunjukkan betapa mengantuknya aku, atau sebagai "alarm" penanda kekurangan cairan, seperti yang sering kudengar di "kaset tua" ocehan Ayahku yang terulang-ulang.

……………

Suara wiridan salah seorang kyai kharismatik dari corong-corong pengeras suara masjid yang diputar dari siaran RRI di kotaku seketika membuatku tersontak dari lamunan. Hari ini memang terasa sangat melelahkan. Aku dipenuhi amarah, cemburu, rasa jengkel, hal-hal yang membuatku tak menentu. Hal-hal yang sebenarnya sama sekali tidak perlu ada. 

Aku tersadar, yang kubutuhkan hanyalah menguap, aku harus menguapkan saja dengan spontan perasaan-perasaan itu, seperti kuapan mulutku yang datangnya tiba-tiba. Ketika aku menguap, tak ada suara yang masuk ke lobang telingaku, hanya ngiang suara gaib dari otakku.

Aku hanya cukup tak peduli dengan suara-suara di sekitar, bisikan-bisikan sangka buruk bahwa kau telah mengkhianatiku, menikamku dari belakang, bisikan yang menyuruhku untuk jatuh dan menyerah. Dasar para pembisik bodoh! Harusnya aku bisa menguapkan semua perasaan buruk dari otak dan dada. Aku hanya perlu tenang dan dingin kepala. Tidak gegabah, berbaik sangka, berlapang hati dan bangkit.

Aku ingat, dibalik sebuah kuapan ada pertanda bahwa aku sudah mengantuk atau kekurangan cairan, seperti yang sering kudengar di "kaset tua" ocehan Ayahku yang terulang-ulang. Dibalik kuapan ada tanda bahwa masa-masa kesusahan akan selesai. Kesusahan yang akan hilang dalam lelap, atau melalui tegukan air penghilang dahaga.

Tak terasa azan maghrib berkumandang, aku bergegas beranjak masuk ke dalam rumah, sengaja kutinggalkan pintu terbuka, agar tak susah nanti keluar. Aku berwudu dan mengambil songkok. Melangkah melanjutkan kuapan berikutnya untuk menidurkan amarah dan melegakan hati dalam munajatku di rumah-Nya. Aku akan menguap di hadapan-Nya. Ahh. A’udzubillahi minasysyaithanirrajim.

……………

Aku suka menguap. Entah itu menunjukkan betapa mengantuknya aku, atau sebagai "alarm" penanda kekurangan cairan, seperti yang sering kudengar di "kaset tua" ocehan Ayahku yang terulang-ulang.