Pagi ini saya melakukan rutinitas kecil saya, yaitu membuka Twitter dan melihat beranda serta trending topic-nya seperti biasa. Ternyata memang masih ramai berbagai cuitan dari banyak sekali akun pribadi maupun pemberitaan tentang kebebasan Ahok. Bahkan mungkin semua akun Twitter portal berita online berlomba-lomba menyajikan topik yang sedang menuju suhu panas tersebut. 

Ahok memang properti panas sarat kontroversi yang tak kalah laris dengan sosok Jokowi dan Prabowo. Nilai beritanya selalu tinggi dan menjual, sosok minor yang mayor.

Terlepas dari topik bebasnya Ahok dari jeruji besi, kini bergulir begitu banyak berita yang masih menjadikan Ahok sebagai pemeran utama. Namun untuk kali ini, Ahok tak sendirian karena ada sosok lain yang ada di sampingnya, yaitu Bripda Puput, calon istri Ahok. 

Lantas di mana kontroversinya ketika mantan Gubernur DKI Jakarta ini akan menikah? Kontroversi yang menjadikan suasana kembali gaduh bukan rencana Ahok untuk menikah lagi, melainkan calonnya yang murtad dari Islam.

Berbagai pro dan kontra sekejap muncul tanpa henti. Tak sedikit tokoh-tokoh negara, selebtwit, dan rakyat jelata macam saya ini ikut mengomentari kabar berpindahnya keyakinan Bripda Puput, calon istri Ahok. 

Meskipun sebenarnya saya sama sekali tidak peduli mengenai murtadnya Bripda Puput, akan tetapi jari jemari saya gatal untuk mengomentari betapa kurang kerjaannya netizen turut campur dan giving judgement atas ranah pernikahan mereka berdua yang sebenarnya adalah hal yang menjadi privasi mereka, bukan konsumsi publik.

Ada yang mengecam, ada yang mengancam, ada yang menghujat habis-habisan sosok Ahok akibat murtadnya Bripda Puput, walaupun tak sedikit yang membela Ahok. 

Hal yang perlu kita pahami bersama, ranah pribadi seseorang bukan untuk dicampuri secara brutal dan membabi buta. Perpindahan agama Bripda Puput mutlak hak dia dan mutlak urusan dia dengan tuhannya, bukan urusan kita. Apalagi banyak yang mengaitkan hal tersebut dengan semakin dekatnya akhir zaman (kiamat). Come on, guys, pakai akal sehat kalian menilai ini.

Saya seorang muslim. Bagi agama yang saya yakini, murtad adalah sebuah dosa besar. Namun kembali lagi, itu bukan kuasa saya untuk mengatur keyakinan seseorang karena hal tersebut mutlak urusan individu dengan tuhannya. Toh, dalam undang-undang, kita sebagai warga negara bebas menentukan pilihan ingin memeluk agama apa. 

Sebenarnya kasus-kasus seperti ini sudah sangat biasa terjadi di Indonesia. Perpindahan keyakinan tidak sebatas seorang muslim yang murtad, namun banyak juga orang-orang non-muslim yang menjadi mualaf. 

Jadi untuk apa dijadikan sebuah kontroversi? Jangan-jangan karena ini berkaitan langsung dengan Ahok? Sosok yang mungkin akan kalian benci seumur hidup kalian sebagai haters sehingga apa pun isu mengenai Ahok akan selalu ada kalian cari celahnya dan mengupayakan untuk menjatuhkan Ahok? Who knows.

Kemudian ingatan saya berlari jauh ke belakang, tepatnya dua tahun lalu ketika kasus penistaan agama yang menimpa Ahok sedang berada di puncak tertinggi obrolan masyarakat Indonesia. 

Saat itu saya sedang menikmati kopi sachet di sebuah warmindo sekitaran pusat kota Jogja. Di tempat itu, terduduk seorang pria bersorban, berjenggot tebal putih macam Abu Bakar Ba'asyir, dan memakai pakaian putih panjang bagai seorang syekh dari Timur Tengah. 

Sembari membaca koran yang dipegangnya, dia berujar,"kasihan sekali Ahok ini, sudah minoritas, dicap kafir, Tionghoa tulen, sekarang dapet julukan penista Islam.. nasibmu, Hok.. banyak yang paitan sengit sama kamu. Bencinya pada kebablasan." Begitulah kira-kira.

Saya mulai berpikir, benar juga apa kata bapak itu. Jika jiwa orang-orang sudah dikuasai kebencian, maka kebaikan orang yang dibenci pun akan kalah. Ya, haters gonna hate.

Sosok Ahok, seorang non-muslim, ditambah dia adalah keturunan Tionghoa, jelas menunjukkan dirinya minoritas di Indonesia. 

Baca Juga: Tirakat Ahok

Lalu apa yang dicari para pembenci Ahok ini sehingga tak henti-hentinya meracau untuk menghujat dan menebar doktrin kebencian terhadap Ahok? Apa karena dia minoritas? Apa karena dia non-muslim dan Tionghoa? Atau mungkin karena dia penista agama? Atau karena kepentingan-kepentingan para penghujat Ahok ini terganggu akan kehadirannya sehingga menjadi dendam berkepanjangan?

Kebencian di negeri ini sepertinya memang sudah kebablasan. Kurang apes apa sosok Ahok hingga dirinya mendapatkan berbagai hujatan yang bertubi-tubi? Apakah mungkin ada perasaan kurang puas atas apa yang diderita Ahok dalam beberapa tahun terakhir? 

Bukan tanpa alasan, ketika Ahok menjabat Gubernur DKI Jakarta, dirinya digoyang-goyang agar jatuh dari tampuk kekuasaan dengan menggoreng isu agama karena dia seorang minor. Di demo habis-habisan, dipenjarakan karena menista agama, menghadapi perceraian, dan lain-lain. 

Tekanan yang luar biasa hebat dijalani Ahok dengan sabar dan sangat baik di dalam penjara. Saya yakin, setelah bebas, dirinya banyak berbenah dalam segala hal, termasuk cara bicara, temperamen dia, dan lain-lain.

Kembali lagi, saya menganggap urusan pribadi Ahok bukan sesuatu yang harus kita angkat untuk dijadikan perdebatan. Hal tersebut pure urusan Ahok, juga Bripda Puput kepada tuhannya. 

Mulailah secara dewasa memandang sebuah peristiwa apa pun. Mulailah objektif menilai dengan berbagai sudut pandang. Kebencian apa pun itu akan merusak pola pikir dan akal sehat kita. Kebencian terhadap sesuatu menunjukkan bahwa ada yang tidak beres dengan psikis dan akal sehat kita.

Saya hanya sekadar memberikan sudut pandang lain dari kasus Ahok dan Bripda Puput. Tulisan ini pun juga sebagai pengingat saya untuk tidak mudah membenci apa pun karena hanya akan menjadi toxic dalam kehidupan kita. 

Satu hal lagi, bagi saya yang seorang muslim, saya selalu memandang diri saya tidak lebih baik dari orang lain dalam urusan agama. Namun saya meyakini bahwa orang-orang yang kalian anggap kafir dan menista, bukan tidak mungkin di akhir hayatnya kelak justru berpulang dengan keyakinan sebagai seorang muslim dan mendapatkan surga-Nya. 

Begitupun sebaliknya, bukan tidak mungkin orang-orang muslim yang sekarang menghujat Ahok atau siapa pun yang non-muslim malah terbebani dosa atas kebenciannya terhadap sesama makhluk hidup ciptaan Allah SWT. Kita tidak akan pernah tahu. Wallahu a'lam.