Sayang, kamu tahu kan? Lagu dari Virza yang berjudul, Aku lelakimu yang begitu menyentuh itu. Lirik lagunya yang laki banget, lelaki yang mau menjadi lelaki yang sebenar-benarnya untuk perempuan, seperti ini;

Datanglah bila engkau menangis

ceritakan semua yang engkau mau

percaya padaku aku lelakimu

mungkin pelukku tak sehangat senja

ucapku tidak menghapus air mata

tapi ku di sini sebagai lelakimu

akulah yang tetap memelukmu erat

saat kau berfikir mungkin kan' berpaling

akulah nanti menenangkan badai

agar tetap tegar kau berjalan nanti

Sudah benarkah yang engkau putuskan

garis hidup tlah engkau tentukan

engkau memilih aku sebagai lelakimu

Namun, berharap kamu seperti itu tidaklah semudah membalik telapak tangan. 

Kemana Aja, Lu?

Aku mau pergi ke mana pun yang anterin siapa? Bukan kamu, sayang! Dia abang, mas, kakak Crab.

Sayang, Mr. Crab adalah laki-laki yang keren. Dia kukenal dari sebuah media aplikasi mobile. Dia jago sekali dalam urusan transportasi. Selain mengantar kemana-mana (penjemputan), dia juga melayani pengiriman barang dan jasa.

Dia punya mobil juga motor. Tapi, aku lebih sering memintanya membawa motornya, alasannya, motor lebih fleksibel di jalanan. Ketika kamu tidak bisa datang, aku pun membuka smart phone-ku dan menemukannya di sana. Mr. Crab segera datang padaku dengan motornya.

Dia bisa menungguku. Tidak seperti kamu, sayang. Ketika aku terlambat, walau sudah bilang tunggu, kamu pasti menyambutku dengan omelan; lama banget, sih.

Mr. Crab malah menyambutku dengan senyuman. Mungkin, karena sebelumnya, ketika dia menelpon, aku sudah bilang, tunggu dulu. Dia memberikan helm padaku, dan mengambil barang bawaanku diletakkan tepat di depannya.

Kamu? Boro-boro! Yang ada kamu bilang; rempong, banyak banget bawaanmu.

Ketika jalanan macet, atau karena Mr. Crab mencari jalanan yang adem dan sepi. Mr. Crab dengan cepat menemukan jalan tikus. Kamu mencari jalan tikus karena buru-buru untuk secepat kilat menurunkanku di tempat tujuan. Secepat kamu datang, secepat itu pula kamu pergi, tanpa berkata apa-apa lagi. Tidak ada mesra-mesranya lagi.

Mr. Crab bertanya padaku; apakah tujuannya sudah benar? Inikah tujuannya? Belum lagi, ketika turun, dia mengucapkan terima-kasih dan minta bintang limanya. Btw, sayang, kamu jangan cemburu, ya? Aku selalu memberikan bintang lima untuknya. Dia baik, ramah, dan sopan.

Bukan Cuma urusan jemput-menjemput sayang, Mr. Crab juga sigap dengan pengantaran makanannya. Ketika itu, selain aku lagi mager untuk masak, aku juga sibuk mengerjakan tugas dari kantor di rumah.

Sayang, kamu ingat tidak? Ketika aku pernah memposting status di WhatsApp (WA).

Sayembara: siapa yang mau mengantarkan makan siang untukku? Jika perempuan akan dijadikan saudara (i), jika laki-laki akan dijadikan suami.

Kamu, hanya melihatnya, tanpa memberikan komentar. Aduh, sayang, kamu tidak peka sekali. Akhirnya, apa? Mr. Crab dengan pasti yang mengantarkan sebungkus gado-gado untukku. Aku meralat sayembaraku dengan memberikan upeti uang dalam bentuk OV*.

Bukan hanya makanan sayang, Mr. Crab juga gercep walau di malam hari. Aku yang punya penyakit kram perut ketika haid, merasakan sakit di tengah malam. Saat itu kamu bilang; jangan manja. Dia datang dengan membawa kunyit dan gula merah yang dibelinya di pasar tradisional yang buka sampai tengah malam. Dia juga jadi kurirku yang terbaik.

Jika kamu adalah ojek pribadiku, dia adalah ojek andalanku. Kamu bisa jadi tukang ojekku dengan baik dan benar ketika kamu lagi sayang-sayangnya saja. Jika lagi tidak sayang, kamu bisa bilang; siapa elu, siapa gue. Hari gini! Jangan bergantung pada orang lain. Namun, Mr. Crab hadir untukku 24 jam non-stop, tanpa merepotkanmu lagi, mengganggu aktifitasmu yang lain karenaku.

Aku bisa mengaksesnya kapan pun, dan di mana pun. Sayang, ketika kamu sibuk aku tidak bisa menghubungimu karena alasanmu dengan banyaknya kerjaan.

Sesuai titik?

Sayang, Ngomong-ngomong, Mr. Crab suka memberiku poin. Aku sering jalan dengannya, dia juga sering mentraktirku juga. Tapi, kami masih sebatas “teman”. Sekarang, aku lagi memikirkan masa depan kita bersama.

Masihkah kita memiliki poin yang sama? Dalam menghadapi hidup ini karena kita semakin berjarak. Kita sudah jarang bersama karena kesibukan mengurus file masing-masing yang parah. Media sosial kita yang saling terhubung serasa hambar, dingin, dan kering.

Tahukah kamu ketika kita pergi bersama? Kita selalu identik dengan sebagai pasangan yang serasi. Kita banyak bercerita bersama di atas motor sehingga perjalanan jauh tidak terasa . Atau kamu bisa berstand-up comedy secara live di atas mobil yang membuatku bisa tertawa. Atau kita masak bubur Manado bareng-bareng di rumahku. Kita punya malam khusus di toko buku untuk membeli buku yang menarik.

Aku rindu dengan ruang-ruang itu. Aku rindu dengan lelakiku. Semoga kita bisa bertemu pada suatu titik, sesuai titik, di titik yang sesuai. Ah, aku mau bertemu di tempat yang sesuai titik. Bagaimana denganmu? Akankah kita akan berada pada satu titik yang sama pada akhirnya?