Keyakinan merupakan penantian yang tak akan datang, sedangkan percakapan cinta adalah saat sekarang aku mengobrol dan menatap matamu seakan mengkerut disamping kerinduan.

Aku melihatmu dalam tatapan mata yang seakan bibir membeku. Apakah itu kebisuan atau ke-akuanmu yang disembunyikan, serta mata dari persembunyian yang gadu. Aku mendekam dalam percakapan atas obrolan yang mungkin akan jadi garis keras, untuk membahas tentang persembunyian ke-akuan cinta. 

Aku sering berbicara dengan bayanganku sendiri untuk berdiskusi tentangmu, apa yang bisa aku lakukan bila hati dan pikiran tak bisa berjalan seutuhnya didekatmu. Kemungkinan suatu saat aku harus menerima keadaan, bahwa  aku telah kalah atas perjuangan yang belum usai.

Sore itu, aku duduk seorang diri bersandar dengan keyakinan yang belum pasti akan datang, jika aku mengibaratkan bahwa, berdiam untuk mencintaimu adalah doa yang harus kutitipkan  kepada angin, agar sampai dipangkuanmu, maka aku meyakini kau akan membutuhkan kasih yang lebih mendekam kepada kebersamaan hati ku ini.

Aku ingin  bertanya, apakah kamu tahu  tentang cerita senja seperti sajak-sajak Seno yang menuliskan sebuah pesan cinta kepada Alina, bahwa keindahan yang sering tercipta akan tenggelam dengan sendirinya, tidak akan ada keindahan yang lebih indah dari pada jatuh cinta, demikian yang aku tangkap.

****

Aku telah jatuh cinta kepada seorang perempuan yang bernama Tia, ia sangat hobi bernyanyi dan juga gemar bermain gitar. Kemungkin di dalam jiwanya sudah terlahir jiwa kesenian, baik itu keturunan dari ayah ataupun ibunya, yang jelas ia gemar memainkan alat  musik  seperti gitar atau pun alat-alat musik tradional.

Rasa jatuh cinta berawal dari perjumpaanku di acara malam puisi, dimana aku melihat penampilan para seniman pada malam itu, entah kenapa mataku tak sengaja melihat perempuan yang begitu menawan memainkan musik.

Kututup mata, lalu kulangkahkan kaki menghampirinya, kuulurkan tangan, “Halo, bolehkah  aku kenalan” tanyaku padanya.

Aku nyaris tak memiliki muka karena sifat cuek yang ada, membuat aku terpaku. Ia hanya tersenyum dan berkata “boleh mas, namaku Tia” jawabnya. Aku langsung menjawab dengan tegas  namaku Alvin. Ia hanya tersenyum lalu pergi dengan menyisakan senyuman.

***

Waktu itu, Tuhan masih berpihak kepadaku, bagaimana aku harus diberikan suatu keberanian untuk mengucap kata yang belum tentu dia mau menerima tawaranku, sedangkan sore ini, tuhan  masih  saja memberikan waktu untuk menawarkan suatu yang sulit bagiku, karena aku harus berbohong kepadanya yaitu hanya mengantarkan, karena aku tidak mempunyai niatan pergi sejalur ke arah jalan ke tempat kau pulang (Rumah).

Rasa bercampur bahagia, sedih dan takut. Bahagia karena aku bisa berdua denganya menikmati senja yang tertidur. Bersedih karena aku harus berbohong untuk beralasan bahwa, aku akan pergi ke tempat yang se arah rumahnya, padahal tak ada sedikitpun aku mempunyai rencana, hanya saja aku ingin mengatarkannya untuk pulang, sedangkan rasa takut harus membawanya terlebih dahulu ke rumahku aku pun harus memakai kelengkapan kendaraan agar tidak terkena sanksi peraturan lalu lintas.

Sebelum menghantarkan ke rumahnya, aku mencoba untuk merayu mengajak berdoa kepada tuhan, karena bagiku menghadap kepada Tuhan, lebih penting daripada menghap kepada orang tercinta.

Tia mengatakan dengan bijak, ia mas emang lebih penting, tapi lebih penting juga aku shalat di rumah karena orang tuaku menunggu, dan aku harus menghantar orang tua ke masjid.

Aku tetap saja memaksanya untuk  mengajaknya shalat terlebih dahulu, sebab waktu shalat magrib sangatlah pendek. Tanpa panjang lebar ia pun mau untuk shalat terlebih dahulu.

Setelah selesai melakukan shalat magrib, aku pun menghantar ia pulang. Aku kira dalam perjalanan yang akan terjadi suasana menjadi senyup dan juga sunyi, namun Nampak berbeda ketika perbincangan menjadi humor banyak menyisakan canda tawa. Kemungkin keajadian itu akan membekas di setiap jalan meski tak akan nampak pada mata di lain hari.

Dalam kejadian itu, aku mulai menjadi candu pada senyumannya, dan ingin sesekali mengajaknya bercanda lagi, meski tak akan ada waktu untuk bersua kembali.  

Tuhan masih memberikan kesempatan lagi untuk malam ini memberikan kenikmatan rasa syukur untuk menghantarkan ia kembali ke tempat kesenian. Akan tetapi langit tak suasana tak mendukung. Malam menjadi cemburu sehingga air diturunkan, suasan yang dilihat menjadi kacau sedangkan rasa menjadi romantis, sebab canda tawa tetap saja menyisakan kenangan di perjalanan malam itu.

***

Semenjak peristiwa itu, Rasa ini yang dahulu adalah keraguan untuk dilangkahkan, akan tetapi rasa ini malah menjadi penuntun untuk menikmati waktu. Ketiaka aku memikirkannya maka jiwa ini terasa bangkit dari rasa cinta pada hati yang tertutup.

Setiap waktu aku mencoba memberikan kabar, menjalin hubungan sebagaimana hati harus memiliki teman, sedangkan pikiran harus menjadi penenang.

Perjalan waktu begitu sulit untuk ku ungkapkan, sebab tanya jawab sudah serius diluntarkan. Kemungkin akan jadi perangkap tersendiri untuk menjabak sebuah kata-kata.

Dari mempertanyakan kabar keadaan hingga mempertanyakan tentang sebuah hubungan, atau lebih tepatnya adalah kekasih. Kata-kata saling dipermainkan untuk menjebak sebuah kejadian yang harus diungkap dengan serius. Waktu itu aku mencoba menjebak untuk mengungkap sebuah hubungan , apakah Tia memiliki sebuah rasa kepada seorang lelaki atau Tia tidak memiliki pikiran ke arah sana.

Tanpa kusadari saat aku melakukan komunikasi lewat WA, aku bertanya dengan simple yang seharusnya tak harus dipertanyakan. Akan tetapi aku merasa penasaran. Apakah Tia sudah memiliki kekasih atau tidak?. Setelah kumenanyakan ternyata ia memiliki seorang kekasih yang jauh, apakah ia benar-benar berkata jujur atau hanya menipuku saja. Akan tetapi ia sepertinya jujur saat menjawab atas pertanyaan seriusku.

Waktu begitu singkat ketika seseorang lagi asik bermain dengan sebuah perasaan, tak menyadari bahwa, malam sudah larut sedang candu tetap saja menggebu. Mau tidak harus meng-akhiri malam ini dengan perjumpaan di dunia mimpi, lalu ku ucap selamat malam sampai berjumpa di pagi hari yang cerah.

***

Di pagi harinya aku sapa dia kembali “Selamat pagi matahariku, apakah dirimu baik-baik,” tanyaku padanya. Ia pun menjawab dengan emot senyum dan berkata

“Iya pagi juga. Aku selalu baik-baik saja kok mas Alvin,” jawabnya. Pagi selalu kusambut dengan semangat. Seperti matahari selalu memberikan sinar yang tak akan hilang meski di malam hari.

Tepat jam 06.49 WIB, ia mengabari memberikan pesan di WA dan juga Menelponku, akan tetapi aku tidak mengangkatnya karena aku masih melaksakan tugas di tempat kerjaku. Setelah kubuka pesan dari Tia tia menulis “Mas Alvin, aku kecelakaan, mas lagi dimana,”. Tulisnya. Seketika itu aku langsung blank, dan aku  ingin langsung  pulang kerja. Betapa kwatirnya pada saat melihat pesan, bahwa ia sedang kecelakaan.

Pada saat aku menelponnya tak sekalipun diangkat sehingga kekhawatiran semakin menjadi. Beberapa menit kemudian ia memberikan kabar

“Mas  Alvi, aku baik-baik saja, aku lagi kuliah,” jawab dia meyakinkanku. Seketika itu aku sudah merasa tenang. Tapi perasaanku tetap saja tidak mengkhwatirkan Tia.

Tia meyakinkanku, bahwa ia baik-baik saja. Ia pun menceritakan tentang kejadian sewaktu kecelakaan. Kejadian tersebut terjadi pada saat ia berangkat untuk kuliah, yang menyetir sepeda motornya temennya, akan tetapi kondisi Tia hanya lecet di jemarinya sedangkan teman juga sedikit lecet tapi lucunya ketika terjatuh ia masih mekai gincu di sepeda motor.

Mendengar cerita tersebut rasanya ingin ketawa dan juga kesel. Aneh-aneh saja gincuan di sepeda motor. Membayangkan kejadian tersebut aku ingin tertawa, untung saja Allah masih memberikan keselamatan untuknya, kalau tidak sudah tinggal nama saja.

“Lain kali berhati-hatilah, sebab berhati-hati itu sifat dari allah sedangkan terburuh-buruh adalah sifat dari setan,” saranku padanya. “Iya mas, makasih atas nasehatnya,” jawabnya dengan senyuman indah.

***

Mengenalimu sekian lama tak terasa waktu sudah memberika cerita tentangku dan tentangmu. Apabila cinta harus memili mengizinkan memilih sendirinya untuk  menempati tempat yang tepat, maka mencintai merupakan suatu keajaiban sebab mencintai lebih berharga dari pada dicintai. Mencintai akan bisa mengontrol cinta itu sendiri, sedangkan dicintai tak akan bisa mengontrol cinta. Begitulah ketika aku jatuh cinta untuk mencintai tanpa harus aku memaksanya untuk menerima cintaku.

Tanpa kusadari rasa yang selalu tumbuh terbongkar sendirinya. Kemungkinan rasa ingin untuk mengungkap kata yang sudah tertanam di lubuk hati dari sekian lamanya sudah tidak terpendum kembali, sehingga meluap dengan sendirinya.

Aku mengungkapkan sebuah rasa kepada Tia walaupun dia tak merasa dirasa, bagaimana aku harus berkata bahwa aku mencintainya. Meskipun caraku tak seromantis seperti penyair-penyair romantika.

Aku hanya berkata jujur bahwa aku telah jatuh cinta untuk kerinduan. Ia hanya tertersenyum lirih, menatapku. Lalu ia pergi tanpa harus memberi tanda bahwa, aku telah salah mengatakan sebuah kata yang tak harus dikatakan.

Semenjak kejadian itu, semua menjadi berubah, hilang tanpa kabar. Kabar menjadi coretan lembar tagan yang harus jadi kenang, sementara aku harus menanggung semuanya bahwa, aku harus mengakatan maaf………..