Dan tiba-tiba saja, kamu harus pergi. Kamu harus kembali ke kotamu, kota tempatmu bekerja.

“Aku harus balik,” katamu via telepon WhatsApp .

Aku masih tak percaya, rasanya baru sejam yang lalu kamu menemaniku di sini. Aku masih antara sadar dan tak sadar, benarkah kamu akan segera meninggalkan kota ini? Lalu samar-samar kudengar suara dari pengumuman dari sebuah pengeras suara katanya, "Jadwal keberangkatan pesawat."

Aku sadar, kamu sekarang berada di bandara. Aku di antara ada dan tiada. Aku ingin menenggelamkan diriku dalam tangis namun aku berusaha menahan diri. Aku tak mau kamu tahu perasaanku. Aku menjawab teleponmu dengan santai, walau terus berpikir. Secepat itukah kamu akan pulang ke kotamu? Aku masih ingin membersamai dirimu, aku masih ingin memesrai dirimu.

Tiba-Tiba Datang

Bulan lalu, kamu tiba-tiba hadir di kotaku, saat itu belum termasuk kategori mudik. Ya, kamu pulang kampung di tengah pandemi, sebelum puasa. Kamu menghubungiku di chat, kamu bilang “Aku ada di kotamu.”

Sedang saat itu, aku berada di kota lain.

Betapa bahagianya. Kamu sudah datang di kotaku. Selama ini, aku memang mengharapkanmu, mengharap kedatanganmu di kotaku.

Kamu ingat? Belum cukup setahun yang lalu, aku pernah bilang ke kamu, “If you wanna research here, it means, you must go home. Your home town.”

Dan balasmu, “Doakan aku, mudah-mudahan aku cepat bisa pulang kampung.”

“Aku menunggumu di kota ini,” kataku. Aku selalu menunggumu di kotaku. Walau, aku selalu juga pergi ke kota lainnya, namun aku setia menunggumu di kotaku.

Tiba-Tiba Cinta

Aku tak mengerti, mengapa aku tiba-tiba bisa mencintaimu. Tiba-tiba saja, cinta datang, hadir, dan ah, aku tak mau “dia” pergi.

Hampir tiga tahun yang lalu, semenjak pertemuan kita pertama kali di suatu ruang diskusi. Aku sudah jatuh cinta dengan sosokmu, aku terpesona dengan untaian katamu, dan aku berhasrat ingin mengenal lebih jauh. Tapi, aku tidak mengerti bagaimana caranya.

Namun, Tuhan sangat baik padaku. Tiba-tiba saja kamu menghubungiku menanyakan sesuatu dan kamu ingin menemuiku. Dan pertemuan kedua kita berlangsung di rumah kakekku. Kamu terlihat sangat sopan. Aku langsung berpikir kamu laki-laki yang santun. Entahlah, apa karena kita bertemu ditemani ibuku?

Sejak saat itu, kita tidak pernah bertemu lagi. Kamu pergi ke kota lain. Kita hanya bertemu di media sosial, WhatsApp. Saling berbagi informasi, menanyakan kabar, membicarakan ruang-ruang penulisan, diskusi berbagai hal mulai dari sosial, budaya, Dayak, Mandar, dan ibukota Negara baru dan lain sebagainya.

Kemudian, setahun lebih, pertemuan kita yang ketiga. Kita bertemu lagi, ketika kamu mengunjungi kotaku. Kita bertemu di sebuah ruang spiritual diatas gunung, dimana banyak yang datang untuk beribadah di sebuah kota di dekat kotaku. Kita bertemu di sana, karena sebelumnya, kita memang sudah berjanji untuk bertemu di sana.

Aku datang dengan teman, dan sepupuku. Aku tersenyum setelah hampir setahun lebih kita tidak bertemu. Walau, kamu masih seperti yang dulu, laki-laki yang manis, aku bisa melihat perubahanmu, kamu semakin dewasa.

Kita berbincang, berfoto bersama walau hanya sebentar. Malam sudah larut, jam satu dini hari. Kemudian, seminggu setelah kita bertemu, kamu kembali ke kota tempatmu bekerja.

Saat itu, aku menangis. Mengapa tidak bisa menemuimu lebih lama. Mengapa tidak bisa bersamamu lebih lama. Kamu tiba-tiba pergi. Dan aku masih di kotaku.

Lalu, dua tahun kemudian, pertemuan kita yang keempat. Kita bertemu, kita bertemu di ibukota Negara. Hampir seminggu kita bersama dalam suatu acara yang memang kita ingin ikuti, dan kita berdua terpilih untuk mengikutinya.

Namun, aku tidak bisa merasakan kehadiranmu. Aku begitu malu dekat denganmu. Aku begitu takut kamu mengetahui perasaanku. Aku lebih banyak bergaul dengan teman-teman yang lainnya, maafkan aku.

Dan pertemuan kita yang kelima, di bulan ini, sebelum kita merayakan lebaran yang lebih damai. Kamu datang ke rumah kakekku lagi. Rumah kakek memang tempat yang paling nyaman. 

Rumah yang terletak di depan jalan raya poros itu sepi, tak ada yang tinggal disana. Aku suka berada di sana, menenangkan diriku, mengisolasi diriku dari orang-orang. Aku memang seorang introvert, menyukai dirimu yang mungkin ekstrover, selalu berada dikerumunan orang-orang.

Kamu datang di siang hari, di mana kita sedang puasa. Aku tak bisa menawarkan walau sekedar air minum. Aku ingin mengambilkan bantal agar kamu bisa rebahan. Namun, mungkin kurang etis. Kamu laki-laki, dan aku perempuan. Walau kita hanya teman, tapi aku yang punya perasaan lebih dari teman mungkin tidak bisa menahan diriku melihatmu tidur di sampingku.

Kamu membawakan novel-novel percintaan, detektif, dan komik untuk aku baca. Senangnya, aku akan membuatnya sebagai pengantar tidurku. Walau selama ini menghayalkan dan memimpikanmu sudah menjadi pengantar tidurku.

Tiba-Tiba Pergi

“Jika kamu adalah jawaban, aku tak akan bertanya lagi.”

Aku menulisnya di status WhatsApp, semoga kamu melihat dan membacanya. Apakah kamu akan mengerti dengan kode-kode seperti ini?

Mungkin setiap pertanyaan tidak selalu memiliki jawaban. Dan setiap jawaban bukanlah dari suatu pertanyaan. Ah, aku tidak perlu bertanya padamu lagi, aku tidak perlu jawabanmu lagi. Biarlah waktu yang mempertemukan kita kembali.

Kamu yang tiba-tiba pergi, membuatku menangis dan tak bisa berpikir. Mengapa tidak membawaku pergi? Aku memang terlalu berharap padamu. Entahlah, apakah harapan kita sama? Datanglah kembali dengan segera ke kotaku, atau aku yang ke kotamu, apakah akan menjadi kota kita?

Namun aku berdoa, walau di masa New Normal Life ini, aku ingin segera berkunjung ke kotamu yang indah dan aktif, Samarinda. Kota yang selalu kusebut di buku diariku, “Samarindu”. Apakah kamu merindukanku juga disana?