Begini, aku ingin menceritakan tentang kisah enam belas tahun yang lalu ketika aku masih duduk di kelas 3, tepatnya di SDN 21 Kuala Mandor B Kubu Raya Kalbar.

Pada saat itu aku sedang menghadapi ujian semester ganjil. Jauh-jauh hari sebelum ujian dilaksanakan, keinginan untuk menjadi juara sudah tak terkendali. Terlebih tekanan dari Emak yang menginginkan aku jadi juara kelas, sebagai balasan atas uang saku yang seminggu sekali bahkan kadang sebulan sekali ia berikan sebanyak tiga ratus rupiah.

Uang tiga ratus rupiah dulu, kira-kira senilai dengan tiga ribu rupiah sekarang. Tak masalah, uang bukanlah halangan untuk tidak sekolah. Dimana lagi ketidak kuasaanku menahan malu saat Emak membanding-bandingkan dengan teman-temanku yang berprestasi kala ngerumpi dari teras ke teras.

Malu, takut, dan rasa bersalah akhirnya membuatkku berusaha. Pun segala cara dilakukan agar si macan betina itu bisa tutup mulut ketika sang kancil dapat membawa sekeranjang daging segar.

Waktu itu tidak ada tv. Meniru gaya dan pemikiran artis atau tokoh sepertinya  mustahil. Orang-orang dulu, kalau yang namanya pintar ini dan itu mereka memang pintar sungguhan. Sekarang pintar sudah bisa diduplikat dan mulai mengalami perubahan makna.

Entah kenapa ketika itu terlintas dalam benakku bahwa meniru segala gerak-gerik menjadi modal dan jalan utama agar aku bisa menebus harapan Emak. Bukankah proses yang sama hasilnya tidak akan jauh berbeda? Sangkaku.

Aku sudah terlatih berpikir politis karena sudah terbiasa dengan cara-cara curang agar aku bisa terhindar dari taring si macan betina.

Sebenarnya ini adalah aib tapi, ah sudahlah, Jangan khawatir. Emak tak akan marah dengan cerita ini. Aku sudah izin terlebih dahulu padanya sebelum cerpen ini ku publikasikan. Meski tak ku sampaikan secara jujur kepadanya tentang sebutan dan posisinya dalam cerita ini.

Lagi pula ia takkan mengerti apa itu cerpen barangkali disangka pendataan BLT (Bantuan Langsung Tunai). Maklum, setelah program itu dihapus Pak Jokowi, Emak tak punya kas benlanja lagi.

Kenapa aku jadi sesedih ini mengingatnya hem..., Sudah sebelas tahun aku merantau ke kota pendidikan ini sepertinya sudah cukup dan harus kembali pulang menemani Emak di bawah atap daun di kalimantan sana.

Membahagiakan kedua orang tua sudah terpatri di setiap anak yang terlahir di dunia ini, begitu juga denganku.

***

Singkat cerita, akhirnya setiap hari aku meniru gerak-gerik kawanku yang genius yaitu Samsuri, Saat berbaris, sebelum masuk kelas dan berdoa sebelum memulai pelajaran. Dari gaya bicaranya, tertawa, gerak kaki, dan tangannya. Kutiru dari arah belakang sambil curi-curi pandang agar teman di samping kanan-kiriku tak curiga dengan polahku.

Begitulah kelakuanku di bulan-bulan terakhir sebelum ujian saat itu, dengan harapan aku bisa seperti si Samsuri yang selalu juara satu setidaknya juara dua atau tigalah dalam genggaman, pikirku.

Dari semua itu, sepertinya hanya satu seingatku yang tak dapat ditiru yaitu cara belajarnya si Samsuri. Ya benar!. Bukan karena aku tak memiliki ide cemerlang itu tapi susah. "Bagaimana mungkin aku bisa meniru cara belajarnya kalau dia tak serumah denganku."

"Emboh Bodo amat! Yang penting aku ada usaha" gumamku. Aku sudah yakin dengan caraku itu.

***

Raja siang mulai menantang. Petang sudah ditinggal pulang. Cecet-cecot burung bersama embun di pohon jambu kian hening. Meninggalkan pagi yang begitu bening. Kira-kira saat itu pukul delapan pagi.

Waktu saja aku harus mengira-ngira. Di rumahku tak ada jam dinding atau sejenisnya. Tebak waktu dengan menandai matahari dari lubang atap rumahku sudah jadi referensi nomor satu sejak bertahun-tahun lalu. Hasilnya tak akan meleset jauh.

Dar dar dar...!” Bunyi dinding papan seperti geluduk ditabuh Emak dengan kayu bakar. Emak tahu kalau aku masih tertidur. Biasanya sehabis pulang toreh karet Emak langsung mengintip dari celah-celah dinding. Memastikan aku sudah berangkat sekolah atau belum.

Sekolahku ada di depan rumah. Sekitar 50 meter, jadi hanya lima langkah sudah samapai. Telah mafhum yang jauh datang duluan yang dekat datangnya belakangan.

"Tidur terus, tidur! Mau berhenti sekolah, mau jadi apa kamu hah, jadi gembel!?" Bentak Emak sambil menabuh dinding papan dari samping rumah.

Aku terkenal telatnya kawan. Sampai saat ini kalau ngobrol dengan teman kelasku di media sosial pasti di sela-sela obrolan mereka menanyakan "Kamu masih suka telat ya Sut?" Canda mereka sambil tertawa.

Sebenarnya kebiasaan buruk ini sudah kronis. Buktinya sekarang banyak teman-teman guru yang jam mengajarnya bersamaan sudah mulai tahu kenapa aku sering terlambat. Usut-punya usut ternyata kebiasaan buruk ini genetis.

Duh..., sudahlah jangan dibahas terlalu panjang kita lanjutkan ceritanya.

Akhirnya aku tersentak dari tidurku di tengah mimpi bermain kelereng. Aku pun Lontang-lanting mebuka pakaianku dan berlari dengan telanjang menuju parit tempatku mandi. Kulihat halaman sekolah sudah sesak dengan teman-teman seraya berbaris dan membaca doa sebelum masuk kelas.

Emak menghampiriku dengan pakaian torehnya yang kotor, sobek, dan bau karet.

"Kamu nyusahin saya terus cong. Sudah tahu kalau sekarang ujian, masih saja tidur melulu." Tegas Emak sambil mencubit pahaku dan menyiram dengan air parit memandikanku.

"Coba lihat si Samsuri itu cong, dia tak ada orang tuanya kok dia bisa hidup tanpa diatur. Bahkan dia bisa rangking satu." Greget Emak sambil menggosok-gosokan serabut kelapa ke betisku. Emak meneteskan air mata sepertinya ia mulai sedih campur aduk dengan emosi.

Ya, namanya Samsuri dia anak paling pintar di kelasku. Orang-orang di kampungku sudah tahu siapa si Samsuri, selain dikenal karena kulit gelap dan rambut keritingnya ia juga terkenal cerdasnya. Maklum dari kelas satu sampai kelas tiga yang namanya juara satu dan bintang pelajar sudah ia bungkus dalam sakunya.

Entahlah, bagaimana cara ia belajar sehingga bisa langganan juara. Ia hidup sebatang kara namun kemandirian dan semangat belajarnya  tak diragukan.

Tidak denganku yang setiap paginya harus menguras emosi si macan betina yang harus mendobrak kamar tidurku ketika pulang toreh karet karena masih mangap di pulau kapuk. Harus digiring ke parit, sesampainya di parit juga harus dimandikan.

Ya begitulah keseharianku di pagi hari tidak sadis-sadis amat juga tidak sehoror film hantu, hanya mengerikan mendengar suaranya ketika tegangan tinggi.

Aku hanya bisa menangis kecil. Melawan pun tak akan membuatku selamat dari cakarnya. Belum saja bekas tato yang kemarin sore pulih Emak ukir tato natural lagi di paha kananku. Tato yang lebih perih pembuatannya dari tato cap naga seperti di punggung Ajun tetangga cinaku.

***

Hari itu adalah hari kedua ujian semester ganjil. Berharap bisa menjawab segala soal dengan baik dan benar dengan tepat waktu. Setelah tergesa-tergesa habis mandi aku pun langsung mengenakan seragam merah putih.

Sekolah di zamanku simpel, tidak perlu banyak persiapan seperti anak-anak sekarang; tas, makanan, seragam lengkap, dasi, dsb. Hanya memasang celana dan baju, itu pun tanpa celana dalam beruntung tidak pernah kabur walau celanaku sobek dan lupa dijahit oleh Emak.

Berbicara soal sepatu ingatanku langsung ke sandal jepit, bukan aku tak punya sepatu tapi kusimpan baik-baik untuk acara agustusan. Sengaja Emak beli yang lebih besar agar tak perlu beli lagi.

Minyak rambut saat itu ekonomis belinya pun kiloan kalau memang terpaksa semisal tidak mandi karena dingin atau kesiangan ya dioles dengan minyak goreng biar kelihatan basah.

Seragam sudah kupasang dan langsung segera berangkat ke sekolah tanpa sabuk, sepatu, apalagi uang saku. Hanya cita-cita yang masih hangat dalam benakku.

Sepertinya Pak Warsidi keluar dari kantor menuju ke ruang kelas membawa naskah soal PKn. Beliau adalah guru yang paling sabar sekaligus wali kelasku.

Ujian akan segera dimulai. Seperti biasa, meniru gaya si Samsuri tak pernah kulupakan. Pak Warsidi mulai membuka dan memberikan naskah soalnya satu persatu. Teman-teman yang telah dapat naskah soal sudah tancap gas. Aku pun menyusul dengan serius.

Dua puluh menit berjalan. Pikiranku mulai kalut, karena kakak kelasku mulai mengintip dan mengganggu dari jendela dan pintu. Mereka sudah selesai duluan.

"Sudah, jangan lama-lama silang aja semuanya," celetuk mereka kepada kami.

Pikiran tambah kacau setelah mendengar rayuan itu. Konsentrasiku tambah pecah setelah teman-teman selesai semua. Aku mulai merasa semua jawaban pilihan ganda mirip dan tidak ada bedanya.

Aku tak ambil pusing, kusilang semuanya kupukul rata a, b, dan c. Setelah dipikir kembali sekarang, ternyata aku salah maksud dengan yang disampaikan kakak-kakak kelasku itu.

Kukira mereka menyuruh menyilang semua pilihan ganda ternyata tidak. Mereka menyuruh silang jawaban dengan cara acak atau menerka. Lah kenapa kusilang semuanya, bukan hanya mata ujian PKn saja tapi juga ujian bahasa Indonesia yang kemarin. Apes... semiring itu aku dulu.

Aku pun selesai mengisi empat puluh soal pilihan ganda dengan sempurna tanpa ada yang tersisa. Secarik soal dan jawabannya kuserahkan kepada pak Warsidi.

Ketidakpercayaanku dengan jawaban sendiri akhirnya kutaruh dengan menyingkap milik teman-teman yang lain kemudian kusisipkan di tengah-tengahnya agar Pak Warsidi tak sepontanitas menilai terhadap jawabanku.

Kucium tangan kanan Pak Warsidi kemudian berjalan mundur meninggalkannya. Setelah sampai di pintu, Pak Warsidi memanggilku dan menyodorkan hasil ujian bahasa Indonesia.

"Sutri, ini hasil ujian kemarin, tolong kasikan juga kepada yang lain".

"Iya, Pak," jawabku. Aku pun langsung lari keluar kelas.

"Teman-teman ini hasil ujiannya dari Pak Warsidi!" teriakku kepada mereka yang masih sibuk mengadu buah karet di halaman kemudian mereka datang berlari menggerogotiku.

"Mana, mana punyaku dapat berapa?" Kata Mahyudi salah satu temanku yang paling gesit.  Perasaanku mulai kalut dan deg-degkan. Ingin tahu hasil keringat sekaligus usahaku. Maklum, baru pertama kali ikut ujian. Teman-teman juga tidak sabar lalu mengacak-acak berebut naskah yang kubawa.

Setumpuk naskah yang sudah dikoreksi itu pun jatuh berhamburan. Teman-teman memungut miliknya masing-masing. Tinggal punyaku belum ditemukan.

"Sut ini milikmu!" Kata Samsuri kepadaku dari belakang.

"Mana Sam, sini. Aku dapat berapa?"

"Enggak tahu. Coba kau lihat sendiri nih." Sam memberikannya kepadaku, kemudian ia pergi sambil melihat nilai miliknya.

Hasil ujian ada di tanganku. Sekarang tinggal skor akhirnya seperti apa. Mengancamku atau sebaliknya?  Usaha sudah, doa sudah, belajar yang masih belum.

Kubuka perlahan dan pelan-pelan. Dag-dig-dug suara jantungku meletup-letup menabuh kencang tulang dadaku, sepertinya terlihat angka nol kecil dibagian ujung kanan atas  kugeser lagi ke bawah, kertas halaman pertama dengan pelan sekali. "De... delapan waw! Aku dapat delapan?"

Aku terkejut karena seumur hidup aku tak pernah mendapat nilai setinggi ini jangankan aku, Samsuri pun paling tinggi biasanya hanya tujuh. Spontan aku langsung berlari secepat Usain Bolt pelari Jamaika menuju rumah.

Emak harus tahu kalau Sutri yang sekarang bukanlah yang dulu. Aku sudah mulai merasa sombong. Aku ingin menunjukkan kepada Emak kalau kali ini aku sebahu dengan si Samsuri.

***

“Emak, Emak, Mak!” Teriakku sambil mencarinya di rumah.

"Tidak ada, ada di kebun, tebas rumput." Kata bibik dari teras rumahnya.

"Memangnya ada apa kok teriak-teriak?"

Aku tak merespon pertanyaan bibik karena kabar baik ini Emaklah yang harus tahu pertama kali. Aku bergegas berlari ke belakang rumah mencari Emak di kebun karet

Emak harus memelihara kebun peninggalan kakek sendiri setelah ayahku meninggalkan kami sejak umurku delapan bulan.

"Mak, aku dapat delapan!" Teriakku.

Tidak ada jawaban sama sekali sepertinya tidak ada orang, aku terus berlari lagi mencarinya ke arah timur.

"Mak!" Teriakku sambil mencarinya.

"Oi, kenapa teriak-teriak, ganggu orang kerja saja" ujar Emak sambil menebas rumput.

"Aku dapat delapan mak, bahasa Indonesiaku dapat delapan, Mak." Napasku terengah-engah.

"His, masa? Hebat dong, coba saya lihat!" Kata Emak.

Emak terkejut dengan berita ini, aku sendiri heran apalagi Emak. Ia langsung berbalik badan dan berdiri ingin memastikan hasil ujianku.

Kudekati ia, menelusup di semak-semak membawa secarik kertas naskah soal yang kugulung di tangan kiriku.

"Ini, dapat delapan aku Mak," sambil menyodorkan hasil ujianku.

Emak meletakkan parang yang ia pegang lalu mengecek hasil ujianku.

Aku yakin Emak akan puas dengan hasil ini, gumamku, dan cerita kebodohanku akan tamat. Hatiku berbunga-bunga bahagia tiada tara.

Tiba-tiba saja Emak tertawa.

Pasti Emak bahagia, “Bagimana, delapan kan?” tanyaku. Aku pun ikut tertawa.

"Bukan dapat delapan, tapi betulnya delapan. Nilainya di bawah, bukan yang di atas ini cong." Ujar Emak.

"Terus dapat berapa, Mak?" Tanyaku.

"Dapat dua puluh." Tegas Emak sambil memoncongkan mulutnya kepadaku

"Hah, dapat dua puluh, berarti banyak, Mak?” Jawabku.

Spontan Emak menjentik kepalaku, “Dua puluh sama dengan dua.” Kata Emak sambil memelototiku.

Aku melengo kaget bercampur malu seraya menggarut-garut bagian belakang kepalaku. Aku segera berlari kabur meninggalkan Emak, khawatir dibogem.

Emak hanya tamatan SD di sekolah yang sama denganku. Ia bisa menghitung walaupun tak sehebat aku yang sekarang. Ia tak melanjutkan pendidikannya karena harus menikah dengan ayahku.

Meskipun begitu, cita-cita Emak untukku sangatlah tinggi. Ia tak mau melihatku hanya tamat sekolah dasar seperti anak-anak di kampungku, terbukti aku adalah sarjana pertama sekaligus masih dalam proses pascasarjana di salah satu perguruan tinggi di kota Malang. Kesuksesan seorang anak itu, bukanlah keberhasilannya tapi keberhasilan orang tuanya.

Setidaknya aku bisa membuat Emak tertawa meskipun itu palsu.