Sepeda Tua itu yang setia, Sepeda Tua itu yang selalu ada, Setiap langkah dalam menggapai cita-cita dia selalu ada. Warna nya Merah, membakar semangat untuk melangkah.

  Pada suatu ketika aku melangkah ke kota istimewa, hatiku penuh suka cita, karena pintu masa depan terbuka dengan asa yang membara. Hari pertama aku pergi kesekolah, aku melihat di sepanjang jalan di kota istimewa ini banyak yang memakai sepeda tua.  Ada  sepeda dari zaman penjajah, ada pula yang berasal dari Eropa dan china.

     Wahai sepeda tua akan kah suatu hari kita melangkah bersama? Pada suatu ketika aku pergi ke tempat penjualan sepeda tua, banyak yang nampak menyilaukan mata, dan memenjarakan hasrat ingin memilikinya.  satu hal yang terbersit di dalam jiwa, manakah yang pantas aku miliki? Sepeda tua itu istimewa, dan harganya juga istimewa.

    Sepeda Yang paling murah berharga delapan ratus ribu rupiah, akan tetapi, uang yang aku miliki hanya dua ratus ribu rupiah. aku berusaha mengumpulkan uang untuk membeli sepeda tua. Aku seorang siswa yang tak punya banyak uang yang dikirim dari orang tua. aku berkeinginan menabung dan mulai berjualan makanan seadanya.

    Pada suatu pagi aku membawa uang yang ada yaitu, dua ratus ribu rupiah, aku pergi ke pasar yang berada di pinggir jalan kota. aku masuk ke dalam lingkungan pasar yang masih tradisional. Aku melihat, banyak orang yang melakukan transaksi jual beli disana. Ada ibu-ibu tua yang berjualan sarapan pagi khas yogya, ada bapak-tua yang berjualan beras dan kebutuhan sembako lainnya.

    Aku mulai mencari, apa yang pantas aku jadikan peluang usaha, lalu kemudian aku teringat pada temen satu kost ku, ia paling suka makan tahu tuna. Terbesit dalam pikiran ku apakah aku mencoba berjualan tahu tuna saja?

    Aku mulai melangkah ke arah penjual tahu, aku bertanya kepada seorang ibu paruh bayah Ibu Yanti namanya. Niki pinten buk harga ne tahu goreng sak bungkus?, Bu Yanti “Niki tahu ne sing isi 10, hargane 5 ribu, sing isi 20 hargane 10 ribu mas”. Saya “ enggeh buk, Kulo tumbas sing isi 20, 3 bungkus nggeh buk” dengan uang 30 ribu rupiah, saya dapat 60 buah tahu goreng.

    Lalu saya melangkah mencari bahan pelengkap tahu tuna lainnya. Saya mencari ikan tuna, telur, tepung terigu, bumbu dan daun bawang. Semua bahan telah saya beli dengan biaya lebih kurang 100 ribu rupiah. Saya kembali ke kost tempat saya tinggal.

   Saya mulai membuka handphone saya, saya mencari tetorial cara membuat tahu tuna di YouTube. Setelah mencari beberapa menit saya menemukan cara bagaimana membuat tahu tuna, saya pelajari dan pahami lalu saya mulai membuat tahu tuna dengan niat untuk bisa membeli sepeda tua.

     Alhamdulillah saya berhasil membuat tahu tuna, teman satu kost saya lah yang menjadi bahan uji coba tahu tuna saya, saya ketuk pintu kostnya dengan membawa 5 buah tahu tuna. Temen saya  Eko namanya, saya mengketuk pintu kamarnya, saya”

    Asalammualaikum ko...ko...ko,” Eko “opo dab? “Dab” adalah bahasa gaul anak  Yogya untuk memanggil teman akrabnya. Saya “buka dulu pintune dab”. Eko lalu membuka pintu kamarnya. Eko “wahhh, makanan ini, tau aja kalau aku laper hehehe”. Saya “wes di coba dulu dab”. Buat sendiri atau beli ini dab ? Tanya Eko. Buat sendiri lah dab.

     Eko pun mulai mencoba tahu tuna yang aku bikin. Eko “ wah enak Iki dab, pinter masak juga kamu ternyata” ucap Eko sambil tertawa. Alhamdulillah aku senang mendengar respon dari pecinta tahu tuna satu ini. Lalu aku mulai bertanya pada Eko. Saya “ piye dab kalau aku jualan tahu tuna seperti ini laku ngak ya kira-kira? “Wahhh mantap kui dab, pasti laris manis aku jamin” nanti aku bantu jual tenang saja ucap Eko.

      Mendengar respon Eko ini aku pun langsung bergegas menuju dapur untuk membuat tahu tuna lagi dengan bahan yang telah aku beli di pasar tradisional di pagi hari. Aku membuat 60 buah tahu tuna. Ketika tahu tuna ini telah matang aku membawanya kesekolah, sesampainya di sekolah aku menawarkan tahu tuna ini kepada teman dan guru-guru di sekolah.

    Alhamdulillah semua teman dan guruku suka dan tahu tuna yang saya bawa di hari itu habis semua. Satu Tahu tuna saya jual dengan harga 2 ribu rupiah, dengan biaya produksi 100 ribu rupiah untuk 60 buah tahu tuna saya jual satu tahu tuna 2 ribu maka ke untungan saya pada hari itu sebesar 20 ribu rupiah.

     Ke esokan harinya dan seterusnya saya menjual tahu dengan jumlah yang sama Alhamdulillah semua habis. Lebih kurang selama satu bulan saya berjualan tahu tuna Alhamdulillah saya bisa membeli sepeda tua yang saya inginkan.

  Hatiku teramat senang dengan hanya berjualan tahu tuna di sekolah aku bisa membeli sepeda tua yang aku dambakan. Sepeda tua itu setia setiap hari menemaniku pergi kesekolah, dan berjualan tahu tuna. Aku mensyukuri nikmat Tuhan yang diberikan kepada ku dengan modal niat yang kuat aku bisa meraih cita-cita ku.

     Aku pun memasuki tahun terakhir sekolah aku lulus dengan predikat baik aku lulus sekolah dan bersiap meninggalkan kota Yogyakarta. Sepeda tua pun harus aku relakan mencari pemiliknya yang baru.

    Terimakasih Sepeda tua yang menemaniku selama di kota istimewa penuh cerita ku lalui bersamamu. dengan sepeda tua aku mencari ilmu, dengan sepeda tua aku mencari nafkah, dengan sepeda tua aku meraih cinta.